Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Bab 12 Jejak Sunyi Macan Tutul (T.686)

Pagi di hutan Meru Betiri datang perlahan. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan tinggi, sementara sinar matahari pagi menyelinap lembut dari sela-sela daun. Udara terasa sejuk dan segar, membuat Zahira menarik napas panjang.

“Rasanya hutan pagi ini berbeda,” kata Zahira pelan.

Fathir mengangguk.

“Lebih tenang, tapi juga bikin merinding.”

Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalur sempit yang dipenuhi daun kering. Suara langkah kaki mereka terdengar jelas di tengah sunyi. Nabil berusaha berjalan setenang mungkin, meski sesekali hampir terpeleset.

“Tolong ingat,” bisik Nisa,

“Pagi hari adalah waktu banyak satwa aktif.”

Afif mengangkat jempol.

“Siap, Profesor Hutan.”

Nisa tersenyum kecil, tapi tetap fokus memperhatikan sekitar.

Tiba-tiba, Zahira berhenti. Matanya tertuju pada tanah lembap di depan mereka.

“Tunggu dulu,” katanya tegas.

Semua langsung berkumpul. Di tanah yang masih basah tampak jejak kaki besar, bulat, dengan bekas cakar samar yang jelas terlihat.

“Itu jejak apa?” tanya Bagas dengan suara hati-hati.

Nisa berjongkok dan mengamati lebih dekat.

“Ini jejak macan tutul.”

Fathir spontan menarik napas panjang.

“Macan tutul? Yang itu?”

“Iya,” jawab Nisa.

“Satwa dilindungi dan sangat penting bagi keseimbangan hutan.”

Nabil menelan ludah.

“Berarti dia… masih ada di sini?”

“Belum tentu dekat,” jawab Zahira tenang, meski jantungnya berdebar.

“Tapi kita harus ekstra hati-hati.”

Mereka berdiri diam sejenak. Tak ada yang berani bersuara keras. Angin berhembus pelan, menggerakkan daun-daun, seolah hutan ikut mengamati mereka.

Afif berbisik,

“Aku ingin melihatnya, tapi dari jauh saja.”

Bagas menggeleng pelan.

“Lebih baik kita tidak mencarinya.”

Zahira mengangguk setuju.

“Macan tutul bukan untuk ditonton. Dia penjaga hutan.”

Nisa menambahkan,

“Kalau macan tutul masih hidup di sini, berarti hutan Meru Betiri masih sehat.”

Kata-kata itu membuat semua terdiam. Mereka baru menyadari betapa pentingnya makhluk yang jejaknya sedang mereka lihat.

“Jejak ini seperti pesan,” ujar Zahira pelan.

“Bahwa hutan ini bukan milik manusia saja.”

Fathir menatap jejak itu lama.

“Aku takut… tapi juga bangga bisa berada di sini.”

Zahira tersenyum pada kakaknya.

“Takut itu wajar. Yang penting kita tetap menghormati.”

Mereka sepakat tidak mengikuti jejak tersebut. Zahira mencatatnya di buku pengamatan, sementara Nisa menggambar bentuk jejak dengan teliti.

“Kita cukup menjadi saksi,” kata Bagas.

“Bukan pengganggu.”

Sebelum melangkah pergi, Zahira menoleh sekali lagi ke arah jejak itu. Angin perlahan meniup daun kering, menutupi bekas tapak macan tutul sedikit demi sedikit.

“Hutan menyimpan rahasianya sendiri,” gumam Zahira.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah lebih pelan dan hati lebih sadar. Jejak macan tutul mungkin menghilang, tetapi pesan tentang keseimbangan, keberanian, dan tanggung jawab menjaga alam akan

=================================================================

Garahan, 31 Desember 2025 / Rabu, 10 Rajab 1447 H, 12.09 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post