Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 29 Bapak dan Ibu di Barisan Depan (T.672)

Episode 29 Bapak dan Ibu di Barisan Depan (T.672)

Tiga tahun berlalu sejak panggung literasi di Gedung PKK itu. Hari ini, 9 Desember 2002, aula MI Al-Amin Garahan kembali ramai, tapi kali ini lebih istimewa.

Spanduk besar terbentang di depan panggung:

WISUDA AKHIRUS SANAH & PELEPASAN KELAS 6 MI AL-AMIN GARAHAN “Terbanglah, Sayap-Sayap Mimpi Kami”

Ada 42 anak kelas 6 yang akan dilepas. Yang paling depan, nomor absen 01: Gilang Prasetyo, ketua kelas sekaligus lulusan terbaik.

Di barisan orang tua, tempat paling tengah, duduk dua orang yang tak pernah absen dari setiap acara Madrasah Gilang, Bapak, kini berusia 48 tahun, memakai kemeja batik cokelat yang sama seperti tiga tahun lalu (masih muat, katanya), tapi kali ini lengkap dengan peci hitam baru. Ibu, jilbab putihnya sudah agak tipis karena sering dicuci, tapi tersenyum lebar sambil memegang sapu tangan usang menahan rasa harunya.

Mereka duduk di barisan depan, tempat khusus yang diberi papan nama: “ORANG TUA SISWA TELADAN BAPAK Samidin & IBU Sri”

Gilang naik ke panggung sebagai perwakilan wisudawan. Dengan memakai baju toga naik ke atas panggung dengan senyuman khasnya.

Ia memegang mikrofon, menarik napas dalam, lalu menatap lurus ke barisan depan.

“Yang terhormat Bapak Kepala Madrasah, para guru yang saya sayangi, teman-teman seperjuangan dan Bapak sama Ibu yang duduk di barisan paling depan, yang dari dulu selalu jadi penonton setia setiap Gilang naik panggung…”

Tawa kecil terdengar dari seluruh aula.

“Hari ini saya tidak mau bicara panjang. Saya cuma mau bilang satu hal,semua mimpi yang saya tulis di kertas kuning bertahun-tahun lalu, hari ini terasa sudah setengah jalan.

Saya akan lanjut ke MTs favorit di kota. Saya akan terus menulis. Dan suatu hari, saya akan jadi guru, seperti yang pernah saya janjikan pada diri sendiri dan pada Bapak-Ibu.”

Gilang menunduk sebentar, suaranya mulai bergetar.

“Dulu Bapak cuma bisa bonceng saya pakai sepeda ontel butut. Ibu cuma bisa kasih bekal nasi jagung sama telur dadar. Tapi dari situlah saya belajar, mimpi yang paling kuat justru lahir dari hal-hal yang paling sederhana.

Jadi… terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu. Kalian selalu duduk di barisan depan setiap Gilang tampil, dan mulai hari ini, Gilang janji akan selalu menempatkan kalian di barisan depan hidup saya, selamanya.”

Ruang hening sesaat.

Lalu seluruh anak kelas 6 berdiri serentak, berbalik menghadap orang tua, dan bersama-sama membungkuk dalam-dalam sambil berseru:

“TERIMA KASIH BAPAK IBU!”

Tepuk tangan dan isak haru memenuhi aula.

Bapak menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya naik-turun. Ibu menangis sambil tersenyum, memeluk tas kainnya erat-erat.

Bu Rohmah naik ke panggung, memeluk Gilang dari samping, lalu berbisik:

“Nak… lihat bapak-ibu kamu. Mereka bangga sekali hari ini.”

Gilang mengangguk, air matanya akhirnya jatuh juga.

Di barisan depan, Bapak dan Ibu Gilang duduk dengan kepala tegak, mata basah, tapi senyumnya lebih lebar dari biasanya.

Hari itu, mereka tak lagi cuma penonton setia. Mereka adalah alasan utama mengapa seorang anak kecil dari pinggir sawah bisa berdiri di panggung, dengan mimpi yang kini sudah punya sayap.

=================================================================

Garahan, 17 Desember 2025 / Rabu, 26 Jumadil Akhir 1447, 08.32 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post