Episode 7 Sungai yang Berbisik (T.681)
Langkah Zahira dan teman-temannya akhirnya terhenti di tepi sebuah sungai kecil. Airnya jernih mengalir pelan di antara bebatuan licin, memantulkan cahaya matahari yang menembus celah pepohonan.
“Wah… airnya bening sekali,” ujar Afif sambil berjongkok.
“Seperti kaca,” tambah Nabil, lalu menahan diri agar tidak melempar batu.
Zahira mengangkat tangan.
“Jangan dulu. Kita harus jaga sungainya.”

Fathir menatap arus air yang mengalir lembut.
“Aku dengar, sungai di hutan ini sumber kehidupan bagi banyak hewan.”
Nisa mengangguk.
“Benar. Air sungai ini dipakai minum oleh satwa seperti banteng Jawa dan macan tutul.”
Mereka terdiam sejenak, mendengarkan suara air yang bergemericik. Bunyi itu seolah berbisik, membawa pesan yang sulit diucapkan dengan kata-kata.
“Kalian dengar?” bisik Bagas.
“Apa?” tanya Zahira.
“Seperti ada suara… bukan suara air saja.”
Mereka menajamkan pendengaran. Di sela gemericik air, terdengar suara halus krik… krik… dan cek… cek….

“Itu serangga air,” kata Nisa.
“Tanda sungai ini masih bersih.”
Zahira tersenyum.
“Berarti kita harus menjaganya.
Nisa menunjuk ke beberapa batu,
“Lihatlah! Ada vegetasi rheophytic!,”
Zahira terbelalak dan bertanya kepada Nisa,
“Apa rheophytic sa?”

Dengan wajah tersenyum, Nisa membuka buka catatannya,
“Rheophytic adalah tanaman yang hidup di daerah aliran sungai berbatu. Tanaman ini berfungsi sebagai penyaring alami. Mereka membantu menangkap sedimen dan material organik yang terbawa arus, sehingga membantu menjaga kejernihan air di bagian hilir seperti yang kita lihat pada sungai ini”

Afif menunjuk ke seberang sungai.
“Tapi jalur kita lewat sana.”
Fathir menelan ludah.
“Arusnya kelihatan tenang, tapi batu-batunya licin.”
Bagas memperhatikan sekitar.
“Ada batang kayu tumbang. Bisa kita jadikan jembatan.”
Dengan hati-hati, mereka menyeberang satu per satu. Zahira melangkah paling depan, memastikan pijakannya aman. Fathir berjalan perlahan, dibantu Afif dan Nabil yang terus menyemangatinya.
“Kak, pelan saja,” kata Zahira.
“Aku mencoba,” jawab Fathir sambil tersenyum tegang.

Setelah semua berhasil menyeberang, mereka bersorak kecil.
“Kita berhasil!” seru Nabil.
Zahira menoleh ke sungai sekali lagi.
“Sungai ini mengajarkan kita untuk sabar dan berhati-hati.”
“Dan bekerja sama,” tambah Bagas.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang hangat. Sungai yang berbisik itu seakan meninggalkan pesan di hati mereka tentang kehidupan, kebersamaan, dan tanggung jawab menjaga alam.
Petualangan masih panjang, dan hutan Meru Betiri masih menyimpan banyak cerita.
===================================================================
Garahan, 26 Desember 2025 / Jum'at, 6 Rajab 1447 H, 08.55 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
