Bab 5 Fahmi dan Jejak di Tanah Basah (T.802)
Angin di sekitar pohon pinus tertua masih berhembus pelan, namun suasananya terasa berbeda lebih dingin, lebih sunyi, dan sedikit menegangkan.
Enam sahabat itu berdiri melingkar di dekat akar besar yang mencengkeram tanah. Tanda aneh yang mereka temukan masih terlihat jelas.
Zahra memegang peta erat-erat. “Tempat ini sama persis seperti di peta…”
Gilang menatap ke bawah. “Dan tanah ini… seperti pernah digali.”
Fahmi berjongkok perlahan. Ia menyentuh tanah di dekat akar pohon itu.
“Tunggu…” katanya pelan.
“Ada apa?” tanya Alan.
Fahmi tidak langsung menjawab. Ia meraba tanah dengan jari-jarinya, lalu memperhatikan dengan saksama.
“Tanahnya masih lembap,” katanya.
Andra mendekat. “Memangnya kenapa?”
Fahmi menoleh. “Kalau tanahnya lembap, berarti belum lama ini ada yang menggali di sini.”
Semua terdiam.
“Jadi… kita tidak sendirian?” bisik Nahda.
Zahra menelan ludah.
Fahmi kemudian menunjuk ke arah samping.
“Lihat ini.”
Di tanah yang sedikit basah, terlihat jejak kaki samar.
“Jejak kaki!” seru Gilang.
“Seperti bekas sepatu,” tambah Alan.
Zahra mendekat dan mengamati. “Dan arahnya ke sana…”
Jejak itu memanjang, masuk lebih dalam ke hutan.
Andra langsung melihat kompasnya. “Arah timur laut.”
Gilang berdiri tegak. “Kita harus mengikutinya!”
Namun Zahra mengangkat tangan. “Tunggu dulu. Kita harus hati-hati.”
Fahmi mengangguk. “Benar. Kita tidak tahu siapa yang membuat jejak ini.”
Nahda terlihat semakin gelisah. Ia menggenggam tangannya erat.
“Kalau itu orang berbahaya bagaimana?” katanya pelan.
Alan mencoba menenangkan. “Belum tentu. Bisa saja orang yang dulu membuat peta ini.”
Zahra berpikir sejenak, lalu berkata, “Kita ikuti, tapi tetap bersama. Jangan ada yang terpisah.”
Semua mengangguk.
Perlahan, mereka mulai mengikuti jejak kaki tersebut.
Langkah mereka kini lebih hati-hati. Tidak ada lagi tawa seperti sebelumnya.
Hutan terasa semakin rapat. Cahaya matahari sulit masuk, membuat suasana sedikit gelap meskipun masih siang.
Fahmi berjalan paling depan.
Ia sesekali berhenti untuk memastikan jejaknya tidak hilang.
“Di sini masih ada,” katanya.
Gilang mengikuti di belakangnya. “Kamu hebat juga ya, bisa membaca jejak seperti ini.”
Fahmi tersenyum kecil. “Aku sering lihat acara petualangan.”
Andra menambahkan, “Dan sekarang kamu jadi pemandu kita.”
Semua tersenyum, meski suasana tetap tegang.
Tiba-tiba, Fahmi berhenti lagi.
“Kenapa?” tanya Zahra.
Fahmi menunjuk ke depan.
Jejak kaki itu tiba-tiba menghilang.
“Hilang?” kata Alan kaget.
“Tidak mungkin,” ujar Gilang. “Tadi masih jelas.”
Fahmi mengamati sekitar. Ia melihat ke tanah, ke semak-semak, lalu ke arah batang pohon.
“Tunggu…” katanya.
Ia melangkah ke samping, lalu berjongkok lagi.
“Ini bukan hilang,” katanya pelan.
“Lalu?” tanya Zahra.
“Jejaknya berubah arah.”
Semua mendekat.
Benar saja, jejak itu berbelok ke arah yang tidak mereka duga menuju area yang lebih gelap dan dipenuhi semak lebat.
Andra melihat kompasnya lagi. Jarumnya bergerak cepat, lalu berhenti tidak stabil.
“Arah ini… aneh,” katanya.
Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang.
Daun-daun bergesekan, menghasilkan suara seperti bisikan panjang.
Nahda mundur selangkah.
“Aku tidak suka tempat ini…” katanya lirih.
Zahra menatapnya. “Kita bisa kembali kalau kamu takut.”
Nahda menggeleng cepat. “Tidak… aku ikut.”
Namun wajahnya menunjukkan keraguan.
Mereka melangkah memasuki area semak-semak itu.
Cabang-cabang kecil menghalangi jalan, dan tanah terasa lebih lembek.
Fahmi berjalan pelan, memastikan setiap langkah.
Tiba-tiba….!!!
Krek!
Suara ranting patah terdengar.
Semua terdiam.
“Itu suara apa?” bisik Alan.
Gilang menoleh ke belakang. “Seperti ada yang mengikuti kita…”
Zahra menggenggam peta lebih erat.
Jantungnya berdegup kencang.
Namun Fahmi tetap fokus.
Ia menunjuk ke depan.
“Jejaknya berhenti di sana.”
Di hadapan mereka, terlihat sebuah area kecil yang tanahnya tampak lebih gelap… seperti pernah digali lebih dalam.
Zahra melangkah mendekat.
“Ini… tempat apa lagi?”
Fahmi menatap serius.
“Sepertinya… ini bukan sekadar jejak.”
Semua menahan napas.
Mereka sadar, petualangan ini semakin rumit.
Seseorang pernah berada di sini.
Dan mungkin… orang itu belum benar-benar pergi.
Di tengah hutan yang sunyi, jejak di tanah basah membawa mereka semakin dekat pada rahasia besar
atau mungkin… pada bahaya yang belum mereka kenal.
===================================================================
Garahan, 02 Mei 2026 / Sabtu, 13 Dzulqoidah 1447 H, 07.37 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
