Episode 22 Belajar Mengobservasi Alam (T.696)
Pagi itu, Hutan Meru Betiri menyambut Zahira dan teman-temannya dengan udara segar. Embun masih menggantung di ujung daun ketika mereka melangkah masuk kembali ke rimba. Kali ini langkah mereka lebih teratur. Bukan lagi sekadar petualangan, melainkan sebuah misi belajar.
Zahira berjalan paling depan sambil membawa buku kecil.
“Ingat, ya,kita mengamati, bukan menyentuh sembarangan.”
Nisa mengangguk setuju.
“Alam itu seperti perpustakaan hidup. Kalau kita merusaknya, ilmunya bisa hilang.”
Afif menahan langkahnya ketika melihat sekawanan burung beterbangan.
“Aku hampir mengejar tadi. Untung ingat pesan Zahira.”

Fathir yang membawa peta berhenti sejenak.
“Kita di jalur aman. Jangan keluar garis ini.”
Mereka tiba di dekat rumpun pohon Dehaasia pugerensis yang pernah mereka temukan. Daunnya tampak berkilau terkena cahaya pagi.
“Cantik sekali,” gumam Nabil sambil mengangkat ponselnya. “Jangan pakai flash, Bisa mengganggu satwa kecil.” Kata Nisa.
Bagas berjongkok, mengamati tanah.
“Ada bekas tapak di sini. Tapi kita tidak perlu mengikuti, cukup dicatat.”
Zahira menulis di bukunya. Lokasi: jalur utara. Kondisi: aman. Jejak satwa terlihat

Tak jauh dari sana, mereka mendengar suara dedaunan bergerak. Afif refleks ingin maju, tetapi Zahira memberi isyarat berhenti.
“Duduk,” bisiknya.
Mereka berjongkok bersama. Dari balik semak, seekor kukang Jawa terlihat bergerak lambat di dahan rendah.
“Masya Allah…” kata Fathir nyaris tak bersuara.
Nisa mencatat cepat.
“Kukang Jawa, aktif pagi ini.”
Nabil mengambil gambar dari jarak aman.
“Tenang saja, aku pakai zoom.”
Mereka mengamati dengan sabar hingga kukang itu menghilang di balik daun. Tak satu pun dari mereka mencoba mendekat.
“Rasanya lebih menyenangkan begini,” kata Afif.
“Melihat tanpa mengganggu.”

ahira tersenyum.
“Itulah cara sahabat alam.”
Di perjalanan pulang, Bagas melepas tanda jalur yang mereka pasang kemarin. “Tugas selesai, tanda harus diambil.”
“Supaya hutan tetap seperti semula,” tambah Nisa.
Menjelang siang, mereka duduk di bawah pohon besar untuk beristirahat. Zahira menutup bukunya.
“Hari ini kita belajar apa?” tanyanya.
Fathir menjawab pelan,
“Bahwa keberanian tidak selalu berarti bertindak.”
“Kadang justru menahan diri,” sambung Afif.
Nabil tersenyum,
“Dan tidak semua harus direkam dekat-dekat.”
Bagas mengangguk.
“Mengamati dengan bijak.”
Zahira memandang hutan di sekeliling mereka.
“Kalau semua orang belajar seperti ini, hutan akan tetap hidup.”
Hutan Meru Betiri seolah menyetujui. Angin berembus lembut, daun-daun berbisik pelan. Bab ini bukan tentang langkah besar, melainkan tentang sikap kecil yang menjaga keseimbangan alam.
Petualangan Zahira terus berjalan, semakin matang dan penuh makna.
====================================================================
Garahan, 10 Januari 2026 / Sabtu, 19 Rajab 1447 H, 07.58 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
