Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 13. Suara misterius dari Lembah sunyi (T.687)

Episode 13. Suara misterius dari Lembah sunyi (T.687)

Perjalanan Zahira dan teman-temannya berlanjut menuruni sebuah lereng landai. Jalur yang mereka lewati semakin sempit dan dipenuhi akar-akar pohon besar. Di bawah sana terbentang sebuah lembah kecil yang tampak sunyi dan teduh.

“Tempat ini terasa… berbeda,” ujar Bagas sambil melangkah hati-hati.

Zahira mengangguk.

“Seperti lembah yang jarang dijamah.”

Udara terasa lebih dingin. Kabut tipis menggantung rendah, membuat pandangan sedikit buram. Suara langkah kaki mereka nyaris tak terdengar, seolah hutan sedang menahan napas.

Tiba-tiba terdengar suara panjang dan dalam.

“Hrrruuu… huuu…”

Nabil langsung berhenti.

“Itu suara apa?”

Fathir mendekat ke Zahira.

“Kedengarannya bukan angin.”

Nisa menutup mata sejenak, mendengarkan dengan saksama.

“Itu suara satwa besar.”

Afif berbisik,

“Jangan bilang macan tutul.”

Zahira mengangkat tangan memberi isyarat agar semua diam. Mereka berdiri membeku, mendengarkan suara yang terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan menggema di antara pepohonan.

“Hrrruuu… huuu…”

“Itu suara banteng Jawa,” bisik Nisa yakin.

“Biasanya jantan dewasa.”

Jantung Zahira berdebar. Ia pernah membaca tentang banteng Jawa, hewan besar yang kuat dan dilindungi.

“Kita harus menjauh perlahan,” ujar Zahira tenang.

Mereka bergerak pelan, menepi ke balik semak lebat. Dari balik dedaunan, tampak seekor banteng Jawa berdiri gagah di dasar lembah. Tubuhnya besar, hitam mengilap, dengan tanduk melengkung kuat.

“MasyaAllah…” gumam Fathir.

Banteng itu menggerakkan kepalanya, lalu mengeluarkan suara berat lagi. Gaungnya memenuhi lembah.

“Dia seperti raja lembah,” kata Bagas kagum.

Nabil berbisik,

“Aku baru tahu suara bisa segagah itu.”

Mereka tidak berani bergerak. Hanya mengamati dari jarak aman. Angin berhembus membawa aroma tanah basah dan daun.

Nisa berbisik pelan,

“Banteng Jawa sangat sensitif. Kalau merasa terganggu, bisa berbahaya.”

Zahira mengangguk.

“Kita tamu di wilayahnya.”

Beberapa menit kemudian, banteng itu berjalan perlahan menuju rimbunnya hutan, meninggalkan lembah dalam keheningan.

Semua menghela napas lega.

“Aku tegang sekali,” ujar Afif sambil tersenyum kecut.

“Tapi juga luar biasa,” tambah Nabil.

“Ini pengalaman yang nggak akan terlupa.”

Zahira duduk sejenak di atas batu besar.

“Suara itu mengajarkan kita sesuatu.”

“Apa itu?” tanya Fathir.

“Bahwa alam punya bahasa sendiri,” jawab Zahira.

“Kalau kita mau mendengar, kita bisa belajar banyak.”

Bagas mengangguk.

“Dan kita harus menghormatinya.”

Sebelum meninggalkan lembah, Zahira menuliskan catatan kecil: Suara banteng Jawa terdengar pukul delapan pagi. Lembah masih alami.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan perasaan kagum dan rendah hati. Lembah sunyi itu tak hanya meninggalkan gema suara, tetapi juga pesan tentang kekuatan, kesabaran, dan sikap menghormati alam.

====================================================

Garahan, 01 Januari 2026 / Kamis, 12 Rajab 1447, 16.09 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post