Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 21. Menyusun Rencana Besar (T.695)

Episode 21. Menyusun Rencana Besar (T.695)

Semua mengangguk. Langkah mereka semakin cepat menuju Desa Andongrejo, membawa data, foto, dan terutama janji yang tumbuh di bawah pohon langka. Petualangan Zahira belum selesai.

 

Ketika cahaya lampu desa mulai terlihat di kejauhan, Zahira menghela napas lega. Jalan tanah yang mereka lalui akhirnya berubah menjadi jalur yang lebih lebar. Suara hutan perlahan digantikan oleh bunyi langkah manusia dan anjing penjaga yang menggonggong pelan.

 

“Alhamdulillah… akhirnya sampai juga,” kata Fathir sambil mengusap keningnya.

 

Nabil langsung duduk di pinggir jalan.

 

“Kaki aku rasanya seperti bukan punya aku lagi.”

 

Afif tertawa kecil. “Itu tandanya petualangan kita serius.”

 

 

Mereka berhenti di pendopo kecil dekat pos informasi Desa Andongrejo. Tempat itu sering digunakan warga dan pengelola ekowisata untuk berdiskusi. Seorang relawan desa menyambut mereka dengan senyum ramah dan menyediakan air minum.

 

Zahira berdiri di tengah pendopo.

 

“Teman-teman, kita sudah melihat langsung kondisi hutan. Sekarang waktunya kita menyusun rencana.”

 

Nisa segera mengeluarkan buku catatan.

 

“Aku sudah menandai lokasi pohon Dehaasia pugerensis, jalur satwa, dan tempat kami menemukan jerat.”

 

“Fotoku juga siap,” sahut Nabil sambil mengangkat ponsel.

 

“Ada bukti bekas roda dan tali jerat.”

 

Fathir menambahkan,

 

“Aku masih ingat jalur yang aman dan jalur berbahaya.”

 

Bagas yang duduk tenang menatap peta.

 

“Kalau kita ingin kembali ke hutan, kita harus lebih rapi. Aku bisa menyiapkan tanda jalur yang tidak merusak alam.”

 

 

Zahira mengangguk puas. Ia mengambil selembar kertas besar dan menuliskan judul: Rencana Penjaga Meru Betiri.

 

“Kita bagi tugas sesuai kemampuan,” katanya.

 

Ia menunjuk satu per satu temannya.

 

Nisa bertugas mencatat dan merapikan data tentang pohon langka dan satwa dilindungi. Nabil bertugas menyiapkan foto dan video edukasi agar banyak orang tahu pentingnya menjaga hutan. Afif bertugas mendampingi patroli ringan bersama pendamping desa. Fathir bertugas mengingat dan menggambar ulang jalur aman. Bagas bertugas menyiapkan tanda jalur ramah lingkungan. Zahira sendiri bertugas mengoordinasikan semuanya.

 

“Tidak ada yang paling hebat,” kata Zahira mantap.

 

“Semua peran saling melengkapi.”

 

Nisa tersenyum.

 

“Seperti ekosistem hutan.”

 

Afif mengangguk.

“Kalau satu rusak, yang lain ikut terganggu.”

 

Malam semakin larut. Angin desa membawa aroma laut dari arah Bandealit. Zahira memandangi langit penuh bintang dan merasa hatinya hangat. Ia sadar, keberanian bukan hanya soal berani masuk hutan, tetapi berani bertanggung jawab.

 

“Sebelum kita pulang, aku ingin satu hal,” kata Zahira.

 

“Apa itu?” tanya Nabil.

 

“Besok, kita kembali ke hutan. Tapi bukan untuk bermain. Kita kembali sebagai penjaga.”

 

Semua terdiam, lalu mengangguk bersamaan.

 

Di Desa Andongrejo, di antara peta dan catatan sederhana, enam anak menyusun rencana besar. Rencana yang mungkin kecil di mata dunia, tetapi besar bagi hutan yang mereka cintai.

 

Petualangan Zahira benar-benar baru dimulai.

==================================================================

Garahan, 09 Januari 2026 / Jumat, 20 Rajab 1447 H, 00.28 WIB

 

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post