Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 30 Mimpi yang Terus Menyapu Hati (T.673)

Episode 30 Mimpi yang Terus Menyapu Hati (T.673)

(Lompat waktu 12 tahun kemudian, 2012)

Pagi itu, halaman MI Al-Amin Garahan kembali ramai. Spanduk baru terpasang di gerbang:

PELEPASAN KELAS 6 TAHUN AJARAN 2002–2012 Tema: “Mimpi Kecil yang Menjadi Besar”

Di panggung kecil yang sama, yang dulu terbuat dari kayu bekas, kini sudah diganti yang lebih kokoh, berdiri seorang pemuda berusia 24 tahun. Seragam guru pramuka cokelatnya rapi, lencana “GURU KELAS 6A” terpasang di dada kiri, kopiah hitamnya masih sama seperti dulu, hanya sedikit lebih besar.

Nama di papan nama: USTADZ GILANG PRASETYO, S.Pd.

Di barisan depan, dua kursi khusus sudah disiapkan. Duduk di sana: Bapak Samidin, kini 60 tahun, rambutnya sudah memutih separuh, tangannya masih kasar karena cangkul, tapi matanya berbinar. Ibu Sri, jilbab putihnya masih sama, hanya sedikit lebih tipis, tapi senyumnya tak pernah pudar.

Gilang memegang mikrofon, tersenyum ke arah mereka dulu sebelum bicara.

“Anak-anak kelas 6A… Hari ini kalian akan dilepas. Tapi sebelum kalian pergi, saya mau cerita satu hal terakhir.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam.

“Dua belas tahun lalu, saya pernah berdiri di panggung ini sebagai anak kelas 6. Saya janji sama diri sendiri, dan sama Bapak-Ibu saya yang duduk di barisan depan, bahwa saya akan terus belajar, dan akan pulang membahagiakan mereka.

Hari ini saya berdiri lagi di panggung yang sama, tapi kali ini sebagai guru kalian. Dan Bapak-Ibu saya masih duduk di tempat yang sama. Barisan depan.”

Gilang menoleh ke arah mereka. Bapak tersenyum, matanya basah. Ibu sudah menangis dari tadi, tapi tetap mengacungkan jempol.

“Saya berhasil masuk PTN, lulus cum laude, dan sekarang mengajar di madrasah tempat saya dulu belajar. Tapi yang paling saya banggakan bukan itu.

Yang paling saya banggakan adalah setiap kali saya pulang ke rumah, Bapak masih menyapu halaman dengan sapu lidi yang sudah botak. Ibu masih masak nasi jagung kalau kehabisan beras. Dan setiap kali saya Tanya:

“Bu, capek nggak?”mereka selalu jawab sama:

“Capek sih tapi seneng, karena kamu sudah jadi orang.”

Gilang menunduk, suaranya mulai bergetar.

“Jadi anak-anak… kalau kalian pulang nanti, peluk bapak-ibu kalian. Bilang terima kasih. Dan janji satu hal:

Mimpi kalian boleh besar, tapi jangan pernah lupa bahwa mimpi itu lahir dari sapuan sapu lidi, dari nasi jagung yang ditambah telur dadar, dari doa-doa subuh yang tak pernah putus.

Karena selama kalian terus belajar dan terus berusaha membahagiakan mereka, mimpi itu akan terus hidup. Mimpi itu akan terus menyapu hati kalian, seperti Bapak saya yang masih menyapu halaman sampai hari ini.”

Ruangan hening.

Lalu 42 anak kelas 6A berdiri serentak, berlari ke arah orang tua masing-masing, memeluk erat-erat.

Di barisan depan, Gilang turun dari panggung, berlutut di depan Bapak dan Ibu, lalu memeluk mereka berdua sekaligus.

Bapak mengusap punggung Gilang, bahasa isyaratnya masih terbaca oleh Gilang:

“Nak… Bapak bangga. Bukan karena kamu jadi guru tapi karena kamu tetap jadi anak Bapak yang dulu.”

Ibu cuma bisa mengangguk-angguk, air matanya jatuh ke bahu Gilang.

Di luar, angin siang berhembus pelan. Sapu lidi Bapak masih tergeletak di teras, tapi kali ini sapuannya sudah selesai.

Karena mimpi yang dulu ditanam lewat sapuan itu, hari ini sudah tumbuh menjadi pohon besar, yang terus berbuah, dan terus menyapu hati siapa saja yang membacanya.

Di bawah langit Garahan yang biru, seorang guru muda memeluk orang tuanya, dan berjanji dalam hati:

“Mimpi ini tidak akan pernah selesai, Pak, Bu. Selama napas ini masih ada, saya akan terus belajar, dan terus membahagiakan kalian sampai kapan pun.”

TAMAT

===================================================================

Garahan, 18 Desember 2025 / Kamis, 27 Jumadil Akhir 1447 H, 09.35 H

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post