Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 1 Pertemuan di Tepi Hutan Pinus (T.797)

Bab 1 Pertemuan di Tepi Hutan Pinus (T.797)

Pagi itu, udara desa terasa sangat segar. Embun masih menempel di ujung daun, dan sinar matahari menyelinap di antara pepohonan pinus yang tinggi menjulang. Angin berhembus pelan, membawa aroma khas hutan yang menenangkan.

Di tepi hutan pinus, tampak seorang anak perempuan berdiri sambil memandang ke dalam hutan. Namanya Zahra. Ia menggenggam tas kecilnya erat-erat, seolah sedang menunggu sesuatu.

“Apa mereka belum datang juga?” gumam Zahra pelan.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki berlari.

“Zahraaa!” teriak seseorang dari kejauhan.

Zahra tersenyum. Itu suara yang sangat ia kenal.

“Gilang!” balasnya sambil melambaikan tangan.

Gilang datang dengan napas sedikit terengah, diikuti oleh Fahmi yang berjalan lebih santai.

“Kamu datang lebih pagi lagi, ya,” kata Gilang sambil tersenyum.

“Aku tidak sabar,” jawab Zahra. “Hari ini kita jadi menjelajah hutan, kan?”

Fahmi mengangguk. “Iya, tapi jangan terlalu jauh. Kata orang tua, di dalam sana ada pohon pinus tertua yang… agak misterius.”

Zahra justru semakin penasaran. “Misterius bagaimana?”

Fahmi mengangkat bahu. “Katanya sih, ada rahasia yang disembunyikan di sana.”

Belum sempat Zahra bertanya lagi, terdengar suara langkah kaki lainnya.

“Akhirnya kumpul juga!” seru Nahda yang datang bersama Alan dan Andra.

“Maaf agak telat,” kata Alan. “Andra tadi masih mencari kompasnya.”

Andra tersenyum malu sambil menunjukkan sebuah kompas kecil di tangannya. “Biar tidak nyasar,” katanya.

Mereka pun saling berpandangan. Enam sahabat itu berdiri berjejer di tepi hutan pinus, dengan perasaan campur aduk penasaran, sedikit takut, tapi juga sangat bersemangat.

Zahra melangkah maju satu langkah.

“Teman-teman,” katanya pelan, “hari ini kita bukan hanya bermain. Kita akan menjelajah.”

Gilang mengangguk mantap. “Setuju! Kita harus berani.”

“Tapi tetap hati-hati,” tambah Nahda.

Fahmi tersenyum. “Kalau kita bersama, pasti bisa.”

Alan menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma hutan. “Tempat ini terasa… berbeda.”

Angin tiba-tiba berhembus sedikit lebih kencang, membuat daun-daun pinus bergesekan dan menimbulkan suara gemerisik yang panjang… seperti bisikan.

Andra memandang ke arah dalam hutan. “Kalian dengar itu?”

Zahra ikut menoleh. Di antara pepohonan yang rapat, seolah ada sesuatu yang menunggu mereka.

Namun bukannya mundur, Zahra justru tersenyum.

“Ayo,” katanya mantap. “Petualangan kita dimulai dari sini.”

Perlahan, mereka melangkah masuk ke dalam hutan pinus. Sinar matahari semakin redup tertutup oleh rimbunnya daun. Suara langkah kaki mereka berpadu dengan gemerisik daun kering di bawah kaki.

Tak ada yang mereka tahu, bahwa langkah kecil mereka hari ini akan membawa mereka pada sebuah rahasia besar rahasia yang tersembunyi di bawah pohon pinus tertua.

Dan petualangan mereka… baru saja dimulai.

=================================================================

Garahan, 28 April 2026 / Selasa, 11 Dzulqoidah 1447 H, 20.51 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post