Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tradisi Nampanin dan Megengen (T.755)

Tradisi Nampanin dan Megengen (T.755)

Indonesia kaya dengan adat budaya, Indonesia melimpah dengan tradisi yang di wariskan secara turun menurun, Indonesia adalah Negara kaya dengan kearifan local yang terbantahkan dan Indonesia Negara yang penuh dengan misteri yang berhubungan dengan alam gaib.

Jember di juluki dengan Kota Pandhalungan tentunya ada akar budaya yang kental dalam kehidupan sehari-hari yang di latarbelakangi oleh adat istiadat yang telah menjadi bagian dalam kehidupan. Pandhalungan adalah sebutan yang telah di sahkan oleh Pemerintah daerah sebagai bagian dari budaya yang tak terpisahkan, Perpaduan/Kolaborasi budaya Jawa dan Madura menjadi satu sehingga terbentuklah kata Pandhalungan.

Judul yang tertera di atas adalah salah satu budaya yang masih terpelihara sampai detik ini, Kata “Nampanin” dan “Megengen” adalah dua kata yang berasal dari bahasa Madura dan Jawa yang memiliki arti yang sama (Sinonim). Dua kata yang berasal dua bahasa yang berbeda mempunyai arti menyambut bulan Puasa/Ramadhan dengan Tasyakuran, kenduren bersama-sama di Masjid atau Musholla yang dimulai disaat matahari terbenam yaitu setelah sholat ashar, Maghrib sampai Isya’.

Nampanin dan megengen yang mempunyai arti menyambut, menengadah, berharap, berdoa agar dibulan puasa yang akan dilaksanakan diberi kelancaran, kesehatan, keistikamahan sampai hari raya Idul Fitri. Ketika Masyarakat mendatangi Masjid dan Musholla tak luput membawa berkat sebagai bentuk manifestasi rasa syukur kepada Allah SWT secara vertikal dan Horisontal dengan berbagi berkat sesama warga yang berada di lingkungan dengan membaca Tahlil, Yasin dan berdoa yang dipimpin oleh Tokoh agama setempat.

Istilah Nampanin berlaku di wilayah Jember Utara dan Timur yang berbasis suku Madura, Kata Megengen berlaku bagi warga yang mempunyai bahasa Jawa di wilayah Jember Selatan dan barat. Wilayah kota berbaur dengan istilah tersebut baik itu Nampanin maupun Megengen sama-sama mempunyai arti yang sama.

Kearifan lokal ini perlu kita lestarikan bersama tanpa harus mencela atau meninggalkan tradisi yang telah berlaku sejak dahulu dalam kehidupan bermasyarakat, hal-hal yang mengikat kita berupa aturan yang tak tertulis yaitu budaya akan mempunyai dampak yang positif terutama kerukunan, keharmonisan dan kekeluargaan dalam masyarakat.

=================================================================

Garahan, 17 Maret 2026 / Senin, 27 Ramadhan 1447 H, 00.19 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post