Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 11 Tulisan Pertama Allah (T.716)

Episode 11 Tulisan Pertama Allah (T.716)

Pagi itu, Fathir duduk lebih lama dari biasanya di sudut kamarnya. Cahaya matahari masuk pelan melalui celah jendela, jatuh di atas meja kecil yang sudah mulai kusam. Di atas meja itu terbentang selembar kertas putih bukan kertas baru, melainkan kertas yang ia pilih dengan hati-hati. Kertas yang menurutnya cukup pantas untuk sebuah niat yang besar.

 

Ia membuka tasnya perlahan, seolah takut suara resleting bisa mengusik ketenangan. Tangannya meraba bagian paling atas, lalu berhenti pada krayon hijau yang kini tinggal separuh jari. Krayon itu sudah tak lagi sempurna bentuknya. Pembungkusnya terkelupas, ujungnya tumpul. Namun di situlah justru nilainya bertambah karena setiap sisa warna di dalamnya terasa begitu berharga.

 

Fathir menarik napas dalam-dalam. Ia menutup mata sebentar, seperti yang sering ia lihat ayahnya lakukan sebelum berdoa. Dalam diam itu, ia tidak menghafal bentuk huruf dengan kepala. Ia mengingatnya dengan rasa. Tentang lafadz yang sering ia dengar di masjid. Tentang nama yang selalu disebut ibunya ketika cemas. Tentang satu kata yang membuat hatinya tenang, meski ia belum sepenuhnya memahami maknanya.

 

 

Tangannya mulai bergerak.

 

Garis pertama ditarik perlahan. Tidak lurus, sedikit bergetar. Fathir menahan napas. Krayon hijau meninggalkan jejak yang tidak terlalu tebal, tapi cukup jelas. Ia berhenti sejenak, menatap hasilnya, lalu melanjutkan. Setiap huruf ditulis dengan penuh kehati-hatian, seolah jika ia tergesa, maknanya bisa runtuh.

 

Ia tahu tulisannya tidak indah. Tidak seperti kaligrafi di dinding madrasah. Tidak simetris, tidak seimbang. Tapi di setiap lengkungnya, ada niat yang utuh. Ada hati kecil yang sedang belajar menyebut Tuhan dengan caranya sendiri.

 

Ketika lafadz itu selesai, Fathir meletakkan krayon di samping kertas. Tangannya terasa sedikit gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang sulit ia jelaskan. Dadanya hangat. Ada rasa lega, seperti setelah menangis diam-diam atau setelah doa panjang yang tak terdengar siapa pun.

 

Ia menatap tulisan itu lama. Hijau. Sederhana. Tenang.

 

Untuk pertama kalinya, Fathir merasa bahwa menggambar bukan sekadar soal warna atau bentuk. Ini adalah cara ia berbicara ketika kata-kata terasa terlalu besar. Cara ia mendekat ketika langkahnya masih pendek. Cara ia menyimpan harapan tanpa harus menunjukkannya kepada dunia.

Ia tidak memamerkan tulisan itu. Tidak menunjukkannya pada siapa pun. Kertas itu dilipat rapi dan diselipkan kembali ke dalam map cokelat, lalu ke dasar tas. Bukan karena ia malu, tetapi karena ia tahu: ada hal-hal yang cukup disimpan antara hati dan Tuhan.

 

Krayon hijau itu mungkin akan habis suatu hari nanti. Tapi tulisan pertama itu lafadz Allah akan tinggal. Menjadi saksi kecil bahwa pernah ada seorang anak bernama Fathir, yang dengan keterbatasannya, mencoba mendekat dengan sepenuh hati.

===============================================================================================

Garahan, 31 Januari 2026 / Sabtu, 12 Sya'ban 1447 H, 10.59 WIB

 

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post