Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 16 Krayon yang Tinggal Sejengkal (T.721)

Episode 16 Krayon yang Tinggal Sejengkal (T.721)

Pagi itu, krayon hijau di tangan Fathir tinggal sejengkal. Tidak lebih panjang dari ruas jari telunjuknya. Kertas pembungkusnya hampir seluruhnya terlepas, hanya tersisa sobekan kecil yang masih setia melingkar, seolah enggan berpisah.

 

Fathir memandangi krayon itu lama. Terlalu lama untuk sekadar memilih alat gambar. Ada rasa sayang yang menahan jarinya. Ada takut yang berbisik pelan.

 

Jika ia memakainya hari ini, krayon itu mungkin akan benar-benar habis. Jika ia menyimpannya, kertas putih di depannya akan tetap kosong.

 

Di kelas, Ustadz Saiful meminta anak-anak membuat karya bebas. Tidak ada tema khusus. Tidak ada penilaian angka. “Gambarlah yang ingin kalian sampaikan,” katanya.

 

Teman-teman Fathir langsung sibuk. Kotak krayon dibuka, warna-warna berhamburan. Meja-meja kembali ramai oleh gesekan cepat dan tawa kecil.

 

Fathir membuka tasnya perlahan. Tangannya berhenti di bagian paling atas. Di sanalah krayon hijau itu berbaring, pendek, rapuh, namun penuh cerita.

 

Ia teringat malam doanya. Ia teringat rasa takut akan pujian. Ia teringat kaligrafi pertama yang ia simpan diam-diam.

 

Untuk sesaat, Fathir berpikir untuk tidak menggambar. Menyimpan krayon itu sebagai kenangan. Bukti bahwa ia pernah berani bermimpi.

 

Namun lalu ia ingat sesuatu yang lebih dalam.

 

Krayon itu bukan diciptakan untuk disimpan. Ia diciptakan untuk meninggalkan jejak.

 

Dengan napas yang tertata, Fathir mengeluarkan krayon hijau itu. Ia tidak menekan kuat. Ia membiarkan garis keluar pelan, tipis, seolah meminta izin pada setiap sentuhan kertas.

 

Satu garis. Berhenti. Lalu satu lengkung kecil.

 

Ia tidak mengejar bentuk sempurna. Ia hanya memastikan setiap goresan jujur.

 

Saat krayon itu semakin pendek, Fathir tidak panik. Justru ada ketenangan yang tumbuh. Jika ini memang akhir, ia ingin akhir itu bermakna.

 

Ketika bel berbunyi, kertas Fathir belum penuh. Namun di sana ada satu tulisan kecil, sederhana, hijau, dan utuh.

 

Krayon itu kini tinggal serpih kecil. Hampir tak bisa digenggam. Fathir memungutnya dengan hati-hati, lalu menyimpannya kembali di tas.

 

Ia tersenyum kecil.

===============================================================================================

Garahan, 05 Februari 2026 / Kamis, 17 Sya'ban 1447 H, 05.58 WB

 

Krayon itu mungkin hampir habis. Namun keberanian untuk memilih telah membuatnya tumbuh.

 

Dan Fathir tahu, mulai hari itu, ia tidak lagi takut kehilangan. Karena yang paling penting telah berpindah tempat dari krayon ke hatinya.

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post