Episode 12 Guru yang Memperhatikan (T.717)
Pagi itu, kelas terasa lebih tenang dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela kayu, menyentuh debu halus yang menari di udara. Anak-anak duduk di bangku masing-masing, sebagian masih berbincang pelan, sebagian lain sudah membuka buku gambar. Fathir duduk seperti biasa di barisan tengah, tas kain cokelatnya tersandar di kaki kiri. Di dalamnya, krayon hijau tersimpan rapi di bagian paling atas.
Pelajaran seni dimulai tanpa banyak pengumuman. Ustadz Saiful hanya berdiri di depan kelas, tersenyum kecil, lalu berkata,
“Hari ini, silakan menggambar apa pun yang kalian sukai.” Tidak ada tema khusus. Tidak ada batasan. Hanya kertas dan kebebasan.

Anak-anak langsung sibuk. Kotak krayon dibuka, warna-warna berserakan. Meja-meja menjadi ramai oleh suara gesekan dan tawa kecil. Fathir membuka tasnya perlahan. Seperti biasa, ia mengeluarkan pensil pendek, penghapus kecil, dan krayon hijau yang kini tinggal lebih pendek dari separuh jari. Ia menatap kertas putih di depannya, lalu menarik napas dalam-dalam.
Ia tidak menggambar rumah besar atau gunung tinggi. Ia juga tidak membuat pola rumit. Fathir mulai dengan satu garis sederhana. Garis itu pelan, nyaris ragu. Lalu disusul garis lain, membentuk lengkung yang ia kenal baik. Huruf demi huruf Arab mulai muncul. Tidak sempurna, tidak simetris, tetapi jujur. Setiap goresannya lahir dari kesabaran.
Sementara itu, Ustadz Saiful berjalan mengelilingi kelas. Ia berhenti di beberapa meja, memuji warna yang berani, memberi saran kecil tentang bayangan atau proporsi. Hingga langkahnya tiba di meja Fathir.
Ia tidak langsung bicara.
Ustadz Saiful menunduk sedikit, memperhatikan kertas putih yang hanya diisi satu warna. Hijau. Matanya menyusuri garis-garis yang tidak selalu lurus, tetapi terasa hidup. Ia melihat bagaimana tekanan krayon berubah-ubah, bagaimana jeda-jeda kecil muncul di antara huruf, seolah penulisnya benar-benar berpikir sebelum melanjutkan.
“Kamu menulis apa ini?” tanyanya akhirnya, suaranya lembut.

Fathir terkejut kecil. Tangannya berhenti. Ia menoleh perlahan. “Allah, Ustadz,” jawabnya pelan.
Ustadz Saiful tersenyum. Bukan senyum basa-basi. Ada sesuatu di wajahnya seperti menemukan sesuatu yang selama ini terlewat.
“Kamu menulisnya pelan sekali,” katanya.
Fathir mengangguk.
“Takut salah dan kalau salah apa yang Fathir lakukan?”
Fathir berpikir sejenak.
“Fathir ulang pelan-pelan, Ustadz.”
Ustadz Saiful berdiri lebih tegak. Ia melihat sekeliling kelas, lalu kembali menatap karya Fathir.

“Tahukah kamu, menulis dengan hati-hati seperti ini tidak semua anak bisa. Banyak yang ingin cepat selesai. Tapi kamu memilih sabar.”
Fathir tidak menjawab. Dadanya terasa hangat, tapi juga asing. Ia tidak terbiasa dipuji.
Sejak hari itu, Ustadz Saiful mulai lebih sering memperhatikan Fathir. Bukan dengan sorot yang membuat canggung, melainkan perhatian yang tenang. Ia kadang berhenti lebih lama di mejanya. Kadang bertanya pelan tentang huruf yang sedang ditulis. Kadang hanya mengangguk kecil, seolah berkata: lanjutkan.
Suatu sore, setelah kelas usai, Ustadz Saiful memanggil Fathir. Anak-anak lain sudah keluar, halaman madrasah mulai sepi.
“Kamu suka menulis kaligrafi?” tanyanya.
Fathir mengangguk.
“Pakai satu krayon pun tidak apa-apa,” lanjut ustadz itu.
“Yang penting, kamu tahu apa yang kamu tulis, dan mengapa kamu menulisnya.”
Fathir pulang hari itu dengan langkah yang sedikit berbeda. Tas kain cokelatnya tetap sama berat. Krayon hijaunya tetap pendek. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang bertambah.
Untuk pertama kalinya, ada orang dewasa yang tidak melihat apa yang ia tidak punya, tetapi melihat bagaimana ia menggunakan yang sedikit itu dengan sepenuh hati.
Dan Fathir mulai percaya, mungkin mimpinya tidak sendirian lagi.
===================================================================
Garahan, 01 Februari 2026 / Ahad, 12 Sya'ban 1447nH, 10.57 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
