Bab 18 Tersesat di Dalam Hutan (T.692)
Pagi menyapa hutan Meru Betiri dengan cahaya lembut. Embun masih menempel di ujung daun ketika Zahira membuka matanya. Api unggun semalam telah padam, menyisakan abu hangat dan aroma kayu terbakar.
“Selamat pagi, hutan,” bisik Zahira sambil duduk.
Satu per satu teman-temannya terbangun. Fathir menguap panjang sambil mengucek mata.
“Kita benar-benar tidur di hutan ya… rasanya seperti mimpi.”

Nisa segera merapikan ranselnya.
“Hari ini kita harus lebih hati-hati. Jalur pagi sering terlihat mirip satu sama lain.”
Afif meregangkan badan.
“Siap! Petualangan hari kedua dimulai.”
Setelah sarapan sederhana, mereka melanjutkan perjalanan. Jalur yang mereka lalui tampak sempit, diapit semak dan pohon tinggi. Cahaya matahari hanya sesekali menembus dedaunan lebat.
“Jalurnya berbeda dari kemarin,” gumam Bagas sambil memperhatikan tanda di pohon.
Nabil berhenti melangkah.
“Eh… bukankah kita tadi lewat batu besar berbentuk kepala kerbau?”
Semua saling berpandangan.
Fathir menoleh ke belakang.
“Aku tidak melihat batu itu.”
Zahira menahan langkah. Dadanya berdebar.
“Kita berhenti dulu.”
Mereka berkumpul di sebuah tanah lapang kecil. Zahira mencoba mengingat arah perjalanan, tetapi setiap sudut hutan tampak sama. Pohon-pohon tinggi berdiri rapat, seolah menyembunyikan rahasia.
“Apakah… kita tersesat?” tanya Nabil pelan.
Afif mencoba tersenyum.
“Mungkin hanya berbelok sedikit.”
Namun Nisa menggeleng.
“Tidak. Kita sudah keluar dari jalur utama.”
Fathir mulai terlihat gelisah.
“Bagaimana kalau kita tidak bisa kembali sebelum malam?”

Zahira menarik napas dalam-dalam.
“Tenang. Kita ingat apa yang diajarkan ranger.”
Bagas mengangguk.
“Jika tersesat, jangan panik, jangan berlari, dan tetap bersama.”
Mereka duduk melingkar. Zahira memimpin dengan suara lembut.
“Kita tenang dulu. Hutan tidak sedang memusuhi kita.”
Angin berembus pelan, membawa suara burung pagi. Perlahan, ketegangan di wajah mereka mereda.
Nisa membuka buku catatan.
“Kita berada di lereng ringan. Biasanya jalur aman dekat aliran air.”
Afif menunjuk ke arah suara gemericik samar.
“Seperti itu?”
Zahira tersenyum.
“Kita coba dengan hati-hati.”
Mereka berjalan perlahan mengikuti suara air. Daun basah membuat langkah harus lebih waspada. Sesekali Zahira menoleh, memastikan semua tetap di belakangnya.
Tak lama kemudian, mereka menemukan sungai kecil dengan air jernih.
“Alhamdulillah,” ucap Fathir lega.
Namun kebahagiaan itu belum sempurna. Jalur di seberang sungai bercabang dua.
“Yang mana?” tanya Nabil.
Bagas memperhatikan tanah.
“Lihat, yang kanan tanahnya lebih padat. Sering dilewati.”
Zahira mengangguk.
“Kita ikuti yang kanan.”
Beberapa menit berjalan, tiba-tiba terdengar suara peluit panjang.
“Itu… peluit!” seru Afif.
Zahira menjawab dengan peluit darurat yang mereka pelajari. Tak lama, dari balik pepohonan muncul sosok ranger.
“Kalian keluar jalur,” kata ranger itu ramah namun tegas.
“Tapi kalian sudah melakukan hal yang benar.”
Fathir tersenyum lega.
“Aku pikir ini akhir petualangan kami.”
Ranger tertawa kecil.
“Justru ini pelajaran berharga.”
Zahira menatap hutan dengan penuh rasa hormat.
“Kami belajar bahwa hutan harus dipahami, bukan ditantang.”
Ranger mengangguk bangga.
“Dan itulah sikap penjaga alam sejati.”
Mereka pun kembali ke jalur aman bersama. Zahira melangkah dengan hati yang lebih dewasa.
Hari itu, mereka tidak hanya menemukan jalan pulang, tetapi juga menemukan keberanian, kebijaksanaan, dan kepercayaan satu sama lain.
==================================================================
Garahan, 06 Januari 2026 / Selasa, 17 Rajab 1447 H, 00.48 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
