Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 3 Pohon Aneh di Tengah Rimba (T677)

Episode 3 Pohon Aneh di Tengah Rimba (T677)

Langkah Zahira tiba-tiba terhenti. Di tengah rimbunnya pepohonan Hutan Meru Betiri, matanya menangkap sesuatu yang berbeda. Sebuah pohon berdiri tegak, lebih tinggi dari pohon-pohon di sekitarnya. Batangnya kokoh dengan warna kecokelatan, sementara daunnya tampak lebih lebar dan mengilap terkena cahaya matahari.

“Teman-teman… tunggu dulu,” ujar Zahira pelan.

Semua berhenti melangkah. Fathir yang berada di belakang langsung mendekat. “Ada apa, Zahira?”

Zahira menunjuk ke arah pohon itu.

“Pohon itu. Aku belum pernah melihatnya.”

Nisa mendekat dengan mata penuh rasa ingin tahu.

“Daunnya memang berbeda,” katanya sambil memperhatikan lebih dekat.

Afif menggaruk kepalanya.

“Besar sekali. Seperti penjaga hutan.”

Bagas berjongkok dan menyentuh tanah di sekitar pohon.

“Tanahnya lebih lembap,” katanya pelan, seolah tak ingin mengganggu ketenangan hutan.

Nabil, yang biasanya suka bercanda, kali ini terdiam.

“Kenapa pohon ini sendirian ya?” tanyanya.

Zahira melangkah perlahan mendekati pohon itu. Ia menengadah, mencoba melihat ujungnya yang tertutup rapat oleh dedaunan. Angin berhembus lembut, membuat daun-daun bergoyang pelan dan menimbulkan suara gesekan yang menenangkan.

“Pohon ini seperti sedang berbicara,” gumam Zahira.

Fathir menelan ludah.

“Berbicara? Jangan bilang kamu dengar suara aneh…”

“Bukan begitu, Kak,” jawab Zahira sambil tersenyum.

“Maksudku, pohon ini seolah menyimpan cerita.”

Nisa segera membuka buku catatannya. Ia membalik beberapa halaman dengan cepat.

“Aku pernah membaca tentang pohon langka yang hanya tumbuh di hutan tertentu,” katanya.

“Langka?” Afif membelalakkan mata.

“Berarti tidak banyak, dong?”

Nisa mengangguk.

“Iya. Kalau sampai hilang, kita tidak bisa melihatnya lagi.”

Zahira menyentuh batang pohon itu dengan hati-hati.

“Kalau begitu, pohon ini harus dijaga.”

Bagas berdiri dan mengangguk setuju.

“Kalau satu pohon hilang, yang lain bisa ikut rusak.”

Fathir memandang sekeliling dengan wajah khawatir.

“Tapi kalau ada orang yang menebangnya?”

Pertanyaan itu membuat suasana hening. Suara serangga kembali terdengar jelas, seolah ikut mendengarkan.

Nabil memecah keheningan.

“Berarti kita harus jadi penjaganya.”

Zahira tersenyum lebar.

“Bukan penjaga yang galak, tapi penjaga yang peduli.”

Afif tertawa kecil.

“Penjaga alam versi anak-anak.”

Mereka berdiri melingkar di bawah pohon aneh itu. Cahaya matahari jatuh tepat di tengah lingkaran, membuat suasana terasa hangat dan penuh harapan.

“Mulai hari ini,” kata Zahira mantap,

“Kita tidak hanya berpetualang. Kita belajar menjaga.”

Nisa menutup bukunya.

“Dan mencatat semuanya.”

Fathir menarik napas dalam-dalam.

“Baiklah… aku ikut, meski sedikit takut.”

Bagas tersenyum tipis.

“Aku juga.”

Nabil mengangkat tangan.

“Aku janji tidak jahil dulu.”

Mereka tertawa bersama. Pohon aneh itu tetap berdiri diam, seolah tersenyum melihat tekad anak-anak pemberani itu.

Tanpa mereka sadari, pertemuan dengan pohon itu menjadi awal dari misi yang lebih besar misi untuk menyelamatkan alam Hutan Meru Betiri.

=================================================================

Garahan, 21 Desember 2025 / Ahad, 1 Rajab 1447 H, 09.08 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post