Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode 26 Tepuk Tangan untuk Fathir (T.734)

Episode 26 Tepuk Tangan untuk Fathir (T.734)

Tepuk tangan itu tidak langsung pecah. Sejenak setelah nama Fathir disebut, ruangan masih diliputi keheningan yang lembut. Seolah setiap orang sedang memastikan apa yang baru saja mereka dengar atau mungkin sedang merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Lalu, dari barisan tengah, terdengar satu tepuk tangan. Pelan. Tulus. Disusul tepuk tangan lain.           Kemudian beberapa lagi. Tak lama kemudian, seluruh ruangan dipenuhi bunyi yang hangat. Bukan riuh yang memekakkan, melainkan tepuk tangan yang terasa dekat seperti dukungan yang datang tanpa diminta. Fathir berdiri di depan dengan sertifikat yang ia pegang ringan di dada. Ia tidak menoleh ke sekeliling dengan bangga. Ia hanya menunduk sedikit, seakan mengembalikan semua pujian pada tempat yang lebih tinggi dari dirinya.

 

          Ketika ia kembali ke tempat duduk, beberapa teman menatapnya berbeda dari sebelumnya. Fadil, yang dulu pernah mengejek, mendekat pelan. Ia tidak langsung bicara. Hanya berdiri sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, “Gambarmu… tenang sekali.” Fathir mengangguk kecil. Tidak ada jawaban panjang. Namun matanya hangat. Di sisi lain, Faris menggeser bangkunya sedikit mendekat. “Boleh lihat lagi tulisannya nanti?” tanyanya hati-hati.

Fathir mengangguk lagi.

 

Kali ini dengan senyum tipis yang jujur. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang berubah secara dramatis. Namun sesuatu di antara mereka terasa berbeda.

 

Teman-teman yang dulu melihat satu warna sebagai kekurangan, kini melihat kesungguhan di baliknya. Mereka tidak hanya melihat hasilnya mereka mulai melihat perjalanan yang mengantarkannya.

 

          Di sudut ruangan, beberapa siswa masih membicarakan karya yang penuh warna dan ornamen indah. Namun di sekitar Fathir, suasana lebih tenang. Percakapan pendek. Tatapan hormat. Kehangatan yang sederhana.

 

Ustadz Saiful memperhatikan dari kejauhan. Ia tidak memanggil Fathir. Ia tidak memberi pujian panjang. Hanya sebuah anggukan kecil yang penuh makna.

 

Seolah berkata: kamu tetap sama.

 

          Dan memang, Fathir tidak merasa dirinya berubah menjadi seseorang yang baru. Ia tetap anak yang duduk di meja belakang. Tetap anak yang menggambar dengan satu warna. Tetap anak yang lebih sering diam daripada berbicara.

 

Namun hari itu, ia belajar sesuatu yang baru.

 

          Pengakuan tidak selalu datang dalam kata-kata besar. Kadang ia hadir dalam cara orang lain mendekat tanpa merendahkan. Dalam cara mereka bertanya tanpa mengejek. Dalam tepuk tangan yang tidak memaksa, tetapi tulus.

 

Saat pulang, Fathir berjalan seperti biasa melewati halaman madrasah. Tas kain cokelatnya tergantung di bahu. Sertifikat tersimpan rapi di dalamnya, berdampingan dengan serpih krayon hijau yang telah habis.

 

          Ia menyentuh tas itu sebentar. Bukan untuk memastikan kemenangan masih ada. Melainkan untuk mengingat perjalanan yang membawanya sampai ke sana. Langkahnya kecil. Namun kali ini, ia tahu, ia tidak berjalan sendirian.

===============================================================================================

Garahan, 19 Februari 2026 / Kamis, 1 Ramadhan 1447 H, 22.05 WIB

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post