Episode 5 Jejak yang Mencurigakan (T.679)
Setelah cukup lama berada di bawah pohon Dehaasia pugerensis, Zahira mengajak teman-temannya melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan perlahan, menyusuri jalur tanah yang mulai tampak lembap dan sedikit berlumpur.
“Jalannya licin,” kata Fathir sambil berhati-hati melangkah. “Iya, hujan semalam masih menyisakan lumpur,” jawab Nisa.

Tiba-tiba Afif berhenti mendadak.
“Eh… lihat ini!”
Semua langsung mendekat. Di tanah terlihat bekas cekungan besar yang berbeda dari jejak kaki mereka.
“Itu jejak apa?” tanya Nabil dengan suara lebih pelan dari biasanya.
Zahira berjongkok dan memperhatikannya dengan saksama.
“Bukan jejak manusia,” katanya yakin.

Nisa membuka buku catatannya.
“Jejak ini terlalu besar untuk rusa,” ujarnya sambil membandingkan gambar di buku.
Bagas menunjuk bentuk cekungan itu.
“Ada empat… dan dalam.”
Fathir menelan ludah.
“Jangan-jangan… hewan buas.”
Zahira berdiri dan mengangkat tangannya.
“Tenang. Kita tidak panik.”
Afif mengangguk.
“Mungkin ini jejak banteng jawa.”
Nisa mengangguk setuju.
“Bisa jadi. Banteng jawa memang hidup di kawasan Meru Betiri.”

Nabil menghela napas lega.
“Syukurlah… aku kira jejak sepatu raksasa.”
Mereka tertawa kecil, tapi mata Zahira tetap fokus.
“Jejak ini tanda bahwa hutan ini masih hidup,” ujar Zahira.
“Artinya satwa masih ada.”
Bagas menambahkan,
“Tapi juga berarti kita harus lebih berhati-hati.”
Mereka tidak mengikuti jejak itu. Zahira mengingatkan,
“Kita cukup mengamati. Jangan mengejar atau mengganggu.”
Nisa mencatat bentuk jejak dan arah jalannya.
“Ini penting untuk laporan nanti.”
Fathir menatap ke arah pepohonan dengan wajah waspada.
“Aku jadi merasa hutan ini sedang menguji kita.”

Zahira tersenyum.
“Menguji apakah kita bisa menjadi tamu yang baik.”
Angin kembali berhembus, menggerakkan dedaunan. Suara ranting patah terdengar dari kejauhan.
Nabil langsung berbisik,
“Itu apa?”
“Angin,” jawab Afif cepat.
“Atau mungkin bantengnya sedang sarapan.”
Zahira mengajak mereka mundur sedikit ke jalur aman.
“Kita lanjutkan perjalanan dengan tenang.”
Mereka melangkah lebih pelan dari sebelumnya. Setiap suara kini terasa lebih berarti. Namun di balik rasa waspada, ada perasaan bangga karena mereka telah belajar satu hal penting: jejak di hutan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihormati.
Dan hari itu, jejak yang mencurigakan justru mengajarkan mereka arti menjaga jarak demi keselamatan alam dan diri mereka sendiri.
=================================================================
Garahan, 24 Desember 2025 / Rabu, 4 Rajab 1447 H, 12.00 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
