Kamu sibuk beli baju lebaran, Aku sibuk untuk bertahan (T.759)
Sepotong video melintas di beranda facebook, Helma begitulah panggilan namanya, seorang anak perempuan yang kuat, teguh pendirian, sabar menghadapi ujian yang begitu berat. Anak seusia dia yang masih berumur 12 tahun duduk di kelas 6 SD menjadi tulang punggung keluarganya yang berada di garis kemiskinan.
Menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini 2026, orang tua bersama anak-anaknya mengajak membeli baju baru, sandal baru, dan semua kebutuhan anak di hari kemenangan, Namun tidak begitu bagi Helma, Ia berjualan makanan ringan diatas kepalanya dengan nampah yang tak begitu berat untuk dijajakan di pasar desa, Ia sabar menunggu pembeli sampai sore hari, barang dagangan akan tetap ia pangku sebelum maghrib menjelang demi menghidupi neneknya yang lumpuh dan keponakannya yang masih kecil di bawah atap genteng yang bocor dan dinding anyaman bamboo yang mulai rapuh dimakan rayap.
Saat melihat orang tua membelikan baju untuk anaknya, Ia hanya bisa melihat dari kejauhan dengan irisan hati yang menyayat dan perih sambil berkata dalam hatinya:”Kamu sibuk memilih baju lebaran, aku sibuk untuk bertahan hidup.” Helma meneteskan air matanya sambil lalu menyeka air mata dipipinya dengan jilbab hitam yang telah using. Pikirannya tertuju kepada ayah ibunya yang telah meninggal beberapa tahun lalu, “Mengapa ayah dan Ibu begitu cepat meninggalkan Helma di dunia ini?”
Mengutip dari kisah nyata di atas, saya teringat dengan kisahku sendiri ketika ekonomi keluarga sedang berada di titik nadir yang tidak mengenakkan, harus berhadapan dengan hutang sana dan sini untuk bertahan hidup, ketika lebaran datang bukan kebahagiaan dan kemenangan yang diraih, Namun kesedihan dan kesabaran yang menghampiri, menghidupi empat orang anak agar mereka bahagia di hari yang fitrah. Apa daya kekuatan seorang ayah tidak mampu memberikan kebahagiaan anak secara utuh.
Masih terbayang ketika, Ibu menyuruh bapak untuk membelikanku baju lebaran di pasar walau hanya sepotong, Bapak berkata:”Saya tidak punya uang sepersenpun untuk membelikan baju untuk Galing (panggilan kecilku).” Ibu meneteskan air mata di dapur dan merasa sedih melihat saya tidak memakai baju baru lebaran kali ini. Ibu kerumah saudara untuk meminjam sejumlah uang, cukup untuk membeli kaos oblong di pasar, Setelah dari rumah saudara ibu, Ibu memberikan uang ratusan rupiah ke tangan bapak dan menyuruhnya untuk membeli baju di pasar.
Sepotong kaos putih terbeli dengan harga murah, bila di lihat dari luar, kaos itu tembus pandang karena sangat tipis, dengan senyum bahagia, saya dan bapak pulang ke rumah dengan mengantongi sepotong kaos untuk lebaran. Begitulah pengorbanan orang tua untuk membahagiakan anak-anaknya untuk menyambut Idul Fitri penuh kemenangan.
=================================================================
Hari Raya Idul Fitri, 21 Maret 2026 / Sabtu, 01 Syawal 1447 H, 00.14 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
