Perangko dan Bromo (T.678)
Kisah perjalanan hidup di masa memakai seragam putih abu-abu. Pertama kali menginjak pasir Bromo waktu itu di tahun 1993 pelantikan Pramuka Saka Bhakti Husada. Perjalanan itu, saya tulis di buku diary kecil yang terus dibawa kemanapun saya pergi.
Semua peserta Pramuka Bhakti Husada MAN 2 Jember bertolak dari stasiun kereta api Jember ke stasiun Probolinggo pukul 17.00 WIB, saya sudah lupa berapa orang yang ikut rombongan. Hanya kak Holik pembina Pramuka Saka Bhakti Husada kala itu.
Untuk menempuh dan pelantikan Pramuka Saka Bhakti Husada harus mengarungi beberapa tahap yang pertama ada penempuhan SKU Pramuka di dalam kereta api, jika tidak memenuhi syarat maka harus berlari dari gerbong pertama sampai terakhir, maklumlah kereta api tahun 1990-an tidak Serapi sekarang. Sampai-sampai, saya harus mengalami dehidrasi dan buang air terus menerus di WC kereta hingga akhirnya sampailah di stasiun Probolinggo.
Pukul 8 malam sampai jam 12 malam menunggu Mobil travel sambil lalu mengadakan acara kecil-kecilan untuk menghilangkan kejenuhan. Tibalah waktunya, mobil travel ala tahun 1990-an melaju menembus malam menuju lautan pasir gunung Bromo sampai di parkiran mobil/gerbang tiket pafa pukul 2. Kami berjalan menuju lautan pasir ditengah malam buta menuju lautan pasir.
Pukul 6 pagi, semua anggota Pramuka Saka Bhakti Husada mencari atribut saka Bhakti Husada yang tersebar di berbagai tempat dilatarbelakangi gunung Batok, dan pada akhirnya saya menemukan atribut tersebut dengan riang gembira karena jika tidak menemukan atribut tidak akan dilantik. Semua anggota menemukan atribut dan akhirnya di Lantik oleh kakak pembina.
Setelah acara pelantikan, euforia di adakan di kawah gunung Bromo, waktu itu masih sangat alami, Pura masih kecil. Tibalah, waktunya pulang meninggalkan gunung Bromo pada tengah hari. Selama perjalanan pulang di dalam mobil Travel, saya ingin menuliskan pengalaman di dalam buku harian yang di letakkan di saku tas bersama buku koleksi perangko, betapa terkejutnya ketika dibuka saku tas, kedua buku hilang, seketika itu juga keringat dingin mengucur deras, mau kembali sudah tidak mungkin, yaa akhirnya saya ikhlaskan saja. Beberapa koleksi perangko berasal dari Malaysia, Singapura dan Indonesia sendiri.
====================================================Garahan, 23 Desember 2025 / Selasa, 3 Rajab 1447 H, 10.52 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
