Bab 3 Rahasia Kecil Nahda (T.800)
Pagi itu, matahari bersinar lebih cerah dari biasanya. Zahra sudah bangun sejak subuh. Ia hampir tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan buku tua dan peta misterius yang ia temukan.
Setelah bersiap, Zahra berlari kecil menuju tempat biasa mereka berkumpul tepi hutan pinus.
“Nahda! Gilang! Fahmi! Alan! Andra!” panggilnya begitu sampai.
Satu per satu, teman-temannya datang.
“Kamu semangat sekali hari ini,” kata Gilang sambil tersenyum.
“Ada apa, Zahra?” tanya Fahmi penasaran.
Tanpa menunggu lama, Zahra mengeluarkan buku tua dari tasnya.
“Aku menemukan ini semalam,” katanya.
Semua langsung mendekat.
“Wah… kelihatan tua sekali,” ujar Alan.
“Andra, kamu lihat simbol ini,” kata Fahmi sambil menunjuk salah satu halaman.
Andra mengangguk. “Seperti peta… tapi aneh.”
Zahra lalu membuka lipatan kertas yang berisi peta.
“Nah ini yang paling penting,” katanya.
Semua terdiam saat melihatnya.
“Ini benar-benar peta!” seru Gilang.
“Titik ini… seperti di bawah pohon pinus besar,” tambah Fahmi.
Zahra mengangguk. “Aku juga berpikir begitu.”
Namun, di antara mereka, hanya satu orang yang tidak banyak bicara.
Nahda.
Ia hanya berdiri diam, matanya terpaku pada peta itu. Wajahnya tampak sedikit pucat.
Zahra memperhatikan.
“Nahda… kamu kenapa?” tanyanya pelan.
Nahda tersentak. “Eh? Nggak… nggak apa-apa.”
“Kamu kelihatan aneh,” kata Alan.
“Iya, biasanya kamu paling semangat,” tambah Andra.
Nahda tersenyum kecil, tapi terlihat dipaksakan. “Aku cuma… kaget saja.”
Zahra tidak sepenuhnya yakin, tapi ia memilih tidak memaksa.
“Baiklah,” katanya, “yang penting sekarang kita tahu ada sesuatu di dalam hutan ini.”
Gilang mengepalkan tangan. “Kita harus mencari tahu!”
“Tapi kita harus hati-hati,” ujar Fahmi.
Andra mengangkat kompasnya. “Tenang, aku siap memimpin arah!”
Semua tertawa kecil.
Namun, Nahda masih diam.
Tak lama kemudian, mereka mulai berjalan memasuki hutan pinus. Sinar matahari yang tadi terang perlahan meredup tertutup oleh rimbunnya pepohonan.
Langkah mereka pelan, penuh kewaspadaan.
“Menurut peta, kita harus ke arah sana,” kata Zahra sambil menunjuk.
Andra melihat kompasnya. “Benar, itu arah utara.”
Mereka terus berjalan, melewati akar-akar besar dan semak-semak.
Namun, tanpa disadari, Nahda berjalan sedikit lebih lambat dari yang lain.
Ia menoleh ke belakang, lalu ke arah peta yang dibawa Zahra.
Wajahnya tampak gelisah.
Dalam hatinya, ada sesuatu yang ingin ia katakan… tapi ia ragu.
Beberapa saat kemudian, mereka berhenti di sebuah tempat dengan pohon-pohon yang lebih besar dari sebelumnya.
“Tempat ini… terasa berbeda,” kata Alan pelan.
Angin berhembus, membawa suara gemerisik yang panjang.
Fahmi memperhatikan tanah. “Lihat ini… seperti ada jejak.”
Zahra mendekat. “Jejak apa?”
“Seperti bekas sesuatu yang pernah digali,” jawab Fahmi.
Semua mulai memperhatikan sekeliling.
Namun tiba-tiba
“Aduh!”
Semua menoleh.
Ternyata Nahda tersandung akar dan hampir jatuh. Gilang segera menolongnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Gilang.
“Iya… aku baik-baik saja,” jawab Nahda cepat.
Namun Zahra melihat sesuatu.
Dari saku kecil Nahda, terlihat ujung selembar kertas tua mirip dengan peta yang ia temukan.
Zahra terdiam.
“Itu apa…?” pikirnya.
Nahda segera menyembunyikan kembali kertas itu.
“Maaf ya, aku kurang hati-hati,” katanya sambil tersenyum.
Tapi kali ini, Zahra yakin.
Nahda menyembunyikan sesuatu.
Perjalanan mereka berlanjut, tapi suasana mulai berubah. Tidak lagi seceria tadi.
Zahra berjalan sambil sesekali melirik Nahda.
“Kenapa Nahda punya kertas seperti itu?” pikirnya.
Di sisi lain, Nahda menggenggam sakunya erat-erat.
Wajahnya terlihat semakin gelisah.
Ia tahu, cepat atau lambat… rahasianya akan terbongkar.
Dan saat itu terjadi, semuanya mungkin akan berubah.
Di tengah hutan yang sunyi, enam sahabat itu terus melangkah.
Namun kini, bukan hanya misteri hutan yang mereka hadapi.
Ada juga rahasia kecil yang mulai tumbuh di antara mereka.
Rahasia yang perlahan… akan menguji persahabatan mereka.
=================================================================
Garahan, 30 April 2026 / Kamis, 12 Dzulqoidah 1447, 07.10 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
