Bab 19 Jejak Penjaga Malam (T.693)
Udara Meru Betiri terasa lebih dingin dari biasanya, setelah tersesat dar jalur utama, mereka merasa lega seakan hutan ingin menolong mereka dari kesulitan. Setelah dua hari menjelajah, petualangan itu tak lagi sekadar jalan-jalan, melainkan tanggung jawab.
“Teman-teman, kita mulai dari jalur kemarin ya,” kata Zahira dengan suara lebih mantap. Fathir membenarkan letak kacamatanya.
“Semoga kita tidak tersesat lagi seperti kemarin.” Nabil tertawa kecil.
“Kan ada Kak Bandealit di peta Nisa, amanlah.” Nisa menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Peta itu hanya membantu, yang utama tetap kehati-hatian.”

Mereka menembus hutan meru betiri. Zahira berjalan di depan mengenakan jilbab pink dan topi rimba yang diikatkan pada ranselnya. Di sepanjang jalur, mereka menemukan banyak hal baru: jamur berwarna putih susu, kupu-kupu loreng kuning, dan suara burung rangkong yang seperti terompet alam. Namun kegembiraan itu terhenti ketika Bagas menemukan sesuatu di dekat aliran sungai kecil.
“Lihat! Ini jejak yang mirip kemarin,” seru Bagas. Nisa berjongkok meneliti.
“Benar, tapak macan tutul. Tapi ada yang aneh di sampingnya ada bekas roda motor.” Fathir terkejut.
“Motor? Di tengah hutan begini?” Zahira menggigit bibirnya.
“Artinya masih ada orang yang masuk sembarangan, mungkin pemburu.”
Percakapan itu membuat mereka terdiam. Hutan yang tadinya ramah berubah menyimpan tanda bahaya. Nisa menjelaskan bahwa macan tutul sering disebut penjaga malam karena menjaga rantai makanan tetap seimbang. Jika ada pemburu, keberadaan satwa itu bisa terancam. Zahira teringat tujuan awal mereka: mencari sumber kerusakan dan melaporkannya ke pos Andongrejo.
“Menurutku kita harus mengikuti arah jejak roda ini,” ujar Zahira. Nabil ragu.

“Tapi kalau bertemu orang jahat bagaimana?” Fathir menepuk bahu Nabil.
“Kita berenam, saling menjaga.” Nisa menambahkan,
“Keberanian yang disertai ilmu tidak akan mencelakakan.”
Mereka melanjutkan perjalanan ke arah timur laut. Di sana pohon-pohon dehaasia pugerensis tumbuh menjulang, sama seperti yang pernah dikenalkan Nisa pada bab sebelumnya. Zahira merasa pohon langka itu seperti saksi bisu, memandangi langkah kecil anak-anak yang berusaha menjadi penyelamat. Di tengah rimba, ia menemukan kaleng bekas dan tali jerat yang tersangkut.
“Ini buktinya,” kata Zahira lirih.
“Masih ada jerat aktif.” Afif menghela napas.
“Sedih sekali, padahal hutan seindah ini.” Nabil memotret dengan ponselnya untuk konten edukasi TikTok.
“Biar dunia tahu.”

Menjelang siang mereka mendengar suara motor dari kejauhan. Zahira memberi isyarat diam. “Jangan panik,” bisiknya.
“Kita sembunyi dulu.” Fathir menjawab pelan,
“Semoga macan penjaga itu benar-benar melindungi kita.”
Mereka sadar, menyelamatkan alam bukan pekerjaan orang dewasa saja. Bahkan anak madrasah pun bisa memulainya dari jejak kecil, dari langkah pertama yang berani di Hutan Meru Betiri.
===================================================================
Garahan, 07 Januari 2026 / Rabu, 19 Rajab 1447 H, 08.00 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
