Bab 10 Lorong yang Tidak Sama (T.806)
Potongan peta kini berada di tangan Zahra. Dua bagian yang berhasil mereka satukan mulai membentuk jalur yang lebih jelas sebuah garis berliku yang mengarah ke tanda “X” kecil di sudut kertas.
“Lihat ini,” kata Zahra sambil menunjuk bagian tengah peta. “Sepertinya kita harus terus ke dalam… tapi ada belokan tajam di depan.”
Fahmi mengangguk. “Berarti kita harus lebih teliti.”
Andra memandangi kompasnya. Kali ini jarumnya tidak lagi berputar liar. Ia bergerak pelan… seolah mengikuti arah tertentu.
“Kompasnya mulai stabil,” kata Andra. “Tapi… masih terasa aneh.”
“Aneh bagaimana?” tanya Gilang.
“Seperti… bukan cuma menunjukkan arah,” jawab Andra pelan. “Tapi seperti… menghindari sesuatu.”
Semua saling berpandangan.
Mereka kembali berjalan menyusuri lorong.
Namun kali ini… suasananya berbeda.
Dinding tanah mulai berubah. Tidak lagi kasar dan alami, melainkan terlihat lebih rapi seperti pernah dipahat.
“Ini bukan lorong biasa,” kata Alan.
Ia menyentuh dinding. “Ada bekas alat seperti sengaja dibuat.”
Zahra menatap sekeliling dengan serius. “Berarti tempat ini pernah digunakan.”
Nahda menelan ludah. “Digunakan… untuk apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Langkah mereka semakin pelan.
Tiba-tiba, lorong di depan terlihat melebar.
Mereka tiba di sebuah ruang kecil.
Di sana, terdapat tiga lorong berbeda.
“Wah…” kata Gilang. “Tiga jalan?”
Fahmi mengamati lantai. “Tidak ada jejak kaki di sini.”
Andra melihat kompasnya lagi.
Jarumnya bergetar… lalu berhenti… lalu bergerak lagi.
“Tiga arah ini membuat kompas bingung,” katanya.
Zahra membuka peta.
“Di peta… hanya ada satu jalur,” katanya bingung.
“Berarti…” ujar Alan, “dua jalan lainnya mungkin jebakan.”
Suasana menjadi tegang.
Angin kembali berhembus pelan dari salah satu lorong.
Nahda memeluk lengannya sendiri.
“Aku tidak suka ini…”
Gilang mencoba tetap tenang. “Kita pikirkan baik-baik.”
Fahmi memperhatikan dinding di sekitar pintu lorong.
“Tunggu… di sini ada sesuatu.”
Ia menunjuk ke atas salah satu lorong.
Di sana terlihat simbol kecil mirip dengan yang pernah mereka temukan sebelumnya.
Zahra segera membuka buku tua.
“Simbol ini artinya… jalan aman,” katanya.
Semua langsung menatap lorong itu.
“Berarti kita lewat sini!” kata Gilang mantap.
Namun Andra tiba-tiba berkata, “Tunggu…”
Semua menoleh.
“Kompas… tidak menunjuk ke sana.”
Zahra terdiam.
“Lalu?” tanya Fahmi.
Andra menunjuk ke lorong lain. “Kompas mengarah ke sana.”
Kini mereka dihadapkan pada pilihan sulit.
Mengikuti peta dan simbol… atau mengikuti kompas ajaib.
“Kalau salah pilih kita bisa tersesat,” kata Alan.
Nahda terlihat semakin gelisah. “Atau masuk ke tempat berbahaya…”
Zahra menggenggam peta erat.
Fahmi berpikir keras.
Gilang menatap dua arah itu bergantian.
Dan Andra menatap kompasnya dengan ragu.
“Bagaimana kalau…” kata Zahra pelan, “kita percaya pada semuanya?”
“Maksudnya?” tanya Fahmi.
“Kita gabungkan petunjuknya,” jawab Zahra. “Mungkin jalan yang benar… bukan yang paling jelas.”
Alan tersenyum kecil. “Seperti teka-teki.”
Akhirnya, mereka memutuskan.
Dengan hati-hati, mereka memilih jalan yang berada di antara arah simbol dan arah kompas. Lorong yang tampak paling sempit dan paling gelap.
Saat mereka melangkah masuk,
KRREEEK…
Suara aneh terdengar dari belakang.
Mereka menoleh.
Dan perlahan…
dua lorong lainnya mulai tertutup sendiri oleh runtuhan tanah.
“Eh! Lihat!” teriak Gilang.
Nahda menutup mulutnya kaget.
“Kalau kita salah pilih…” bisiknya.
Zahra menatap ke depan.
“Kita tidak boleh ragu lagi,” katanya tegas.
Mereka melanjutkan langkah.
Namun kini mereka sadar
tempat ini bukan hanya misterius.
Tempat ini seperti menguji mereka.
Setiap pilihan…
bisa membawa mereka lebih dekat pada rahasia
atau justru menjauh selamanya.
Dan lorong yang mereka pilih sekarang…
mungkin adalah jalan yang paling berbahaya.
====================================================================
Garahan, 07 Mei 2026 / Kamis, 19 Dzuqaidah 1447 H, 06.58 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
