Bab 23 Laporan untuk Penjaga Hutan (T.697)
Siang itu, Zahira dan teman-temannya melangkah menuju pos penjaga Taman Nasional Meru Betiri. Bangunan kayu sederhana itu berdiri kokoh di tepi jalur, dikelilingi pepohonan rindang. Di depannya berkibar bendera merah putih yang bergerak pelan tertiup angin.

Zahira menarik napas dalam-dalam.
“Ini bagian penting dari misi kita,” katanya mantap.
Nisa mengangguk sambil memeluk buku catatan.
“Semua data sudah siap.”
Di dalam pos, dua orang ranger menyambut mereka dengan ramah. Salah satunya adalah Pak Ardi, penjaga hutan yang kemarin sempat bertemu mereka di jalur observasi.
“Kalian kembali dengan wajah serius,” kata Pak Ardi sambil tersenyum.
“Ada yang ingin dilaporkan?”

Zahira melangkah ke depan.
“Iya, Pak. Kami ingin menyampaikan hasil observasi kami.”
Mereka duduk melingkar di meja kayu. Nisa membuka buku catatan dan mulai menjelaskan dengan rapi. “Ini data lokasi pohon Dehaasia pugerensis yang kami temukan di jalur utara. Kondisinya masih baik, tetapi ada tanda aktivitas manusia di sekitarnya.”
Pak Ardi mencatat cepat.
“Bagus. Data seperti ini sangat membantu.”
Nabil lalu menunjukkan foto-foto di ponselnya.
“Ini bekas roda motor, Pak. Dan ini tali jerat yang kami temukan.”
Raut wajah ranger berubah serius.
“Kalian tidak menyentuh jerat itu, kan?”

Bagas cepat menjawab,
“Tidak, Pak. Kami hanya mendokumentasikan dan menandai lokasinya dari jarak aman.”
“Keputusan yang tepat,” kata ranger lainnya.
“Itu prosedur yang benar.”
Afif menambahkan,
“Kami juga melihat jejak banteng Jawa dan mendengar suara burung besar di pagi hari.”
Fathir menunjuk sketsa jalur yang ia gambar.
“Ini jalur aman yang kami lewati, dan ini area yang sebaiknya dihindari karena rawan tersesat.”
Pak Ardi menatap mereka satu per satu.
“Kalian melakukan observasi dengan sangat bertanggung jawab.”
Zahira merasa dadanya hangat. Ia tidak menyangka laporan sederhana mereka begitu dihargai.

“Kami hanya ingin hutan ini tetap terjaga, Pak,” katanya jujur.
Pak Ardi tersenyum bangga.
“Kalian sudah membantu kami menjaga Meru Betiri. Tidak semua orang dewasa bisa seteliti ini.”
Ranger kemudian menjelaskan bahwa data tersebut akan digunakan untuk patroli lanjutan dan pemantauan satwa. Zahira dan teman-temannya mendengarkan dengan saksama.
“Mulai sekarang, kalian bukan sekadar pengunjung. Kalian adalah sahabat penjaga hutan.” kata Pak Ardi,
Nabil berbisik pada Afif,
“Keren juga ya, jadi sahabat ranger.”
Afif tersenyum lebar.
“Lebih keren dari pahlawan di film.”
Sebelum pulang, mereka diajak melihat papan peta besar di dinding pos. Di sana, titik-titik kecil menandai lokasi pohon langka dan jalur satwa.
“Sebentar lagi,” kata Pak Ardi,
“Data kalian akan ditambahkan di sini.”
Zahira memandangi peta itu dengan mata berbinar. Ia merasa langkah kecil mereka kini menjadi bagian dari usaha besar.
Saat meninggalkan pos, Zahira berkata pelan,
“Ternyata menjaga alam juga butuh laporan dan kerja sama.”
Nisa menimpali,
“Ilmu, keberanian, dan tanggung jawab.”
Bagas mengangguk.
“Dan kejujuran.”
Di bawah langit Meru Betiri yang cerah, enam anak melangkah pulang dengan hati ringan. Data penting telah disampaikan, dan janji mereka kini dijaga bersama para penjaga hutan.
Petualangan Zahira terus berlanjut lebih dewasa, lebih bermakna.
===================================================================
Garahan, 11 Januari 2026 / Ahad, 20 Rajab 1447 H, 00.14 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
