Bab 15 Jejak yang Tidak Biasa (T.689)
Langkah Zahira terhenti mendadak. Tanah di depannya tampak lembap, seperti baru saja dilewati sesuatu yang besar. Di antara dedaunan kering, terlihat bekas tapak kaki yang bentuknya tidak biasa.
“Teman-teman… kalian lihat ini?” bisik Zahira sambil berjongkok.
Fathir yang sejak tadi berjalan di belakang langsung menegang. Ia mendekat perlahan, lalu menelan ludah.
“Itu… itu jejak apa, Zahira? Kok besar sekali?”

Nisa segera mengeluarkan buku kecil dari ranselnya. Ia membandingkan gambar di buku dengan jejak di tanah.
“Kalau dilihat dari bentuknya… ini bukan jejak rusa atau babi hutan,” ujarnya pelan namun yakin.
Afif mencondongkan tubuhnya, lalu tersenyum setengah bercanda.
“Jangan-jangan jejak dinosaurus yang nyasar ke Meru Betiri,” katanya sambil terkekeh.
“Afif!” sahut Zahira dan Nisa bersamaan.
Bagas yang sejak tadi diam, memperhatikan arah jejak itu menghilang di balik semak.
“Jejak ini masih baru. Tanahnya belum kering,” katanya pelan. “Artinya, pemiliknya tidak jauh dari sini.”

Nabil yang tadinya memungut ranting, langsung menghentikan tangannya.
“Eh… maksudmu kita sedang diikuti?” tanyanya setengah bercanda, setengah takut.
Zahira berdiri dan menarik napas dalam-dalam.
“Kita tidak panik. Ingat pesan ranger kemarin, kita hanya mengamati, bukan mengejar.”
Angin berembus pelan. Daun-daun di atas mereka bergesekan, menimbulkan suara seperti bisikan. Hutan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
“Lihat, arah jejaknya ke sana,” ujar Nisa menunjuk ke arah lereng kecil yang dipenuhi pakis dan pohon muda.
Fathir memegang lengan Zahira.
“Kita… kita tidak harus mengikuti, kan?”
Zahira menatap kakaknya dengan lembut.
“Tidak, Kak. Kita hanya mencatat. Alam memberi tanda, kita belajar menghormatinya.”

Mereka lalu membuka buku catatan observasi. Zahira menuliskan tanggal dan lokasi, sementara Nisa menggambar sketsa jejak kaki itu dengan rapi.
“Jejak ini mengajarkan kita sesuatu,” kata Bagas tiba-tiba.
“Bahwa hutan ini masih hidup. Masih ada penjaganya.”
Afif mengangguk serius.
“Dan tugas kita bukan mengganggu, tapi melindungi.”
Tiba-tiba, terdengar suara ranting patah dari arah kanan. Semua anak membeku. Jantung Fathir berdegup kencang.
“Tenang… mungkin hanya angin,” bisik Nabil, meski suaranya sendiri bergetar.
Namun dari balik semak, muncul bayangan cokelat keemasan yang bergerak cepat, lalu menghilang lagi.
Zahira menahan napas.
“Itu…?”
Nisa menutup mulutnya pelan.
“Kita tidak boleh memastikan. Tapi kemungkinan besar… hewan yang kita pelajari.”
Mereka saling berpandangan. Tidak ada rasa ingin mengejar. Yang ada justru rasa kagum dan hormat.
“Bayangkan,” kata Zahira pelan,
“Kita berada di rumah mereka.”
Fathir tersenyum tipis. Rasa takutnya perlahan berubah menjadi kesadaran.
“Aku mengerti sekarang. Hutan ini bukan tempat menakutkan. Tapi tempat yang harus dijaga.”
Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari menembus celah daun dengan sudut yang berbeda. Waktu observasi hampir selesai.
“Kita harus kembali ke jalur utama,” kata Bagas bijak.
“Sudah cukup untuk hari ini.”
Zahira mengangguk. Ia menatap sekali lagi ke arah jejak kaki itu sebelum dedaunan menutupinya kembali.
“Terima kasih, hutan,” bisiknya.
“Kami belajar hari ini.”
Dengan langkah perlahan dan hati penuh cerita, Zahira dan teman-temannya meninggalkan lokasi itu, membawa pulang bukan hanya catatan, tetapi juga tanggung jawab besar sebagai sahabat alam.
Dan jauh di dalam rimba Meru Betiri, penjaga hutan kembali melangkah, memastikan keseimbangan tetap terjaga.
==================================================================
Garahan, 03 Januari 2026 / Sabtu, 14 Rajab 1447 H, 09.51 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
