Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 17 Cahaya Api Unggun dan Janji Anak Rimba (T.691)

Bab 17 Cahaya Api Unggun dan Janji Anak Rimba (T.691)

Api unggun kecil menyala pelan di tengah lingkaran batu. Nyala apinya menari-nari, memantulkan cahaya jingga di wajah Zahira dan teman-temannya. Malam belum sepenuhnya gelap, tapi hutan Meru Betiri sudah mulai menyelimuti mereka dengan keheningan yang dalam.

“Api ini rasanya seperti bintang kecil yang turun ke bumi,” kata Afif sambil mengulurkan tangannya, tentu saja dengan jarak aman.

“Jangan dekat-dekat,” tegur Fathir cepat.

“Api itu sahabat, tapi juga bisa berbahaya.”

Nabil tertawa kecil.

“Wah, Kak Fathir sekarang jadi ahli keselamatan.”

“Karena aku belajar dari hutan,” jawab Fathir sambil tersenyum tipis

Zahira duduk bersila, menatap nyala api.

“Api unggun ini bukan hanya untuk menghangatkan tubuh,” katanya pelan.

“Tapi juga untuk mengingatkan kita supaya tetap bersama.”

Nisa mengangguk setuju. Ia membuka buku catatan dan mulai menulis di bawah cahaya api.

“Hari ini kita belajar banyak. Tentang jejak, tentang penjaga malam, dan tentang diri kita sendiri.”

Bagas menambahkan kayu kecil ke api unggun.

“Hutan memberi pelajaran tanpa kata-kata. Kita hanya perlu mau mendengarkan.”

Suara malam semakin jelas. Jangkrik bernyanyi, daun-daun bergesek, dan sesekali terdengar suara burung malam dari kejauhan.

“Dulu aku pikir petualangan itu soal keberanian saja,” ujar Fathir.

“Tapi sekarang aku tahu, keberanian juga berarti tahu kapan harus berhenti.”

Zahira menatap kakaknya dengan bangga.

“Itu namanya bijaksana, Kak.”

Nabil menatap sekeliling, lalu berkata lebih pelan dari biasanya.

“Kalau kita pulang nanti, apakah hutan akan baik-baik saja?”

Pertanyaan itu membuat mereka terdiam sejenak.

“Kalau kita menjaganya,” jawab Nisa mantap,

“Dan menceritakan pada yang lain, hutan akan punya lebih banyak teman.”

Api unggun menyala lebih terang ketika angin berembus pelan. Afif memecah keheningan dengan senyum khasnya.

“Jadi, kita ini bukan cuma anak petualang. Kita juga… penjaga cerita hutan.”

“Penjaga cerita!” ulang Zahira ceria. “Aku suka itu.”

Bagas tersenyum kecil.

“Cerita bisa membuat orang peduli. Peduli bisa membuat orang melindungi.”

Malam semakin dalam. Langit di atas mereka dipenuhi bintang. Zahira berdiri dan mengangkat tangan kecilnya.

“Teman-teman,” katanya tegas tapi lembut,

“bolehkah kita membuat janji?”

Semua menatap Zahira.

“Kita berjanji,” lanjutnya, “untuk tidak merusak hutan, tidak menyakiti makhluk hidup, dan selalu mengingat bahwa alam adalah rumah bersama.”

Satu per satu mereka mengangguk.

“Aku janji,” kata Fathir.

“Aku juga,” sambung Nisa.

“Dengan senang hati,” ujar Afif.

“Sepenuh hati,” kata Bagas.

“Dan… dengan sedikit takut tapi sungguh-sungguh,” tambah Nabil, membuat mereka tersenyum.

Zahira tersenyum lebar. Api unggun seakan menghangatkan bukan hanya tubuh, tapi juga tekad mereka.

Di kejauhan, hutan Meru Betiri tetap berdiri kokoh. Pohon-pohon tua, satwa malam, dan angin yang berhembus pelan seolah menjadi saksi janji kecil yang dibuat anak-anak rimba.

Malam itu, Zahira tahu satu hal: petualangan mereka bukan hanya tentang menjelajah hutan, tapi tentang menjadi manusia yang lebih peduli.

Dan api unggun itu, meski kecil, telah menyalakan cahaya besar di hati mereka.

=================================================================

Garahan, 05 Januari 2025 / Senin, 16 Rajab 1447 H, 00.35 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post