Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Nogosari atau Sompel (Madura) Antara Tradisi dan Ritual (T.730)

Nogosari atau Sompel (Madura) Antara Tradisi dan Ritual (T.730)

Di tengah keragaman kuliner Nusantara, jajanan pasar tidak hanya berfungsi sebagai makanan ringan, tetapi juga sebagai simbol budaya yang hidup dalam praktik sosial masyarakat. Salah satu contohnya adalah Nogosari dikenal sebagai Sompel dalam tradisi Madura kue berbahan tepung beras, santan, gula, dan pisang kepok yang dibungkus daun pisang lalu dikukus hingga matang. Kehadirannya yang konsisten dalam acara tahlilan menunjukkan bahwa makanan ini memuat dimensi historis sekaligus filosofis.

Asal-usul dalam Tradisi Agraris

Secara historis, Nogosari berkembang dalam lingkungan masyarakat agraris di Pulau Jawa dan kemudian beradaptasi di berbagai wilayah, termasuk Madura. Komposisi bahannya mencerminkan sumber pangan utama masyarakat tradisional: beras sebagai hasil sawah, santan dari kelapa sebagai tanaman pekarangan, serta pisang sebagai buah yang mudah dibudidayakan.

Kesederhanaan bahan tersebut bukan kebetulan, melainkan cerminan struktur ekonomi dan pola hidup masyarakat pedesaan. Dalam konteks budaya pangan tradisional, makanan yang mudah diproduksi dari sumber lokal cenderung menjadi bagian dari ritual sosial karena dapat disiapkan bersama dan dibagikan secara merata.

Di Madura, istilah “sompel” merujuk pada bentuk kue yang padat dan terbungkus rapat. Adaptasi lokal ini menegaskan bahwa satu jenis makanan dapat mengalami transformasi nama dan bentuk tanpa kehilangan fungsi simboliknya.

Fungsi Sosial dalam Tradisi Tahlilan

Nogosari atau Sompel lazim disajikan dalam acara tahlilan pada peringatan hari ke-7, ke-40, ke-100, hingga haul (peringatan tahunan wafat). Dalam kerangka antropologi budaya, penyajian makanan pada ritual kematian memiliki fungsi ganda: sebagai bentuk sedekah sekaligus sarana mempererat solidaritas komunitas.

Distribusi makanan kepada peserta tahlilan menandai praktik berbagi berkah (barokah) dan memperkuat jaringan sosial keluarga yang berduka. Dengan demikian, keberadaan Nogosari tidak dapat dipisahkan dari fungsi sosial makanan sebagai medium hubungan antarindividu dalam masyarakat.

Simbolisme Bahan dan Bentuk

Seperti banyak makanan tradisional Nusantara, Nogosari memuat simbolisme yang berkaitan dengan pandangan hidup masyarakat.

Tepung beras melambangkan sumber kehidupan dan keberlanjutan. Dalam masyarakat agraris, beras tidak sekadar pangan, tetapi simbol kesejahteraan dan asal kehidupan manusia dari alam.

Santan menghadirkan tekstur lembut dan rasa gurih yang sering dimaknai sebagai lambang ketulusan dan keikhlasan dalam niat berdoa.

Pisang yang terbungkus adonan merepresentasikan manusia yang berada dalam perlindungan baik perlindungan keluarga, masyarakat, maupun doa yang dipanjatkan bagi yang wafat.

Daun pisang sebagai pembungkus memiliki makna kesederhanaan sekaligus kefanaan. Sifatnya yang alami dan mudah lapuk mengingatkan pada sifat sementara kehidupan dunia.

Struktur kue yang menyatu isi, adonan, dan pembungkus mencerminkan keselarasan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Makna Budaya dalam Perspektif Ilmiah Populer

Dari sudut pandang kajian budaya, Nogosari atau Sompel dapat dipahami sebagai artefak kuliner yang memuat tiga lapisan makna:

Ekologis — menggunakan bahan lokal yang mencerminkan lingkungan hidup masyarakat. Sosial — menjadi media berbagi dalam ritual komunal. Simbolik — menyampaikan nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan siklus kehidupan.

Kehadiran makanan ini dalam berbagai tahap peringatan kematian menunjukkan bahwa kuliner tradisional berfungsi sebagai bahasa simbolik yang dipahami bersama oleh komunitas.

Penutup

Nogosari atau Sompel bukan sekadar jajanan pasar, melainkan representasi hubungan antara manusia, alam, dan tradisi spiritual. Melalui bahan yang sederhana dan proses pengolahan yang kolektif, kue ini menyimpan narasi panjang tentang kehidupan agraris, solidaritas sosial, dan filosofi tentang kefanaan.

Dengan demikian, setiap sajian Nogosari dalam tahlilan tidak hanya menghadirkan rasa, tetapi juga menghadirkan ingatan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

===================================================================

Garahan, 20 Februari 2026 / Jum'at, 3 Ramadhan 1447 H, 23.24 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post