Episode 28 Panggung Literasi Madrasah (T.671)
(Acara Tingkat Kabupaten Jember – Gedung Serbaguna PKK, 15 Desember 2000)
Pagi itu Gedung PKK Jember berubah jadi lautan seragam putih-biru dan hijau pramuka. Ada 1.200 anak madrasah dari 73 MI se-Kabupaten Jember, ditambah ratusan guru dan orang tua. Spanduk besar terbentang di atas panggung:
LITERASI MADRASAH JEMBER 2025 “TULISLAH KISAH PAHLAWANMU”
Di baris paling depan, Gilang duduk kaku. Seragam pramukanya baru dibeli khusus, lencana-lencananya mengkilap, kopiahnya rapi sekali. Di sebelah kirinya: Bapak, memakai kemeja batik lengan panjang warna cokelat yang dipinjam dari Pak Kades, celana bahan hitam, dan sandal kulit terbaiknya. Wajahnya merah padam sejak tadi pagi.
“Pak… Bapak deg-degan ya?” bisik Gilang sambil nyengir dengan bahasa isyaratnya.
Bapak menggaruk-garuk kepala.
“Bapak takut salah ngomong, Nak. Orang sekampung aja jarang Bapak ceramahi…”
Tepat jam 09.00, MC naik panggung.
“Dengan mengucap bismillah, kami persilakan narasumber utama kita hari ini, Gilang Prasetyo dan Bapak Samidin dari MI Al-Amin Garahan!”
Sorak sorai menggema. Gilang menarik tangan Bapak, naik ke panggung bareng.
Di depan mikrofon, Gilang memulai dengan suara yang masih sedikit gemetar:
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh… Saya Gilang, kelas 5. Dua bulan lalu saya menulis cerita berjudul ‘Mimpi di Balik Sapu Bapak’. Cerita itu sekarang sudah dibaca ribuan anak di Jember. Disamping saya adalah bapak saya, Beliau tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar tapi bisa menulis karena bapak saya dulu sekolah di sekolah rakyat. Dialah yang menjadi inspirasi saya untuk membuat cerita. Mohon maaf apabila sekali-kali saya menggunakan bahasa isyarat dengan bapak.”
Para hadirin terdiam terpukau dengan kisah awal Gilang. Bapak makin salah tingkah.
Gilang mempersilahkan bapaknya untuk bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat, Gilang menerjemahkan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan inilah ucapan bapaknya:
“Saya cuma petani biasa. Sawah saya cuma setengah hektar. Kadang panen, kadang gagal. Tapi tiap kali saya pulang capek, lihat Gilang lagi belajar pakai lampu dop… rasanya semua capek itu ilang.”
Bapak menunduk sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin mantap.
“Dulu saya cuma tamat SD. Mimpi saya cuma satu: anak saya sekolah lebih tinggi dari saya. Saya nggak bisa kasih dia sepeda motor, apalagi handphone. Yang bisa saya kasih cuma… sepeda ontel butut sama doa tiap habis salat.”
Tapi ternyata… itu sudah cukup buat dia menulis cerita yang bikin ribuan anak menulis tentang bapak-ibu mereka.”
Bapak menoleh ke Gilang, matanya berkaca-kaca.
“Jadi… buat anak-anak semua yang ada di sini… kalau kalian merasa bapak-ibu kalian biasa aja, tulis aja. Tulis tentang sapu lidi mereka, tentang sepeda ontel mereka, tentang nasi jagung mereka. Karena suatu hari, kalian akan sadar… merekalah pahlawan terhebat yang pernah kalian punya.”
Ruangan hening sesaat. Lalu tepuk tangan menggelegar, berdiri semua.
Gilang memeluk bapaknya di atas panggung, tak peduli ratusan kamera ponsel yang mengabadikan momen itu.
Di baris paling belakang, Bu Rohmah berdiri sambil bertepuk tangan, air matanya mengalir tanpa malu.
Sore harinya, saat pulang naik bus yang sama, Gilang memeluk lengan Bapak erat-erat.
“Pak… tadi Bapak keren banget.”
Bapak cuma nyengir, lalu mengusap kepala anaknya.
“Besok Bapak balik nyangkul sawah lagi, Nak. Tapi mulai sekarang… Bapak nyangkul sambil senyum. Karena Bapak tahu… ada anak yang bangga sama Bapak yang cuma petani.”
Di luar jendela bus, sawah-sawah hijau berlalu cepat. Dan di dalam hati Gilang, ada satu kalimat baru yang ingin ia tulis suatu hari nanti:
Panggung terbesar bukan di gedung megah, tapi di hati anak yang akhirnya mengerti bahwa cinta terdalam sering datang dari orang yang paling sederhana.
=================================================================
Garahan, 16 Desember 2025 / Selasa, 25 Jumadil Akhir 1447 H, 17.31 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
