Episode 17 Lomba Kaligrafi di Madrasah (T.722)
Pengumuman itu datang di akhir pelajaran, saat anak-anak sudah mulai gelisah menunggu bel istirahat kedua. Ustadz Saiful berdiri di depan kelas dengan selembar kertas di tangan. Suaranya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di nada bicaranya yang membuat kelas mendadak hening.
“Bulan depan, madrasah kita akan mengadakan lomba kaligrafi tingkat siswa.”
Beberapa anak langsung bersorak kecil. Ada yang saling menyenggol, ada yang tersenyum penuh percaya diri. Kotak krayon warna-warni terbayang di benak mereka. Spidol baru. Kertas tebal. Semua kemungkinan itu terasa seperti undangan pesta.
Di bangku belakang, Fathir tidak bersuara.
Tangannya refleks menyentuh tas kain cokelat di samping kakinya. Di dalamnya, krayon hijau itu tinggal serpih kecil hampir tak pantas disebut alat lomba. Dadanya bergetar pelan, bukan karena senang, melainkan karena sesuatu yang berat dan tiba-tiba tumbuh. Takut?????
Bukan takut kalah. Bukan takut dinilai. Ia takut pada satu hal yang lebih sunyi: harapan. Harapan yang mulai mengetuk pintu hatinya tanpa permisi.
Sepanjang sisa pelajaran, kata lomba berputar-putar di kepalanya. Ia membayangkan kertas besar, meja panjang, dan banyak mata yang menatap. Ia membayangkan tangannya sendiri yang biasa bergerak pelan dan ragu harus menulis di bawah waktu dan perhatian.
“Untuk lomba ini,” lanjut Ustadz Saiful,
“kalian boleh memakai alat apa pun yang ada. Tidak harus mahal. Yang penting niat dan kesungguhan.”
Kalimat itu terdengar seperti ditujukan pada seluruh kelas, tapi entah mengapa, Fathir merasa kata-kata itu berhenti tepat di depannya.
Saat bel berbunyi, anak-anak berhamburan keluar sambil membicarakan strategi dan warna. Fathir tetap duduk sejenak. Ia membuka tasnya perlahan. Serpih krayon hijau itu ada di sana, diam, kecil, setia.
“Apa aku pantas ikut?” bisiknya dalam hati.
Ia teringat doa-doa malamnya. Tentang menjaga niat. Tentang tetap kecil di hadapan Yang Maha Besar. Lomba itu terasa seperti ujian yang tidak pernah ia minta bukan ujian kemampuan, melainkan ujian hati.
Sore itu, Fathir pulang dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Di rumah, ia tidak langsung menggambar. Ia duduk lama di depan kertas putih, menatap kosong. Untuk pertama kalinya, krayon hijau itu tidak ia sentuh.
Malamnya, sebelum tidur, ia kembali membuka tas. Ia memungut serpih krayon itu dengan dua jari, seolah takut mematahkannya.
“Kalau aku ikut,” pikirnya, “apa aku masih menulis untuk-Mu?”
Pertanyaan itu tidak langsung menemukan jawaban. Tapi di dalam keheningan kamar, di antara napas yang teratur dan cahaya lampu minyak yang meredup, satu hal menjadi jelas bagi Fathir:
Apa pun keputusannya nanti, ia ingin tetap jujur. Jika ia menulis, ia ingin menulis seperti biasa pelan, hati-hati, dan penuh rasa syukur. Lomba itu memang mengguncang hatinya. Namun justru dari guncangan itulah, Fathir mulai belajar berdiri lebih tegak tanpa meninggikan diri.
===============================================================================================
Garahan, 06 Februari 2026 / Jum'at, 19 Sya'ban 1447 H, 07.50 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
