Episode 2 Langkah Pertama di Meru Betiri (675)
Langkah kaki Zahira dan teman-temannya perlahan memasuki kawasan Hutan Meru Betiri dari arah Utara yaitu Desa Andongrejo Tempurejo . Desa ini memiliki akses menuju Bandealit dan menjadi salah satu desa percontohan ekowisata yang bekerja sama dengan pihak Taman Nasional. Cahaya matahari mulai tersaring oleh dedaunan lebat, membuat suasana terasa teduh dan sedikit misterius. Suara serangga bersahut-sahutan, berpadu dengan desir angin yang menggerakkan ranting-ranting pohon.

“Wow… hutannya lebih lebat dari yang aku bayangkan,” bisik Afif sambil menoleh ke kanan dan kiri, dan Afif baru pertama kali masuk hutan.
“Iya,” sahut Zahira kagum.
“Rasanya seperti masuk dunia lain.”
Fathir berjalan agak di belakang. Tangannya sesekali menggenggam tali ransel Zahira. Zahira mengetahui hal itu tersenyum sendiri melihat tingkah laku kakaknya yang penakut.
“Kita jangan terlalu jauh ya,” katanya pelan, suaranya terdengar tegang.
Nisa menghentikan langkahnya.
“Tenang, Kak Fathir. Kita masih di jalur aman. Lagi pula, kita ke sini untuk belajar, bukan sembarangan.”

Bagas mengangguk sambil menunjuk tanah.
“Lihat… bekas tapak kaki.”
Semua langsung berkumpul. Di tanah lembap terlihat jejak besar yang samar.
“Waduh, itu apa?” tanya Nabil setengah berbisik, setengah bercanda.
“Tenang,” kata Zahira mantap.
“Kita cukup mengamati. Jangan menyentuh apa pun.”
Mereka kembali berjalan. Sesekali Zahira berhenti untuk memperhatikan tumbuhan yang bentuknya unik. Daun lebar, akar menjalar, dan batang pohon tinggi membuatnya semakin yakin bahwa hutan ini sangat berharga.
“Ternyata hutan itu seperti rumah besar,” ujar Zahira. “Rumah siapa?” tanya Afif. “Rumah hewan, tumbuhan, dan juga masa depan kita,” jawab Zahira serius.
Nisa tersenyum.
“Kata-katamu seperti penulis buku, Zahira.”

Tak lama kemudian, suara kepakan sayap terdengar dari atas. Seekor burung besar terbang melintas.
“Itu elang!” seru Afif. “Elang Jawa,” tambah Nisa cepat sambil mencatat.
“Satwa dilindungi.”
Fathir mendongak dengan mata membesar.
“Indah sekali tapi juga menakutkan.”
“Bukan menakutkan, Kak,” ujar Zahira lembut.
“Mereka hanya hidup di rumahnya.”

Mereka berhenti di sebuah tanah lapang kecil. Angin berhembus pelan, membuat suasana terasa damai. Zahira duduk di atas batu, menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk takjub, senang, dan juga waspada.
“Mulai sekarang,” kata Zahira,
“Kita harus lebih hati-hati. Satu langkah kita bisa berarti banyak bagi hutan ini.”
Bagas tersenyum kecil.
“Berarti… langkah pertama ini penting.”
“Iya,” jawab Zahira mantap.
“Ini langkah awal kita menjaga alam.”
Di tempat itu, mereka menyadari bahwa masuk ke hutan bukan hanya soal keberanian, tetapi juga tentang tanggung jawab. Meru Betiri bukan sekadar tempat petualangan, melainkan amanah yang harus dijaga bersama.
Dan pagi itu, langkah pertama mereka telah mengubah cara pandang mereka tentang alam.
===================================================================
Garahan, 20 Desember 2025 / Sabtu, 29 Jumadil Akhir 1447 H, 07.56 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
