Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bab 8 Peta Kuno yang Menghilang (T.804)

Bab 8 Peta Kuno yang Menghilang (T.804)

Lorong bawah tanah terasa semakin sunyi. Hanya suara langkah kaki dan napas mereka yang terdengar pelan. Cahaya dari senter kecil dan kompas Andra menjadi satu-satunya penerang di kegelapan itu.

Zahra berjalan sambil terus memegang peta kuno di tangannya.

“Kalau kita mengikuti ini… harusnya kita menuju ke bagian dalam,” katanya.

Fahmi mengangguk. “Dan simbol di dinding tadi juga searah.”

Namun, Andra terlihat gelisah. Ia sesekali melihat kompasnya yang masih bersinar redup.

“Jarumnya masih berubah-ubah,” katanya.

Alan menoleh. “Berarti tempat ini memang tidak biasa.”

Mereka terus berjalan melewati lorong yang semakin sempit. Dinding tanah terasa dingin dan lembap. Sesekali terdengar suara tetesan air dari atas.

Tuk… tuk… tuk…

Nahda berjalan paling belakang. Wajahnya terlihat semakin tegang.

Ia melirik ke arah Zahra… lalu ke peta di tangannya.

Matanya menyipit.

Seperti sedang memikirkan sesuatu.

Tiba-tiba…..

WHUUSSHH…!

Angin kencang tiba-tiba berhembus dari arah depan lorong.

“Eh! Angin dari mana?” seru Gilang.

Zahra refleks menahan peta di tangannya.

Namun

SWIING!

Angin itu terlalu kuat.

Peta kuno yang dipegang Zahra tiba-tiba terlepas dan terbang ke depan!

“PETANYA!” teriak Zahra panik.

Semua terkejut.

Peta itu melayang mengikuti arah angin, masuk ke lorong yang lebih gelap.

“Ayo kejar!” seru Gilang.

Mereka langsung berlari.

Langkah kaki mereka menggema cepat di lorong sempit.

“Cepat! Nanti hilang!” kata Fahmi.

Zahra berlari paling depan, wajahnya penuh panik.

“Itu satu-satunya petunjuk kita!”

Namun angin masih berhembus, membuat peta terus melayang semakin jauh.

Andra mencoba menerangi dengan senter.

“Aku lihat! Ke arah kanan!” teriaknya.

Mereka berbelok.

Namun lorong di depan tiba-tiba bercabang lagi.

“Ke mana?” tanya Alan.

Zahra berhenti sejenak, napasnya terengah.

“Aku… tidak tahu…”

Semua terdiam.

Peta itu sudah tidak terlihat lagi.

Hilang di dalam kegelapan.

“Tidak mungkin…” bisik Zahra.

Tangannya gemetar.

“Itu… satu-satunya petunjuk kita…”

Nahda menunduk.

Fahmi mencoba menenangkan. “Mungkin masih ada di depan.”

Gilang mengepalkan tangan. “Kita cari!”

Namun di dalam hati mereka, rasa khawatir mulai tumbuh.

Tanpa peta, mereka bisa tersesat.

Alan memejamkan mata.

Ia mencoba mendengarkan.

Angin kembali berhembus pelan.

Namun kali ini… tidak ada bisikan yang jelas.

“Hening…” katanya.

Andra melihat kompasnya.

Jarumnya berputar… lalu berhenti… lalu bergerak lagi.

“Arah juga tidak jelas,” katanya pelan.

Zahra terduduk perlahan di tanah.

“Aku… ceroboh…” katanya dengan suara lirih.

“Seharusnya aku pegang lebih kuat…”

Nahda melihat Zahra.

Wajahnya tampak ragu… dan bersalah.

Seperti ingin mengatakan sesuatu.

Namun ia tetap diam.

Fahmi tiba-tiba berdiri.

“Tunggu,” katanya.

“Apa?” tanya Gilang.

Fahmi menunjuk ke tanah.

“Lihat ini…”

Di tanah yang lembap, terlihat selembar kertas kecil.

Zahra langsung berdiri.

“Itu…!”

Ia mengambilnya cepat.

Namun wajahnya berubah.

“Ini bukan peta…”

“Lalu apa?” tanya Alan.

Zahra menunjukkan kertas itu.

Di dalamnya hanya ada sepotong gambar bagian kecil dari peta.

“Seperti… sobekan,” kata Fahmi.

Gilang terkejut. “Berarti petanya… robek?”

Andra mengerutkan kening. “Atau… memang sudah tidak utuh dari awal?”

Semua terdiam.

Zahra menggenggam potongan itu.

“Jadi… kita harus mencari sisanya?” katanya pelan.

Alan mengangguk. “Mungkin itu maksud dari petualangan ini.”

Fahmi menambahkan, “Bukan hanya mengikuti peta… tapi menyusunnya kembali.”

Namun di sudut lain

Nahda menggenggam sakunya erat.

Wajahnya semakin tegang.

Karena ia tahu sesuatu…

Sesuatu yang belum diketahui teman-temannya.

Tentang peta itu.

Tentang potongan yang hilang.

Dan mungkin…

tentang siapa yang sebenarnya pernah berada di tempat ini.

Di dalam lorong gelap yang bercabang, enam sahabat itu kini kehilangan petunjuk utama mereka.

Peta kuno telah menghilang.

Dan yang tersisa hanyalah potongan kecil… dan banyak pertanyaan.

Petualangan mereka kini berubah.

Bukan hanya mencari rahasia

tetapi juga mengumpulkan bagian-bagian yang hilang.

Dan tanpa mereka sadari…

tantangan yang lebih besar sedang menunggu di depan.

==================================================================

Garahan, 05 Mei 2026 / Selasa, 17 Dzulqa'dah 1447 H, 07.30 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post