Episode 21 Hadiah untuk Bapak (T.653)
Hari Sabtu pagi yang cerah, Rumah Gilang yang berada di pinggiran sawah, dari kejayhan hutan pinus berjajar rapi dengan pegunungan gumitir yang gagah. Kupu-kupu dan capung beterbangan di halaman rumahnya yang tidak begitu luas, Kicauan burung menambah harmonis alam yang syahdu. Gilang bangun lebih awal dari biasanya. Ia merapikan rambut, mengenakan seragam pramuka lengkap dengan topinya, Terselip amplop putih di tasnya dengan tulisan yang cukup rapi.”Untuk bapak, Orang yang Selalu Aku Banggakan.”
Di balik kelambu dapur usang, Ibunya memperhatikannya sambil tersenyum. Hari ini ibunya tidak menjaga warung nasi karena menemani Gilang dan suaminya ke Madrasah.
“Gilang sudah siap?” tanyanya sambil meletakkan singkong goreng di piring.
Gilang mengangguk:
“Bu… hari ini ada acara penyerahan penghargaan di madrasah. Gilang mau member sesuatu ke bapaka nanti malam.”
Ibunya tersenyum, meski matanya berkaca-kaca,
“Bapak pasti bangga sekali.”

Gilang mengangguk
Di madrasah, Kelas 5 dan kelas 4 yang menyatu yang dekat dengan papan kayu sudah dihiasi rapi dengan dekorasi, tanaman hias menghias depan panggung yang sederhana. Di panggung kecil tergantung banner dengan tulisan besar:
AJANG PENGHARGAAN KARYA ANAK MADRASAH
“Cerita Tentang Pahlawan”
Ibu Rohmah hari itu sebagai pembawa acara, membuka acara dengan suara yang hangat dan renyah.

“Assalamualaikum wa rohmatullahi wa barokatuh, Anak-anak hebat, hari ini bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi tentang keberanian kalian menulis perasaan dengan jujur.”
Beberapa siswa dipanggil ke panggung menerima penghargaan berupa tropi dan sertifikat. Lalu, nama yang ditunggu-tunggu dipanggil:
“Juara pertama Lomba menulis cerita adalah Gilang Prasetyo!”
Dalam ruangan kelas terdengar gemuruh tepuk tangan.
Gilang maju pelan, ia menunduk hormat saat menerima Tropi, piagam dan hadiah berupa buku tulis tebal dengan sambil bergambar penas emas. Akan tetapi setelah itu, ia tidak langsung kembali duduk. Ia meminta kepada Ibu Rohmah untuk meminjam mikrofon. Ibu Rohmah memberi mikrofon kepada Gilang. Ia mengambil napas panjang sambil memegang mikrofon.

“A-anu… Bu Rohmah,” suaranya bergetar terbata-bata.
“Bolehkah saya membaca sedikit bagian dari cerita saya?”
Bu Rohmah tersenyum bangga,
“Silakan, Gilang. Panggung ini milikmu.”
Gilang membuka lembaran tulisannya. Ruangan mendadak hening.
“Bapak pernah jauh dariku. Bekerja keras untuk keluarga,” suaranya mulai serak.
“Gilang dulu tidak mengerti… Gilang hanya merasa ditinggalkan. Tapi sekarang aku tahu, bapak adalah pahlawan yang tidak memakai jubah, tidak membawa pedang akan tetapi membawa doa dan keringat.”
Bapak Gilang hanya menatap anaknya yang berada di panggung. Ia tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Gilang namun ia mempunyai hati nurani yang mengatakan bahwa Gilang memujinya.
Gilang melanjutkan, air matanya mulai mengalir.
“Bapak sakit karena terlalu lelah bekerja. Tapi bapak tetap berkata: ‘Aku baik-baik saja dengan bahasa isyaratmu’ Gilang belajar dan memahami bahwa cinta tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata. Kadang cinta datang dalam bentuk keberanian untuk tetap bertahan.”
Beberapa orang tua ikut mengusap mata. Bu Rohmah menahan haru.
Gilang menutup halaman tulisan terakhir. “Terima kasih, Bapak karena kau tidak pernah menyerah. Gilang ingin menjadi guru, supaya bisa membantu anak-anak lain seperti Bu Rohmah membantu aku.”
Ruangan kembali pecah dengan tepuk tangan panjang dan meriah.
Bapaknya tetap duduk dan masih menatap Gilang, Gilang berjalan pelan ke arah bapaknya. Tanpa bicara apa pun, ia memeluknya erat. Pelukan yang hangat, penuh syukur, penuh cinta.
Dengan suara kecil, Gilang menggunakan bahasa isyarat dengan tangannya dan mulutnya,
“Gilang bangga pada bapak.”
Di rumah malamnya, setelah makan bersama, Gilang menyerahkan amplop putih itu.
“Bapak, ini hadiah kecil dari Gilang.” Jari telunjuk Gilang memberi isyarat menunjuk ke amplop kemudian menunjuk ke bapaknya, Bapaknya mengangguk pertanda mengerti apa yang disampaikan oleh Gilang ankanya.
Bapaknya membuka. Di dalamnya ada foto Gilang sedang menerima penghargaan dan kalimat sederhana:
“Bapak adalah alasanku menjadi lebih baik.”
Bapaknya walau tuna rungu dan wicara akan tetapi dia bisa membaca seperti layaknya orang normal, bisa bersuara tapi tidk jelas. Bapaknya memeluk Gilang lagi. Kedua tangan bapak Gilang dengan jarinya ke bawah, kedua telapak tangannya disatukan ke dadanya dan melebarkan tangannya membentuk lingkaran. Kalau diterjemahkan oleh Gilang seperti ini: “Hari ini, Bapak merasa menjadi Bapak paling bahagia di dunia.”
Gilang tersenyum, hatinya penuh cahaya.
Dan malam itu, langit Garahan seperti lebih cerah dari biasanya. Bintang-bintang seakan ikut merayakan lahirnya satu mimpi baru mimpi seorang anak yang tumbuh dengan cinta, pengorbanan, dan doa orang tua.
=================================================================
Garahan, 08 Desember 2025 / Senin, 17 Jumadil Akhir 1447 H, 07.00 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
