Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
(Masih) Jelajah Literasi Bromo, Menembus Subuh di Penanjakan satu (T.648)

(Masih) Jelajah Literasi Bromo, Menembus Subuh di Penanjakan satu (T.648)

Tiga bis peserta TNGP 2025 terparkir manis di desa Cemoro Lawang Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo setelah menenpuh perjalanan kurang lebih dua setengah jam dari Surabaya tepatnya di BBPMP Surabaya. Satu persatu peserta TNGP turun dari bis masing-masing yang akan mengadakan Jelajah Literasi Bromo. Penjual kaos tangan, slayer, jaket, topi berseliweran menjajakan barangnya. Bagi orang yang berpengalaman berwisata di Bromo akan menawar barang itu separuh dari harga yang ditawarkan.

Setelah setengah jam berlalu, panitia yaitu pihak Travelita selaku agen perjalanan mengumumkan peserta untuk membuat kelompok yang terdiri dari lima orang dalam satu Jeep karena kapasitas Jeep hanya lima orang. Bersama Ibu Juhrowiyah, Fatim, Mimin dan Ibu Hermin berada dalam satu Jeep nomor 9. Sebanyak 33 Jeep menembus malam, pukul 02.00 WIB semua Jeep melaju meninggalkan area parkir menuju Penanjakan satu selama satu jam perjalanan. Selama perjalanan untuk mengusir kantuk, saya bercengkerama dengan sopir Jeep yang mengalami batuk.

Baru kali ini saya naik Jeep ke Bromo, ngeri-ngeri sedap melihat jalan yang menanjak dan menikung tajam tetapi bagi pak sopir, jalan itu bagaikan jalan biasa, kesiapan mesin Jeep sangat diperlukan terutama servis rem. Saat tiba di lautan pasir, keadaan lokasi kabut tebal yang mengganggu pemandangan, mobil Jeep melaju dengan cepat, namun apa yang dikatakan oleh sang sopir,”

Situasi seperti ini sudah biasa pak bahkan kabut tebalpun kita terjang.”

Jika saya jadi sopir gunung Bromo pasti saya mengajukan cuti karena situasi jalan berkabut dan penuh dengan rintangan.

Setelah melewati lautan pasir, semua Jeep mulai memasuki gerbang penanjakan satu, indah dilihat dari kejauhan beriringan, namun tidak seindah yang saya lihat ketika jalan tanjakan begitu ekstrim dan tikungan yang sangat tajam tidak seperti jalan dari area parkir ke lautan pasir. Spot jantung berpacu cepat melihat situasi jalan yang sangat kece badai, berhenti sejenak mobil untuk mengantri karena mobil Jeep lain di depan sedang menikung tajam untuk mengganti gigi satu.

Nampak mobil jeep mulai terparkir di kawasan lemah pasar, saya kira sudah sampai di sunrise point, ternyata masih jauh sekitar lima belas menit lagi untuk sampai tujuan, pelan-pelan Jeep merangkak menjauhi kawasan lemah pasar, beberapa saat kemudian sang sopir mengatakan sudah sampai tujuan namun harus jalan kaki sekitar seratus meter lagi untuk sampai ke sunrise point penanjakan satu. Jika mau memanfaatkan ojek karena tidak kuat naik, tawarlah dengan harga murah, harus sadis ketika ditawari ngojek katanya pak sopir.

Ketika adzan Subuh, posisi sudah berada di Sunrise point, melawan suhu dingin untuk menunaikan sholat subuh bersama Mas ustadz Burhani dari Muaro Jambi, air bagaikan air es yang baru ambil dari kulkas, Subhanaallah luar biasa dinginnya sampai badan gemetaran melawan suhu dingin. Selesai menunaikan Sholat Subuh, kaki melangkah menuju tempat seperti teras yang penuh air berundak-undak, karena situasi masih gelap sehingga tidak mengetahui siapa saja yang ada di tempat ini. Saya bersama Ibu Mimin, Ibu Ju, Ibu Fatim sudah berada di tempat, yang lainnya masih belum diketahui.

Setiap menit kamera HP di arahkan ke arah timur, lukisan alam yang berwarna jingga kekuningan, ditutupi awan yang memanjang, mencari posisi yang tepat agar momen ini jangan dilewati dan disayangkan bila tidak di abadikan. Hingga akhirnya wajah para pengunjung mulai kelihatan termasuk peserta TNGP 2025 yang sumringah menyambut mentari pagi dengan mengabadikannya pada ponsel masing-masing, berfoto bersama teman-teman atau bersama para pengunjung dari luar negeri seperti yang saya lakukan bersama para bule Perancis. Ada juga yang berfoto bersama mas Eko pemimpin redaksi Media Guru, Mas Yasin, mas kacong, mas Roy pokoknya heboh waktu matahari terbit.

Subhanallah pemandangan di Sunrise point begitu menakjubkan, lautan pasir Bromo berubah indah ditutupi kabut yang sangat cantik seperti air terjun, Gunung Batok berdiri gagah bagaikan Gatotkaca mengudara, Cantiknya Kawah gunung Bromo di hiasi asap tebal membumbung tinggi menambah sangarnya pemandangan kala itu. Jauh di Timur sana, Penguasa dataran tinggi pulau Jawa sang Semeru berdiri dengan angkuhnya telah mengeluarkan lavanya beberapa minggu lalu.

Pujian selalu terucap untuk penguasa alam semesta, begitu cantiknya, begitu indahnya, begitu menggoda, begitu memanjakan mata keindahan yang tersaji di depan mata. Dua kali berkunjung ke Bromo hanya berada di kawasan lautan pasir dan yang kedua di seruni point untuk melihat matahari terbit. Alhamdullillah, kali ini saya bersama teman-teman TNGP bisa menikmati indahnya Matahari terbit di Penanjakan satu yang merupakan titik tertinggi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger.

=================================================================

Garahan, 03 Desember 2025 / Rabu, 12 Jumadil Akhir 1447 H, 08.44 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post