Episode 10 Gambar yang Disimpan (T.715)
Ada satu gambar yang tidak pernah Fathir bawa ke kelas. Tidak pernah ia perlihatkan kepada Ustadz Saiful. Tidak pula ia bandingkan dengan gambar teman-temannya.
Gambar itu tersimpan rapi di dalam map tipis berwarna cokelat, diselipkan di antara buku tulis lama dan kertas-kertas yang sudah menguning. Ia menyimpannya di bagian paling bawah tas, seolah takut gambar itu tersentuh oleh dunia luar yang terlalu ramai.
Gambar itu sederhana. Tidak penuh warna. Tidak ramai bentuk.
Hanya satu lafadz Arab yang ditulis dengan hati-hati menggunakan krayon hijau yang kini tinggal separuh jari. Garis-garisnya tidak selalu lurus. Ada lengkung yang sedikit goyah, ada bagian yang warnanya lebih tipis. Namun setiap goresannya dibuat dengan napas ditahan, dengan hati yang tenang.
Alhamdulillah.
Fathir tidak pernah berniat memamerkannya. Gambar itu bukan untuk dinilai. Bukan untuk dipuji. Apalagi untuk dibandingkan.
Ia menggambar kaligrafi itu pada suatu malam yang sunyi, ketika listrik sempat padam dan rumah hanya diterangi cahaya lampu minyak kecil. Ibunya sudah tertidur, ayahnya belum pulang. Di meja kayu yang sama tempat ia biasa mengerjakan PR, Fathir membuka kertas putih yang paling bersih yang ia miliki.
Ia tidak tahu mengapa tangannya memilih menulis lafadz itu. Yang ia tahu, hatinya sedang penuh. Penuh oleh rasa syukur yang tidak pandai ia ucapkan dengan kata-kata. Syukur karena masih bisa sekolah. Syukur karena masih punya krayon hijau, meski hampir habis. Syukur karena orang tuanya tetap tersenyum meski hidup tidak selalu mudah.

Setiap selesai menarik satu garis, Fathir berhenti sejenak. Ia meniup krayon itu pelan, seolah takut warnanya cepat habis. Lalu ia melanjutkan, pelan-pelan, seolah sedang berbicara dengan Tuhan tanpa suara.
Ketika gambar itu selesai, Fathir tidak langsung puas. Ia menatapnya lama. Bukan mencari kesalahan, melainkan merasakan ketenangan yang aneh tenang yang jarang ia rasakan di kelas, di tengah ejekan, atau di tengah kebisingan.
Sejak malam itu, gambar itu tidak pernah ia keluarkan lagi. Ia simpan, Ia jaga.
Bagi Fathir, gambar itu adalah rahasia kecil antara dirinya dan Allah. Sebuah pengingat bahwa di balik keterbatasan, selalu ada ruang untuk bersyukur. Bahwa meski krayon hijau itu hampir habis, maknanya justru semakin penuh.
Kadang, saat hari terasa berat, Fathir membuka tasnya diam-diam. Ia memastikan krayon hijau masih ada. Lalu, tanpa mengeluarkan map cokelat itu, ia tahu gambar itu masih di sana aman, utuh, dan setia menunggu.
Ia tidak tahu kapan akan memperlihatkannya kepada dunia. Mungkin suatu hari. Mungkin tidak pernah.
Namun satu hal yang Fathir yakini: Selama gambar itu ada, selama krayon hijau itu masih meninggalkan jejak, ia tidak pernah benar-benar sendiri.
Karena ada gambar yang tidak dibuat untuk dilihat orang lain melainkan untuk menjaga hati agar tetap hidup.
===============================================================================================
Garahan, 30 Januari 2026 / Jum'at, 11 Sya'ban 1447 H, 10.07 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
