Dari Tantangan Literasi Menuju Kelas yang Aktif dan Percaya Diri (T.743)
Di MIN 4 Jember, guru bernama Dwi Rahayu Agustini menghadapi tantangan mendasar dalam pembelajaran awal: masih ada siswa yang belum mampu membaca. Kondisi ini membuat sebagian anak kesulitan mengikuti instruksi, memahami materi, dan berpartisipasi dalam kegiatan kelas.
Secara pedagogis, kemampuan membaca merupakan fondasi utama bagi proses belajar. Tanpa literasi dasar, siswa cenderung pasif karena kurang percaya diri dan khawatir melakukan kesalahan. Oleh karena itu, upaya peningkatan kemampuan membaca perlu berjalan seiring dengan penciptaan suasana belajar yang aman dan suportif.
Pendekatan yang dapat dilakukan adalah pembelajaran bertahap dan kontekstual. Guru dapat memulai dengan pengenalan huruf melalui media visual, permainan fonik, serta kegiatan membaca bersama dalam kelompok kecil. Aktivitas sederhana seperti membaca nyaring bergantian atau mencocokkan gambar dengan kata membantu siswa belajar tanpa tekanan.
Seiring meningkatnya kemampuan membaca, keaktifan siswa pun tumbuh secara alami. Anak yang mampu memahami teks akan lebih berani bertanya, menjawab, dan terlibat dalam diskusi. Harapan untuk melihat siswa aktif dalam pembelajaran bukan sekadar tujuan akhir, melainkan hasil dari proses pendampingan yang sabar, terarah, dan penuh kepedulian.
====================================================================
Garahan, 05 Maret 2026 / Kamis, 15 Ramadhan 1447 H, 22.40 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
