Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 16 Penjaga Malam Meru Betiri (T.690)

Bab 16 Penjaga Malam Meru Betiri (T.690)

Senja mulai turun perlahan di hutan Meru Betiri. Cahaya matahari yang tadi hangat kini berubah jingga keemasan, menyelinap di sela batang pohon yang tinggi. Zahira dan teman-temannya memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat pohon besar yang akarnya menjalar seperti ular raksasa.

 

“Kita tidak boleh terlalu jauh sebelum gelap,” kata Zahira sambil melihat jam kecil di tangannya.

 

Fathir mengangguk cepat.

 

“Iya… aku setuju. Hutan malam itu… agak menyeramkan.”

 

Afif terkekeh pelan.

 

 

“Kak Fathir ini lucu. Siang saja sudah tegang.”

 

“Hei!” balas Fathir.

 

“Berani itu bukan berarti nekat!”

 

Nisa tersenyum.

 

“Kak Fathir benar. Di hutan, kita harus tahu batas.”

 

Angin sore berembus lebih dingin. Suara burung berubah, tidak lagi riang seperti pagi. Kini terdengar lebih jarang dan dalam.

 

Tiba-tiba… “Hoo… hoo…”

 

Nabil terlonjak. “Itu suara apa?!”

 

Bagas menajamkan pendengarannya.

 

“Burung hantu. Biasanya mereka aktif saat mulai gelap.”

 

Zahira berdiri dan memandang sekeliling.

 

“Hutan sedang berganti penjaga,” katanya pelan.

 

“Siang berganti malam.”

 

Mereka semua terdiam. Ada rasa kagum sekaligus hormat.

 

 

Tak lama kemudian, terdengar suara dedaunan bergeser perlahan. Bukan langkah tergesa, melainkan gerakan tenang dan hati-hati.

 

Fathir menelan ludah.

 

“Tolong bilang itu cuma angin…”

 

Nisa berbisik,

 

“Bukan. Tapi tenang… dengarkan iramanya.”

 

Zahira menutup mata sejenak. Ia mengingat pesan ranger: Jika bertemu satwa liar, jangan berteriak, jangan berlari.

 

Dari balik semak, tampak bayangan bergerak. Mata berkilau sejenak memantulkan cahaya senja.

 

Afif menahan napas.

 

“Macan tutul?”

 

Bayangan itu berhenti. Lalu… perlahan menjauh, tanpa suara, tanpa ancaman.

 

Bagas menghela napas lega.

 

“Ia tahu kita di sini. Tapi memilih pergi.”

 

Zahira tersenyum kecil.

==================================================================

Garahan, 04 Januari 2026 / Ahad Legi, 15 Rajab 1447 H, 09.25 WIB

 

“Karena kita tidak mengganggu.”

 

Hutan kembali sunyi. Namun kini, sunyinya terasa berbeda. Bukan menakutkan, melainkan penuh makna.

 

“Jadi benar ya,” kata Nabil pelan.

 

“Macan tutul itu penjaga hutan malam.”

 

Nisa mengangguk. “Ia menjaga keseimbangan. Jika mereka hilang, hutan juga bisa rusak.”

 

Fathir menatap langit yang mulai gelap.

 

“Aku baru mengerti sekarang. Takut itu boleh… asal tidak membuat kita lupa menghormati.”

 

Zahira menepuk bahu kakaknya.

 

“Itu namanya berani dengan bijak.”

 

Mereka segera bersiap kembali ke jalur aman sebelum malam benar-benar turun. Saat melangkah pergi, Zahira menoleh sekali lagi ke dalam rimba.

 

“Terima kasih sudah menjaga hutan,” bisiknya lirih.

 

Di kejauhan, suara burung malam kembali terdengar. Hutan Meru Betiri telah menerima mereka sebagai tamu yang belajar, bukan penguasa.

 

Dan malam pun resmi menjadi milik para penjaga sejatinya.

 

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post