Episode 2 Tas Kain Cokelat (T.707)
Tas kain cokelat itu selalu setia menggantung di bahu Fathir. Warnanya sudah tidak rata lagi, sebagian tampak lebih gelap karena sering terkena hujan dan debu jalan desa. Jahitannya pun tidak lagi rapi. Di sudut bawah tas, ada bekas tambalan kain yang warnanya sedikit berbeda. Tambalan itu dijahit sendiri oleh ibu Fathir dengan benang putih yang kini mulai menguning.
Bagi anak-anak lain, tas mungkin hanya alat untuk membawa buku. Namun bagi Fathir, tas kain cokelat itu seperti sahabat yang menyimpan cerita hidupnya.
Di dalam tas itu, tidak banyak barang. Hanya dua buku tulis yang sampulnya sudah lecek. Di halaman pertamanya, tertulis nama “Fathir” dengan huruf yang masih belum sempurna. Setiap kali membuka buku itu, Fathir selalu teringat bagaimana ibunya membimbing tangannya saat pertama kali belajar menulis namanya sendiri.
Selain buku tulis, ada sebuah buku gambar yang kertasnya tidak lagi putih bersih. Beberapa halamannya sudah penuh dengan coretan. Ada garis lurus, lengkung, dan bentuk-bentuk aneh yang belum jelas maknanya. Namun bagi Fathir, setiap coretan itu adalah latihan kesabaran. Ia percaya, garis yang indah tidak lahir dari tangan yang tergesa-gesa.
Di sudut tas, terselip pensil pendek yang sudah beberapa kali diraut hingga hampir habis. Pensil itu diikat dengan karet gelang agar tidak mudah patah. Ada juga penghapus kecil yang warnanya sudah pudar, namun masih berfungsi dengan baik.
Namun, dari semua isi tas itu, ada satu benda yang paling istimewa bagi Fathir.
Satu krayon hijau.

Krayon itu tidak utuh lagi. Panjangnya tinggal separuh jari telunjuk. Bungkus kertasnya sudah terkelupas, memperlihatkan batang krayon yang mulai tumpul. Namun setiap kali Fathir memegangnya, ia selalu tersenyum kecil.
Krayon hijau itu bukan krayon biasa. Itu adalah hadiah dari ayahnya, bertahun-tahun lalu, sebelum ayahnya pergi merantau. Saat itu, Fathir masih sangat kecil. Ayahnya pulang membawa satu kotak krayon murah. Isinya tidak lengkap, beberapa warna bahkan sudah patah. Namun ayah berkata dengan bangga, “Ini untuk Fathir. Supaya bisa menggambar apa saja yang Fathir suka.”
Dari semua warna di kotak itu, krayon hijau yang paling sering digunakan. Warna hijau mengingatkan Fathir pada sawah di desanya, pada daun-daun, pada ketenangan. Lama-kelamaan, krayon lain habis atau hilang, hingga tersisa satu krayon hijau itu saja.
Di madrasah, saat pelajaran menggambar, teman-temannya membawa kotak krayon besar dengan warna-warni cerah. Ada yang merah menyala, biru laut, kuning terang. Fathir hanya membuka tasnya pelan-pelan, lalu mengeluarkan krayon hijaunya dengan hati-hati.
Ia tidak merasa minder. Ia justru merasa tenang.
Dengan satu warna itu, Fathir belajar menciptakan banyak makna. Ia menggambar pohon, daun, rumput, bahkan bayangan huruf Arab yang menyerupai kaligrafi sederhana. Dari satu warna, ia belajar bahwa keterbatasan tidak selalu berarti kekurangan.
Setiap kali tas kain cokelat itu ditutup, Fathir seolah menutup juga semua mimpinya dengan rapi, menyimpannya agar tetap aman. Ia tahu, suatu hari nanti, isi tasnya mungkin akan bertambah. Namun krayon hijau itu akan selalu punya tempat tersendiri di hatinya.
Tas kain cokelat itu mungkin tampak biasa di mata orang lain. Tetapi bagi Fathir, tas itu adalah saksi kecil dari mimpi besar yang sedang tumbuh perlahan di dalam dirinya.
===============================================================================================
Garahan, 21 Januari 2026 / Kamis, 02 Sya'ban 1447 H, 07.26 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
