Episode 25 Warung Ibu yang Ramai (T.658)
Sore itu, warung kecil di pinggir jalan tanah desa Garahan tiba-tiba jadi tempat paling ramai.
Sebuah warung biasa, atap genteng, dinding anyaman bambu, meja-meja kayu bekas, dan papan tulis kecil bertuliskan “WARUNG NASI IBU MISJA” akan tetapi sejak cerita Gilang juara satu lomba kabupaten menyebar, orang-orang mulai datang bukan cuma untuk makan, tapi untuk melihat “ibu pahlawan” yang diceritakan anaknya. Ibu Gilang hanya sebagai pelayan memasak dan melayani pelanggan, belum punya modal untuk membuat warung nasi, Ibu Misja pemilik warung nasi itu.
“Ibu Gilang yang juara lomba itu di sini ya, Bu?” Salah satu langganan yang baru datang yaitu Ibu Yuni.

“Iya, Mbak… anakku yang nulis tentang bapaknya, eh malah ibunya juga ikut terkenal,” jawab Ibu sambil tertawa malu-malu, mengenakan daster bunga-bunga dan jilbab putih lusuh yang selalu rapi.
Di depan tungku, Ibu tetap sibuk menggoreng tempe, menumis kangkung, dan mengaduk sambal bawang yang baunya sampai ke ujung kampung. Tapi kini tangannya tak sendiri lagi.
Gilang, yang biasanya langsung pulang kelereng, kini ikut membantu, menyapu lantai, mengantar piring, bahkan kadang jadi kasir kecil dengan kotak pensil bekas.
“Gilang, tolong ambilin sambal ya, Nak!”
“Iya, Bu!” Gilang berlari kecil, kopiahnya masih dipakai meski sudah sore.
Para pembeli bukan cuma warga desa. Ada guru-guru dari MI Al-Amin, Orang yang datang dari Pasar sayur dan pasar hewan, bahkan beberapa wartawan koran lokal yang datang untuk wawancara singkat.
“Bu Sri, resep sambalnya apa sih kok enak banget?”
“Ah biasa aja, Mbak… cuma bawang, cabe, garam, sama terasi bakar. Tapi mungkin karena dimasak sambil doain anak-anak sekolah,” jawab Ibu sambil tersenyum lebar, wajahnya penuh tepung tempe.
Suatu sore, datang rombongan anak-anak pramuka dari MI lain. Mereka turun dari truk kecil, langsung menuju warung.
“Bu, kami mau pesan 30 nasi jagung lauk telur ceplok sama tempe mendoan!”
“Alhamdulillah Ya Allah banyak sekali! Sabar ya, Nak, Ibu masakin satu-satu.”

Gilang yang sedang menyapu langsung melotot senang.
“Bu, biar Gilang bantu goreng telurnya!”
Malam harinya, warung masih ramai. Lampu dop digantung dua biji supaya lebih terang. Ibu Misja sejak tadi berada di meja kasir yang sederhana dan Bapak membantu Ibu Misja duduk di bangku kecil sambil menghitung uang receh di kotak rokok bekas, sesekali tersenyum lebar melihat istrinya yang tak henti-hentinya tersenyum melayani pembeli.
Tiba-tiba ada suara anak kecil dari luar:
“Bu Gilang, ini dari kami terima kasih ya masakannya enak dan selalu ramah!”
Ibu menoleh. Sepuluh anak kecil berdiri di depan warung, membawa kertas karton besar bertuliskan:
TERIMA KASIH BU GILANG IBU PAHLAWAN YANG SELALU MENYENYUMKAN PERUT KAMI
Di bawahnya ada gambar crayon, warung kecil, ibu berjilbab putih, dan tulisan “Gilang Juara 1”.
Ibu Gilang langsung menutup mulut, matanya berkaca-kaca.
Gilang lari memeluk ibunya dari samping.

“Bu, sekarang Ibu juga terkenal kayak Bapak!” bisik Gilang sambil tertawa.
Ibu mengusap air matanya, lalu tertawa lebar.
“Ya Tuhan… cuma nasi jagung sama sambal bawang kok bisa bikin orang segini senangnya…”
Bapak yang duduk di pojok hanya mengangguk-angguk, matanya ikut basah.
Di warung kecil yang tadinya sepi, kini selalu ramai. Bukan karena masakannya paling mewah, tapi karena di sana ada ibu yang memasak dengan doa, dan anak yang membuat semua orang tahu, kehangatan keluarga bisa lahir dari hal-hal paling sederhana, Ibu Misja pun juga tersenyum karena hari ini banyak pesanan dan pelanggan baru. Di warung Ibu Gilang beres-beres, Ibu Misja menghampirinya:
“Bu Gilang, ini ada rejeki dari saya, ambillah! Alhamdulillah hari ini banyak pesanan, Bersyukur dengan adanya Gilang yang mengharumkan nama desa kita bahkan warung saya ikut terkenal dan laris.”
“Loh bu, biasanya setiap hari minggu saya dapat upah bu, kenapa bayaran saya diberikan hari ini?”
“Saya tadi sudah bilang, hari ini banyak rejeki yang kita dapatkan karena ada Gilang yang mengharumkan nama desa kita, Ayo ambil saja, sebagai bentuk rasa syukur saya, ambillah uang ini tapi uang ini bukan bayaran mingguan melainkan bonus dari saya.”
Ibu Misja memberikan dua lembar uang warna biru ke tangan Ibu Gilang. Dengan wajah malu dan menunduk menerima uang pemberian Ibu Misja.
“Terima kasih bu, saya mohon pamit.” Uang itu diletakkan di dadanya Ibu Gilang, dalam hatinya mengucapkan syukur kepada Allah SWT.
“Iya Bu Gilang.” Ibu Misja menutup warungnya, setelah Ibu Gilang, bapak Gilang dan Gilang hilang di ujung jalan desa.
Malam itu, lampu dop tetap menyala sampai larut, Dan warung Ibu Misja yang ramai jadi saksi, kadang, cinta itu memang paling enak disajikan bersama nasi jagung panas dan sambal bawang.
=================================================================
Garahan, 13 Desember 2025 / Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 H, 08.52 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
