Episode 8 Warna Hijau dan Surga (T.713)
Bagi sebagian anak di kelas, warna hijau hanyalah salah satu pilihan dari sekotak krayon. Ia dipakai untuk menggambar rumput, daun, atau bukit kecil di kejauhan. Setelah itu, krayon hijau akan kembali ke tempatnya, berdampingan dengan merah, biru, kuning, dan warna-warna lain yang dianggap lebih menarik. Namun bagi Fathir, hijau bukan sekadar warna. Hijau adalah cerita. Hijau adalah doa yang ia simpan diam-diam.
Sejak kecil, Fathir sudah akrab dengan warna itu. Di rumahnya yang sederhana, tak banyak benda berwarna mencolok. Tapi setiap pagi, ia selalu melihat hijau: daun pisang di belakang rumah, sawah yang membentang, lumut di batu-batu kecil dekat sumur. Hijau hadir tanpa pernah meminta perhatian. Ia tenang, ia setia, dan ia selalu ada.

Suatu sore, ketika Fathir masih duduk di pangkuan ibunya, ia pernah bertanya mengapa ayahnya begitu sering menyebut kata surga dalam doa. Ibunya tersenyum lembut, lalu berkata,
“Kata Ayah, Nak, surga itu banyak hijaunya. Penuh taman. Penuh keteduhan. Tidak panas, tidak menyakitkan.”
Sejak hari itu, kata hijau dan surga perlahan bertaut di benak Fathir.
Di madrasah, Fathir sering mendengar kisah-kisah yang membuat hatinya hangat. Tentang Rasulullah yang menyukai kesejukan. Tentang orang-orang saleh yang kelak berada di taman-taman surga, di bawah naungan pepohonan. Tentang pakaian penduduk surga yang berwarna hijau, sebagaimana pernah diceritakan ustadz di kelas. Fathir tidak menghafalnya dengan sempurna, tapi ia menyimpannya di hati.

Mungkin itulah sebabnya ia selalu memilih krayon hijau.
Saat teman-temannya menggambar rumah besar dengan atap merah atau mobil mewah berwarna hitam mengilap, Fathir menggambar bukit yang hijau, pohon yang rimbun, dan jalan kecil yang sepi. Bukan karena ia tak tahu warna lain, melainkan karena hijau terasa cukup. Hijau terasa aman. Hijau terasa seperti pulang.
Ia sadar, tidak semua orang mengerti pilihannya. Tawa kecil dan ejekan sering mampir ke telinganya. Tapi Fathir belajar satu hal penting: Tidak semua makna harus dijelaskan. Ada yang cukup dirasakan sendiri.
Di dalam diamnya, Fathir sering membayangkan masa depan. Ia tidak membayangkan gedung tinggi atau mobil mahal. Ia membayangkan dirinya berjalan di tempat yang hijau dan tenang, bersama orang-orang yang ia cintai. Ia membayangkan ayah dan ibunya tersenyum tanpa lelah. Ia membayangkan doa-doanya menemukan jalan.

Hijau mengajarkannya tentang kesabaran. Tentang tumbuh perlahan. Tentang tidak perlu mencolok untuk menjadi berarti.
Ketika ia menutup tas dan menyimpan krayon hijau di bagian paling atas, itu bukan kebiasaan tanpa arti. Itu seperti menaruh harapan di tempat yang paling mudah dijangkau. Pengingat bahwa ia punya pegangan. Bahwa mimpinya, sekecil apa pun, punya arah.
Fathir tahu, suatu hari nanti ia mungkin akan memiliki lebih banyak warna. Tapi hijau akan selalu menjadi yang pertama. Warna yang mengajarkannya tentang syukur, keteduhan, dan tujuan yang lebih besar dari sekadar pujian teman-teman.
Bagi Fathir, hijau adalah janji. Dan surga adalah arah.
====================================================================
Garahan, 28 Januari 2026 / Rabu, 11 Sya'ban 1447 H, 07.40 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
