Episode 4 Nama yang Sulit Diucapkan (T.678)
Angin kembali berembus lembut di bawah pohon besar itu. Zahira masih berdiri sambil menatap batang pohon yang menjulang tinggi. Ia merasa seolah pohon itu sedang memperhatikan mereka.
“Nisa,” panggil Zahira pelan,
“kamu tahu nama pohon ini?”
Nisa yang sejak tadi membuka buku catatannya mengangguk perlahan. Ia mendekat ke batang pohon, lalu membolak-balik halaman bukunya dengan wajah serius.
“Kalau aku tidak salah,” kata Nisa hati-hati,
“Ini adalah pohon Dehaasia pugerensis.”
Semua terdiam sejenak.
“De… apa?” tanya Afif sambil mengernyitkan dahi.
“De-ha-a-si-a… pu-ge-ren-sis,” Nisa mengucapkannya perlahan agar mudah ditiru.
Nabil mencoba menirukan.
“Dehasi… puger… pusing!”
Semua tertawa kecil, termasuk Zahira.

“Namanya memang sulit,” ujar Nisa sambil tersenyum.
“Tapi pohon ini sangat istimewa.”
“Kenapa istimewa?” tanya Zahira penasaran.
Nisa menutup bukunya sejenak.
“Karena pohon ini sangat langka dan hanya bisa tumbuh di tempat tertentu, seperti di kawasan Meru Betiri.”
Fathir menatap sekeliling.
“Berarti tidak banyak ya?”
“Iya,” jawab Nisa.
“Jumlahnya makin sedikit karena hutan tempatnya tumbuh semakin berkurang.”
Zahira menatap pohon itu dengan perasaan berbeda. Kini bukan hanya kagum, tapi juga sedih.
“Kalau pohon ini hilang, hutan ini pasti berubah.”
Bagas mengangguk.

“Hewan-hewan yang bergantung padanya juga bisa kehilangan tempat tinggal.”
Afif menghela napas.
“Aku baru tahu satu pohon bisa sepenting itu.”
Nisa membuka kembali bukunya.
“Pohon ini membantu menjaga tanah tetap kuat dan menyediakan makanan bagi beberapa satwa.”
Nabil menatap batang pohon sambil berkata pelan,
“Berarti dia seperti penolong yang diam-diam.”
Zahira tersenyum.
“Penolong yang tidak pernah minta terima kasih.”
Mereka kembali terdiam, merasakan keteduhan yang diberikan pohon itu. Daun-daunnya bergoyang pelan, seolah menyetujui perkataan Zahira.
“Nama boleh sulit diucapkan,” lanjut Zahira,
“Tapi tugas kita sederhana.”
“Apa itu?” tanya Fathir.
“Menjaga,” jawab Zahira mantap.
Nisa menuliskan sesuatu di bukunya.
“Aku akan mencatat lokasi dan ciri-cirinya.”
Bagas menunjuk ke sekeliling.
“Dan kita pastikan tidak merusak apa pun di sekitar sini.”
Afif tersenyum.
“Tim penjaga pohon langka.”
Nabil mengangkat jempol.
“Siap! Tapi jangan suruh aku menghafal namanya.”
Mereka kembali tertawa. Di bawah pohon Dehaasia pugerensis, anak-anak itu menyadari satu hal penting, Mengenal alam adalah langkah awal untuk mencintainya.
Dan sejak saat itu, pohon dengan nama sulit itu menjadi simbol persahabatan, keberanian, dan kepedulian mereka terhadap hutan Meru Betiri.
=================================================================Garahan, 22 Desember 2025 / Senin, 02 Rajab 1447 H, 15.29 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
