Episode 14 Burung Merak dan Tarian Alam (T.688)
Pagi mulai beranjak siang ketika Zahira dan teman-temannya meninggalkan lembah sunyi. Cahaya matahari kini menembus pepohonan lebih terang, membuat dedaunan berkilau seperti disiram emas. Udara terasa hangat, namun tetap sejuk oleh naungan hutan Meru Betiri.
“Lihat, jalannya makin terbuka,” kata Afif sambil menunjuk ke depan.
Mereka tiba di sebuah area lapang yang dipenuhi semak rendah dan pepohonan tidak terlalu rapat. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga hutan.
Tiba-tiba terdengar suara khas.
“Kraaauu… kraaauu…”
Zahira berhenti melangkah.
“Itu suara apa?”
Nisa tersenyum lebar.
“Kalau aku tidak salah, itu suara burung merak.”

“Merak?” Nabil membelalakkan mata.
“Yang ekornya seperti kipas itu?”
“Benar,” jawab Nisa.
“Merak hijau Jawa. Satwa dilindungi.”
Mereka berjalan pelan mengikuti arah suara. Dari balik semak, tampak seekor burung merak jantan berdiri anggun. Tubuhnya hijau kebiruan berkilau, dan perlahan ia mengembangkan ekornya yang panjang dan indah.
“Subhanallah…” gumam Fathir takjub.
Burung merak itu berputar perlahan, menari dengan gerakan lembut. Bulu-bulunya bergoyang mengikuti angin, memantulkan cahaya matahari.
“Seperti sedang menari,” bisik Zahira.
“Memang,” kata Nisa pelan. “Merak jantan menari untuk menarik perhatian dan menandai wilayahnya.”
Afif terkekeh pelan.
“Tarian alam paling keren.”
Nabil hampir bertepuk tangan, tapi Bagas cepat menahannya.
“Jangan ribut.”
Mereka mengamati dalam diam. Setiap gerakan burung merak itu seperti lukisan hidup. Tak ada musik, hanya angin, dedaunan, dan suara alam.
Zahira merasa hatinya hangat.
“Alam tidak pernah kehabisan cara untuk menunjukkan keindahan.”
Fathir mengangguk.
“Dan kita sering lupa menjaganya.”
Nisa menambahkan,
“Merak butuh hutan yang aman untuk hidup. Kalau hutannya rusak, tarian ini bisa hilang.”
Kata-kata itu membuat mereka terdiam. Burung merak itu lalu menutup ekornya perlahan dan berjalan menjauh, menghilang di balik semak.
“Terima kasih,” bisik Zahira, seolah burung itu bisa mendengarnya.
Mereka duduk sejenak di bawah pohon. Zahira menggambar burung merak di buku catatan, sementara Nisa menuliskan pengamatannya.
“Apa pelajaran hari ini?” tanya Bagas.
Zahira tersenyum.
“Keindahan harus dijaga.”
Afif mengangguk.
“Dan dilihat dengan sikap tenang.”
Nabil menimpali,
“Bukan cuma difoto, tapi dihargai.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah ringan dan hati penuh rasa syukur. Tarian burung merak itu akan selalu mereka ingat sebagai pesan alam tentang keindahan, keseimbangan, dan tanggung jawab manusia.
===================================================================
Garahan, 02 Januari 2025 / Jum'at, 13 Rajab 1447 H, 09.43 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
