Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Rasa Empati yang terkikis (T.736)

Rasa Empati yang terkikis (T.736)

Ironis dijaman serba teknologi dan informasi yang cepat, sebuah budaya yang mulai terkikis dengan gemerlapnya dunia fantasi, dunia penuh sandiwara, dunia panggung sirkus atau dunia yang membuat mata, hati dan telinga tertutup rapat.

Di dunia kerja, hubungan antara atasan dan bawahan sering kali diwarnai oleh dinamika kekuasaan yang tidak seimbang. Salah satu manifestasi yang sering terlihat adalah sikap empati yang berat sebelah. Bawahan kerap menunjukkan kepedulian tinggi terhadap atasan mereka, misalnya dengan menjenguk saat atasan sakit atau memberikan dukungan saat keluarga atasan meninggal dunia. Bahkan, tidak jarang bawahan patungan bersama rekan-rekannya untuk menyumbangkan sebagian rezeki mereka guna meringankan beban kesedihan atasan. Tindakan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghormatan dan solidaritas yang tulus, di mana bawahan berharap membangun hubungan yang lebih harmonis di lingkungan kerja.

Bayangkan seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan kecil. Ketika atasan mereka mengalami musibah, seperti kehilangan orang tua, bawahan ini dengan sigap mengorganisir kunjungan ke rumah duka. Mereka membawa sumbangan uang atau barang keperluan, sambil menyampaikan doa dan ucapan belasungkawa. Ini adalah tradisi budaya yang kuat di masyarakat kita, di mana nilai gotong royong masih dijunjung tinggi. Bagi bawahan, tindakan ini juga menjadi cara untuk menunjukkan loyalitas, berharap dihargai sebagai bagian dari tim yang solid. Namun, ironisnya, ketika giliran bawahan yang ditimpa musibah—misalnya keluarga mereka sakit parah atau meninggal—atasa sering kali absen. Tidak ada kunjungan ke rumah, tidak ada telepon penyemangat, bahkan ucapan "turut berduka cita" pun tak terucap. Padahal, bagi bawahan, yang diharapkan bukanlah materi atau hadiah mewah, melainkan kehadiran atasan sebagai bentuk penghargaan. Sekadar doa atau kata-kata penyemangat bisa menjadi motivasi yang tak ternilai, memperkuat rasa dihargai dan termotivasi dalam bekerja.

Mengapa hal ini sering terjadi? Apakah atasan tidak mendengar atau melihat penderitaan bawahan mereka? Kemungkinan besar, ada beberapa faktor. Pertama, kesibukan urusan kantor yang membebani atasan, membuat mereka lupa atau mengabaikan aspek manusiawi. Di era digital ini, atasan mungkin lebih fokus pada target bisnis daripada hubungan interpersonal. Kedua, sikap cuek atau kurangnya kesadaran emosional; sebagian atasan melihat bawahan hanya sebagai "alat" produksi, bukan sebagai manusia dengan perasaan. Ketiga, hierarki yang kaku di budaya kerja Indonesia sering membuat atasan merasa tidak perlu "turun level" untuk menunjukkan empati, sementara bawahan diharuskan selalu menghormati. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan kekecewaan, tapi juga menurunkan moral kerja. Penelitian dari psikologi organisasi menunjukkan bahwa empati timbal balik dapat meningkatkan produktivitas hingga 20%, karena karyawan merasa dihargai.

Perhatian atasan kepada bawahan akan mempererat hubungan emosional, empati dan simpati kepada bawahan adalah mata rantai yang saling menguatkan, kepedulian atasan kepada bawahannya merupakan satu bentuk rasa hormat menghormati sesama manusia yang tidak memandang status.

====================================================

Garahan, 26 Februari 2026 / Kamis, 08 Ramadhan 1447 H, 00.34 WIB

   
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post