Bab 4 Gilang Menemukan Tanda Aneh (T.801)
Hutan pinus semakin dalam dan sunyi. Langkah kaki keenam sahabat itu terdengar jelas di antara dedaunan kering yang terinjak. Cahaya matahari hanya sesekali menembus celah-celah ranting, membuat suasana terasa sedikit remang.
“Aku rasa kita sudah cukup jauh,” kata Alan pelan.
“Tapi menurut peta, kita belum sampai,” jawab Zahra sambil menatap lembaran tua di tangannya.
Andra memeriksa kompasnya. Jarumnya berputar sebentar, lalu berhenti.
“Aneh…” gumamnya.
“Kenapa?” tanya Fahmi.
“Kompasnya tadi sempat berputar sendiri,” jawab Andra. “Padahal aku tidak bergerak.”
Gilang mengerutkan kening. “Jangan-jangan tempat ini memang… berbeda.”
Zahra menelan ludah. Namun ia mencoba tetap tenang.
“Ayo kita lanjut sedikit lagi,” katanya.
Mereka pun berjalan kembali. Semakin ke dalam, pohon-pohon pinus terlihat lebih besar, akarnya menjalar ke mana-mana seperti ular yang sedang tidur.
Tiba-tiba
“Eh, tunggu!” seru Gilang.
Semua berhenti.
“Ada apa?” tanya Nahda.
Gilang menunjuk ke salah satu batang pohon pinus yang besar.
“Lihat itu.”
Mereka semua mendekat.
Di batang pohon tersebut, terlihat goresan aneh. Bukan seperti bekas hewan atau luka alami, melainkan seperti tanda yang sengaja dibuat.
Bentuknya menyerupai lingkaran dengan garis melintang di tengahnya.
Zahra membuka buku tua.
“Simbol ini…” katanya pelan.
Ia membalik beberapa halaman.
“Nah! Ini sama!”
Semua mendekat.
“Jadi… ini memang petunjuk?” tanya Fahmi.
“Sepertinya begitu,” jawab Zahra.
Andra terlihat semakin penasaran. “Kalau begitu, mungkin ada tanda lain di sekitar sini.”
Mereka mulai mencari di sekitar pohon tersebut.
Alan meraba batang pohon lain. “Di sini juga ada!”
Fahmi berjongkok. “Dan ini… ada tanda di tanah.”
Jejak itu tampak seperti garis yang mengarah ke satu sisi hutan.
Zahra mengikuti arah tersebut dengan pandangannya.
“Itu seperti menunjukkan jalan…”
Gilang tersenyum. “Berarti kita di jalur yang benar!”
Namun, di tengah semangat itu, Nahda justru terlihat semakin cemas.
Ia melirik tanda di pohon, lalu ke arah yang ditunjuk.
Dalam hatinya, ia seperti mengenali sesuatu.
“Tidak mungkin…” bisiknya pelan.
Zahra mendengarnya.
“Nahda?” tanyanya.
Nahda tersentak. “Eh… iya?”
“Kamu tahu sesuatu?” tanya Zahra hati-hati.
Nahda menggeleng cepat. “Nggak… aku cuma merasa tempat ini agak menyeramkan.”
Fahmi mengangguk. “Memang sih… suasananya beda.”
Angin kembali berhembus. Kali ini lebih dingin.
Daun-daun pinus bergesekan, menghasilkan suara seperti bisikan yang panjang dan samar.
Andra memegang kompasnya erat. “Jarumnya bergerak lagi…”
Gilang menatap ke arah yang ditunjuk oleh tanda.
“Ayo kita ikuti jalur ini,” katanya mantap.
Zahra ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Tapi kita harus tetap bersama.”
Mereka pun berjalan mengikuti arah tanda tersebut.
Langkah demi langkah, suasana semakin terasa misterius.
Tanah mulai sedikit lembap, dan akar-akar pohon semakin besar.
Tiba-tiba, Fahmi berhenti.
“Tunggu,” katanya.
“Ada apa lagi?” tanya Alan.
Fahmi menunjuk ke depan.
Di sana, terlihat sebuah pohon pinus yang sangat besar lebih besar dari yang lain. Batangnya kokoh, dan akarnya menjulur seperti jari-jari raksasa yang mencengkeram tanah.
Zahra terdiam.
“Jangan-jangan… itu…”
Gilang mengangguk pelan. “Pohon pinus tertua.”
Semua terdiam sejenak.
Perasaan mereka campur aduk takut, kagum, dan penasaran.
Namun saat mereka hendak mendekat
Angin tiba-tiba berhembus sangat kencang.
WHOOSH…
Daun-daun berguguran.
Dan di tanah, tepat di dekat akar pohon itu…
muncul sebuah tanda yang sama seperti di batang pohon sebelumnya namun lebih besar dan lebih jelas.
Zahra menggenggam peta erat-erat.
“Kita sudah sampai di tempat yang ditunjukkan…”
Namun, Gilang memperhatikan sesuatu yang lain.
“Eh… kalian lihat ini?”
Ia menunjuk ke bagian akar.
Di sana, ada bekas seperti tanah yang pernah digali.
Fahmi mendekat. “Ini bukan kebetulan.”
Alan berbisik, “Seperti ada sesuatu di bawahnya…”
Semua saling berpandangan.
Jantung mereka berdebar semakin cepat.
Namun, di antara mereka, Nahda terlihat paling gelisah.
Tangannya kembali menggenggam sakunya.
Ia tahu sesuatu.
Sesuatu tentang tempat ini.
Dan mungkin… tentang tanda-tanda aneh yang baru saja mereka temukan.
Di bawah pohon pinus tertua itu, rahasia besar menunggu.
Dan kini, mereka sudah berdiri tepat di atasnya.
=================================================================
Garahan, 01 Mei 2026 / Jum'at. 12 Dzulqoidah 1447 H, 07.49 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
