Aku Lebaran, Kamu Nyepi (T.760)
Beberapa Media Sosial memberitakan tentang dua hari raya yang berdekatan yaitu Hari Raya Idul Fitri 1447 H bagi Umat Muslim dan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 bagi umat Hindu. Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 19 Maret 2026, sedangkan Umat Muslim di tanggal yang sama melaksanakan malam takbir. Muhammaddiyah menetapkan hari Jum’at 20 Maret 2026, sementara pemerintah menetapkan Sabtu, 21 Maret 2026.
Dua peristiwa hari raya ini menguji toleransi beragama terutama di pulau Bali, Dua agama ini merayakan keagamaan masing-masing dengan penuh toleransi, di saat Umat Hindu merayakan Nyepi dengan Catur Brata Penyepian( Amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan) atau amati hening total sementara kaum Muslim melaksanakan malam takbir tanpa keliling hanya melaksanakan takbiran dirumah masing-masing untuk menjaga kekhusyukan Nyepi.
Di lingkungan saya yaitu daerah kabupaten Jember sebagian besar melaksanakan Idul Fitri 1447 H sesuai anjuran pemerintah pada hari Sabtu Tanggal 21 Maret 2026. Kebetulan dalam keluarga saya, ada paman dan bibi beragama Hindu yang ada di Pulau Bali, Istri menelpon paman yang ada di Bali suruh pulang kampung setelah hari Nyepi untuk merayakan Idul Fitri di kampung. Paman dahulu adalah muslim karena beristri orang beragama hindu, ia ikut agama Hindu. Alhamdulillah, Paman dan bibi mau pulang kampung.
Hari Jum’at siang, Paman dan bibi tiba di rumah dengan selamat naik sepeda motor, mereka berangkat dari Bali setelah pembukaan hari raya Nyepi pada jam enam pagi. Keluarga saya menyambut mereka dengan penuh suka cita dan mereka berencana Idul Fitri bersama-sama kami walaupun hanya sebatas toleransi. Nampak keakraban mewarnai sore dengan kehangatan walaupun kami beda agama, beda keyakinan, beda suku, beda bahasa.
Keunikan toleransi terjadi pada saat buka puasa bersama, kita telah menyiapkan makanan dan minuman di lantai (lesehan), Paman dan bibi menghormati keluarga saya yang sedang berpuasa, duduk melingkar menunggu saat adzan maghrib tiba. Sambil bercanda dengan anak-anak, paman dan bibi berbagi cerita tentang hari hari raya Nyepi. Adzan Maghrib, kini telah terdengar di masjid, Keluarga saya yang melaksanakan Ibadah puasa berdoa terlebih dahulu dengan membaca doa buka puasa sementara paman dan bibi berdoa sesuai dengan agama mereka yaitu Om Anugraha amrtadi sanjiwani Ya amah swaha, artinya Ya Tuhan (Sang Hyang Widhi), Semoga makanan ini menjadi penghidup hamba lahir dan batin yang suci (Amerta).”
Hari ini Suara Takbir hari raya Idul Fitri menggema di Toa Masjid kampung, Suka cita merasuk dalam jiwa setiap insan muslim untuk melaksanakan Sholat ‘Ied di masjid kampung, baju baru, sarung baru, sandal baru, celana baru semua serba baru menghiasi jalan perkampungan menuju masjid. Paman dan bibi berada di rumah menunggu kami turun dari masjid, setelah acara sholat ‘Ied selesai, umat muslim bersalam-salaman begitu juga dengan paman dan bibi menyambut tetangga dengan bersalaman bahkan mereka ikut keliling kampung bermaaf-maafan. Alhamdulillah toleransi Nampak begitu kental dalam keluarga kami. Semoga toleransi ini akan terus terpupuk dan lestari dalam keluarga kami.
=================================================================
Garahan, 22 Maret 2026 / Ahad, 02 Syawal 1447 H
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
