Episode 20 Janji di Bawah Pohon Langka (T.694)
Senja hari ketiga membuat langit di atas Meru Betiri tampak seperti lukisan raksasa. Warna jingga bercampur ungu, sementara suara burung mulai berganti dengan nyanyian serangga malam. Di dekat jalur utara menuju Desa Andongrejo, Zahira dan teman-temannya berdiri mengelilingi pohon langka yang tadi mereka observasi Dehaasia pugerensis. Batangnya tidak terlalu besar, tetapi bagi mereka pohon itu terasa amat penting, seperti jantung kecil hutan.
Nisa menyentuh daunnya dengan hati-hati:
“Aku sudah mencatat cirinya lengkap. Pohon ini benar-benar hampir tidak ada di tempat lain.”
Afif mengangguk:
“Kalau sampai ditebang, kita mungkin tidak bisa melihatnya lagi selamanya.”
Fathir yang berkacamata memandangi rimba di belakang mereka.
“Aku baru sadar, ternyata hutan itu bukan hanya tempat petualangan, tapi rumah banyak makhluk.”
Bagas tersenyum malu-malu.
“Dan kita diberi kesempatan untuk membantu menjaganya.”
Nabil menyela dengan gaya khasnya, “Berarti mulai sekarang kita resmi jadi pasukan penjaga Meru Betiri dong?”
Zahira tertawa pelan.
“Pasukan kecil, tapi berhati besar.”
Mereka duduk di atas akar pohon yang menjalar. Cahaya senja menyelimuti wajah mereka. Zahira teringat perjalanan sejak Bab 1: rasa kagum, takut, tersesat, bertemu ranger, menemukan jerat pemburu, hingga ide cerdas dari Bagas. Semua seperti tangga menuju pelajaran hari ini.
“Aku ingin kita membuat janji,” kata Zahira tiba-tiba.
“Janji apa?” tanya Nisa.
Zahira berdiri tepat di depan pohon langka. Angin menggerakkan jilbabnya.
“Janji bahwa kita tidak akan merusak hutan. Kita akan melindungi pohon langka dan satwa dilindungi sebisanya.”
Nisa ikut berdiri.
“Aku janji akan terus belajar supaya bisa memecahkan persoalan tentang alam.”
Afif mengangkat tangan.
“Aku janji berani melawan pemburu, tentu dengan cara yang aman dan pakai laporan resmi.”
Fathir menelan ludah, lalu berkata jujur,
“Aku memang penakut, tapi aku janji tetap membantu kalian meski sambil gemetar.”
Bagas menunduk sebentar.
“Aku janji menggunakan cara-cara yang tidak melukai pohon ataupun hewan.”
Nabil menimpali, kali ini tanpa bercanda berlebihan,
“Aku janji tidak jahil pada alam. Jahil pada Fathir saja, hehehe… eh tapi dikurangi deh.”
“Janji itu harus dari hati,” kata Nisa.
“Dari hati terdalam,” tambah Bagas.
Ranger yang kebetulan patroli sore menemukan mereka. Ia mendengar janji anak-anak itu dengan wajah terharu.
“Kalian melakukan hal luar biasa. Menjaga alam dimulai dari komitmen seperti ini.”
Zahira bertanya,
“Apakah janji kami berarti, Pak?”
Ranger mengangguk.
“Sangat berarti. Jika setiap anak punya tekad seperti kalian, Meru Betiri akan tetap hijau untuk Ravi, Bhaskara, dan generasi setelahnya.” Mendengar nama generasi masa depan disebut, Zahira merasa hangat. Ia membayangkan suatu hari adik-adik kelas di MI Al-Amin Garahan membaca kisah mereka dan ikut mencintai alam.
Sebelum pergi, Nisa menempelkan papan kecil bertuliskan: “Zona Pohon Langka Lindungi Bersama.” Papan itu dibuat dari bahan bambu tanpa memaku batang pohon.
“Semoga macan tutul, banteng jawa, merak, elang jawa, kukang tetap aman,” kata Zahira lirih.
Afif memandang langit.
“Ayo kita pulang sebelum gelap benar.”
Mereka melangkah kembali ke jalur aman. Di tengah jalan, Zahira menoleh sekali lagi. “Selamat tinggal sementara, pohon sulit diucapkan,” katanya sambil tersenyum. “Kami akan kembali.”
Nabil bertanya,
“Kembali untuk apa?”
“Untuk memastikan janji kita tidak hilang seperti tanda pita Kak Bagas kemarin,” jawab Zahira.
Semua mengangguk. Langkah mereka semakin cepat menuju Desa Andongrejo, membawa data, foto, dan terutama janji yang tumbuh di bawah pohon langka.
Petualangan Zahira belum selesai.
==================================================================
Garahan, 08 Januari 2026 / Kamis, 19 Rajab 1447 H, 01.27 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
