Bab 7 Andra dan Kompas Ajaib (T.804)
Lubang kecil di bawah akar pohon pinus tertua kini terbuka. Gelap, dalam, dan penuh misteri. Enam sahabat itu berdiri di depannya dengan jantung berdebar.
“Jadi… kita masuk?” tanya Gilang pelan.
Zahra menatap lubang itu, lalu melihat peta di tangannya. “Kalau petunjuknya benar… jalan ini penting.”
Fahmi mengangguk. “Tapi kita harus tetap hati-hati.”
Alan masih terlihat serius. “Aku merasa… tempat ini memang memanggil kita.”
Nahda menggigit bibirnya. Ia tampak ragu, tapi tidak ingin tertinggal. “Kalau kita bersama… aku ikut.”
Semua mata kini tertuju pada Andra.
“Arah mana?” tanya Zahra.
Andra mengangkat kompas kecilnya.
“Tenang saja. Kompas ini akan menunjukkan jalan.”
Namun saat ia melihat jarumnya
Ia terdiam.
“Kenapa?” tanya Gilang.
Andra mengerutkan kening. “Jarumnya… bergerak lagi.”
Jarum kompas itu berputar perlahan, lalu semakin cepat.
“Ini tidak normal,” kata Andra.
Fahmi mendekat. “Biasanya kalau kompas rusak, jarumnya diam. Tapi ini… seperti mencari sesuatu.”
Zahra memperhatikan. “Atau… mengikuti sesuatu.”
Andra memegang kompas itu lebih erat.
“Coba kita lihat,” katanya.
Ia melangkah mendekati lubang.
Jarum kompas tiba-tiba berhenti… lalu menunjuk langsung ke dalam kegelapan.
Semua terdiam.
“Jadi… benar ke sana,” bisik Alan.
Angin kembali berhembus pelan, seolah menguatkan.
Zahra menarik napas dalam-dalam. “Baik. Kita masuk.”
Satu per satu, mereka mulai masuk ke dalam lubang.
Gilang turun lebih dulu, diikuti Fahmi. Mereka membantu yang lain agar tidak terpeleset.
Tanah di dalam terasa dingin dan sedikit lembap.
Andra menyalakan senter kecilnya.
Cahaya itu menerangi lorong sempit yang cukup untuk dilalui satu per satu.
“Tempat ini seperti… terowongan,” kata Fahmi.
“Dan bukan baru,” tambah Alan. “Seperti sudah lama ada.”
Zahra melihat ke dinding tanah. “Mungkin ini yang ada di peta…”
Mereka berjalan perlahan.
Suara langkah kaki mereka bergema pelan.
Nahda berjalan paling belakang, sesekali menoleh ke belakang dengan wajah cemas.
Tiba-tiba….
“Andra, kompasnya bagaimana?” tanya Zahra.
Andra melihat lagi.
Jarum kompas itu kembali bergerak… tapi kali ini tidak stabil.
“Ini aneh…” katanya.
“Kenapa lagi?” tanya Gilang.
“Jarumnya tidak menunjuk satu arah,” jawab Andra. “Seperti… bingung.”
Fahmi berpikir sejenak. “Mungkin karena kita di bawah tanah.”
Alan menggeleng. “Atau… karena ada sesuatu di sini.”
Suasana menjadi semakin tegang.
Mereka terus berjalan sampai lorong mulai bercabang.
Di depan mereka, ada dua jalan.
“Kita pilih yang mana?” tanya Zahra.
Semua menoleh pada Andra.
Andra melihat kompasnya.
Jarumnya berputar cepat… lalu tiba-tiba berhenti di antara dua arah.
“Ini… tidak membantu,” katanya pelan.
Gilang menghela napas. “Biasanya kamu yang paling bisa diandalkan.”
Andra menunduk sedikit. “Aku juga tidak tahu kenapa begini…”
Wajahnya terlihat kecewa.
Zahra mendekat dan tersenyum.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Kita cari cara lain.”
Fahmi memperhatikan dinding lorong.
“Tunggu… lihat ini.”
Ia menunjuk ke dinding.
Ada tanda goresan yang sama seperti di pohon sebelumnya.
Alan mendekat. “Simbol lagi.”
Zahra membuka buku tua.
“Ini sama seperti petunjuk di buku,” katanya.
Fahmi menunjuk ke salah satu arah. “Tandanya mengarah ke sana.”
Gilang tersenyum. “Berarti kita tetap punya petunjuk.”
Andra mengangkat kepalanya. “Jadi… bukan cuma kompas.”
Zahra mengangguk. “Kita harus saling membantu.”
Andra tersenyum kecil. “Baik. Aku tidak akan menyerah.”
Mereka pun memilih jalan sesuai simbol.
Langkah mereka kembali mantap, meski tetap waspada.
Namun saat mereka berjalan lebih jauh
Kompas di tangan Andra tiba-tiba bersinar redup.
Semua terkejut.
“Eh! Itu apa?” seru Nahda.
Andra menatap kompasnya dengan mata membesar.
“Ini belum pernah terjadi…”
Jarum kompas kini bergerak perlahan… tapi kali ini stabil.
Dan arah yang ditunjuk
berbeda dari jalan yang mereka pilih.
Semua terdiam.
Zahra menatap peta.
Fahmi menatap simbol.
Alan merasakan angin yang kembali berbisik.
Dan Andra… menggenggam kompasnya erat.
“Sepertinya…” katanya pelan, “kompas ini bukan kompas biasa.”
Di dalam lorong gelap itu, mereka sadar
alat sederhana yang mereka anggap biasa… mungkin justru menyimpan kekuatan penting.
Dan pilihan mereka selanjutnya…
akan menentukan arah petualangan mereka.
===================================================================
Garahan, 04 Mei 2026 / Senin, 17 Dzulqoidah 1447 H, 10.36 WIB
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
