Bagian 2 CARI JALAN ASA
Dinginnya malam telah membawa Bangkit ke alam mimpinya, dan terlena bercengkerama dengan sepinya malam yang berhiaskan cahaya kunang dan temaram. Bangkit telah terbuai dalam kesunyian dan terlena dalam alam mayanya. Untuk sesaat Ia mampu melupakan semua kejadian dan kepahitan yang terjadi tadi sore. Kepedihan hatinya telah tenggelam bersama alam mimpi dunianya yang tak pernah menjanjikan. Dalam tidurnya Bangkit terus harus terdiam dalam ketidakpastian untuk mencari jalan asa. Wajah Bangkit yang setengah tengadah menangkap sepi di tengah malam. Diiringi hembusan nafas Bangkit yang teratur turun naik berusaha untuk melupakan kesedihan hatinya.
Tepat jam dua belas malam Bangkit terjaga dari tidurnya. Kembali Bangkit mengingat kejadian sore tadi. Di mana Bangkit diusir oleh Bu Karyo disuruh pergi dari rumahnya. Malam itu Bangkit menimbang-nimbang apakah ia harus pergi meninggalkan rumah sesuai dengan yang diinginkan oleh ibunya. Bangkit teringat besok pagi adalah hari Senin, hari pertama penerimaan siswa baru di SMP Negeri. Tekadnya sudah bulat malam itu juga Bangkit berkemas membawa pakaian seadanya. Bangkit mengenakan kaos olah raga yang bergambar sebuah tangan sedang memegang sebuah obor yang menyala yang bertuliskan SPI (Senam Pagi Indonesia), dan mengenakan celana pendek berwarna merah hati dan memakai sepatu Jois. Sementara punggungnya menggendong sebuah tas plastik gambar unyil dan Pak Raden. Bangkit berjingkat-jingkat menyempatkan diri memandang kedua orang tuanya yang sedang tidur pulas.
Saat itulah kembali Bangkit bercucuran air mata setelah menatap kedua orang tua dan saudara-saudaranya yang sedang tidur pulas. Kemudian Bangkit segera membuka pintu rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Dengan jalan berjingkat-jingkat Bangkit menuntun sepedah tua dan kembali menutup pintu rumah dari luar. Tepat jam satu malam Bangkit meninggalkan rumahnya dengan menggoes sepeda tua menuju sebuah desa yang jaraknya kurang lebih dua puluh kilometer. Jalan yang dilaluinya begitu sulit apalagi tanpa sedikitpun lampu penerangan jalan. Bangkit harus berjalan pelan-pelan menggayuh sepeda tua melewati semak- belukar.
Dengan bercucuran air mata malam itu Bangkit menerobos di kegelapan malam merobek dinginnya kabut yang menggumpal menutupi pandangannya. Lolongan suara anjing malam tak henti-hentinya bergeming dari indera pendengarannya. Perasaan hancur-lebur, dan putus asa berkecamuk melebur menjadi satu. Hanya ada satu tekad pada dirinya bahwa Ia harus pergi meninggalkan rumahnya. Karena ia merasa sudah tidak lagi diharapkan oleh keluarganya. Malam itu Bangkit merasa terhibur oleh kerlap-kerlip indahnya cahaya kunang-kunang yang menemaninya selama di perjalanan. Dengan pandangan menerawang kosong ke depan Bangkit tersentak dari lamunannya setelah mendengar panggilan suara azan dari sebuah musola dekat jalan yang dilaluinya.
Bangkit segera menepi dan menyenderkan sepeda tuanya di pohon mangga tidak jauh dari musola dan segera berlalu mengambil air wudu dan melaksanakan salat sunah dan dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah. Bangkit begitu kusyuknya berdoa memohon petunjuk kepada Sang Pencipta. Dalam doanya Bangkit mengadu kepada Tuhannya dan berserah diri memohon ampun dan memohon pertolongan. Tanpa disadarinya Bangkit kembali terisak-isak dan bercucuran air mata dan setelah kembali tenang Bangkit segera melanjutkan perjalanannya menuju ke SMP yang terletak di sebuah desa.
Tepat jam tujuh pagi Bangkit menemukan sekolah ia maksud yang terletak di tengah semak belukar yang ditumbuhi oleh padang ilalang setinggi orang dewasa. Namun kalau dilihat dari bangunannya sekolah tersebut tampak mentereng tidak kalah dengan bangunan sekolah di perkotaan. Sekolah tersebut pintunya masih tertutup dan belum ada satu pun petugas yang datang. Setelah berselang satu jam calon siswa baru mulai berdatangan, termasuk teman-teman Bangkit yaitu Sulang, Ambo, dan Nuryah. Setelah kantor dibuka, calon siswa baru menunggu antrean untuk mendaftar, begitu juga dengan Bangkit. Satu-persatu calon siswa mulai didaftar oleh panitia pendaftaran. Setelah selesai semua mendaftar, calon siswa baru kembali pulang ke rumahnya masing-masing. Ambo, Sulang dan Nuryah yang diantar oleh orang tuanya segera pulang. Tinggal Bangkit sendiri bingung harus pergi ke mana.
Sementara dirinya sudah bertekad pergi meninggalkan rumahnya. Dengan mengayuh sepeda Bangkit keluar meninggalkan sekolah dan berhenti di sebuah gorong-gorong tidak jauh dari sekolah tersebut. Bangkit menyenderkan sepedanya dan duduk di gorong-gorong seorang diri sambil melamun. Pandangannya kosong menerawang hampa jauh ke depan. Entah sampai berapa lama Bangkit berada di tempat itu. Tiba-tiba Bangkit tersentak kaget tersadar dari lamunannya. Nampak seorang laki-laki berparaskan tampan dan berperawakan sedang menghampiri dirinya sambil berkata.
“Sedang apa kamu di sini Bangkit?” Tanya seseorang.
Bangkit segera menoleh darimana suara itu berasal. Bangkit sangat mengenali sosok lelaki yang menghampiri dirinya. Beliau adalah guru matematika Bangkit yaitu Pak Haryoko. Bangkit berusaha menjawab pertanyaan Pak Haryoko namun lidah Bangkit terasa kelu dan tak mampu mengeluarkan kata-kata. Hanya cucuran air mata tanpa mampu menjawab sepatah kata pun keluar dari mulut Bangkit. Pak Haryoko segera berusaha menenangkan Bangkit.
“Sudah Nak jangan menangis, coba ceritakan kepada Bapak, apa yang telah terjadi!” Pinta Pak Haryoko.
Sambil terbata-bata Bangkit menjawab, “Saya diusir dari rumah Pak, oleh Ibu.”
“Terus kamu mau ke mana Nak?” Tanya Pak Haryoko lagi.
Bangkit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis lagi.
“Ya sudah Nak yok ke rumah bapak dulu ya!” bujuk Pak Haryoko. Akhirnya Bangkit mau mengikuti ajakan dari Pak Haryoko. Pak Haryoko mengendarai motor suzuki bebek warna putih menuju rumahnya sementara Bangkit mengikuti Pak Haryoko dari belakang dengan mengayuh sepeda bututnya.
Kurang lebih menempuh jarak tujuh kilometer, akhirnya keduanya sampai di rumah Pak Haryoko. Pak Haryoko begitu ramah mempersilakan Bangkit sambil menyodorkan segelas air putih.
“Diminum airnya Nak!” Suruh Pak Haryoko.
Bangkit segera meraih segelas air putih dan langsung meneguknya. Tenggorokan Bangkit yang dari tadi terasa kering sudah dibasahi oleh segelas air putih pemberian Pak Haryoko. Setelah Bangkit sudah tenang, Pak Haryoko meminta Bangkit untuk menceritakan apa yang sedang dialaminya. Dengan terbata-bata Bangkit menceritakan kembali ke Pak Haryoko Bahwa dirinya telah pergi meninggalkan rumah setelah diusir oleh ibunya. Pak Haryoko mendengarkan dengan serius cerita Bangkit. Pak Haryoko terbawa arus cerita Bangkit sampai-sampai tanpa disadarinya Pak Haryoko meneteskan air mata.
“Ya udah ya Nak untuk sementara waktu kamu tinggal dulu sama Bapak ya!” Pinta Pak Haryoko.
“Ya Pak terima kasih, tapi saya minta tolong ya Pak, jangan dikasih tahu ke orang tua saya kalau saya ada di sini,” Bangkit mengiba.
Saat itulah Bangkit tinggal di rumah Pak Haryoko dan setiap harinya Bangkit pulang pergi ke SMP bersama sepeda ontelnya sambil mencari informasi pekerjaan untuk biaya sekolahnya. Hanya beberapa bulan saja Bangkit tinggal di rumah Pak Haryoko, selanjutnya Bangkit tinggal di rumah guru SMP-nya yaitu Pak Rinus yang rumahnya tidak begitu jauh dari sekolahnya. Pak Rinus yang masih singgel telah memiliki sebuah rumah dan hanya tinggal sendirian. Selama tinggal di rumah Pak Rinus, aktivitas yang dilakukan Bangkit selain belajar yaitu memasak, mencuci dan membersihkan halaman rumah Pak Rinus. Di rumah inilah Bangkit merasakan betah karena Pak Rinus sendiri orangnya sangat perhatian dan sangat baik hati.
Berbekal pengalamannya sewaktu di Sekolah Dasar, Bangkit mengembangkan ilmu kepramukaan di sekolah ini. Sekolah yang baru berdiri di tahun ke dua ini memberikan kesempatan kepada Bangkit untuk mengembangkan potensinya. Di mana Bangkit merupakan siswa angkatan kedua bersama teman sejawatnya yaitu Sulang melatih ilmu kepramukaan teman-temannya hingga menorehkan prestasi pertama sebagai juara satu lomba tingkat II Kwarcab di sebuah kabupaten, setelah berhasil menggeser pesaing beratnya yaitu regu cobra gerakan pramuka elit milik ASDP di sebuah pelabuhan.
Penampilan regu Cobra yang sangat luar biasa dengan tenda yang dilengkapi menara yang menyerupai sebuah bangunan kapal laut lengkap dengan atribut bendera warna-warni telah berhasil memukau pandangan dari rivalnya. Sementara di sebelah tenda regu Cobra adalah sebuah tenda yang sangat miris yang terbuat dari terpal bekas penjemuran padi yaitu regu banteng ketaton yang dikomandani oleh Bangkit jelas pemandangan yang sangat menyedihkan. Penampilan personil regu Cobra sangat kompak yang didukung oleh seragam pakaiannya salah satunya sepatu yang mereka gunakan adalah sepatu ala militer. Sedangkan kelengkapan regu banteng ketaton sebaliknya mencerminkan pramuka dari kalangan anak petani yang pakaiannya bukan standar pakaian pramuka.
Pertarungan dalam perlombaan sangat sengit, di mana regu Cobra menampilkan atraksi sulap dan debus yaitu peserta atraksi makan kaca dan beling bagaikan makan kerupuk. Regu Cobra juga menampilkan sebuah atraksi mejig lampu bokhlam tanpa aliran listrik dipegang tanpa menggunakan kabel langsung menyala yang diiringi tepuk tangan dari peserta lainnya. Peserta berikutnya adalah regu banteng ketaton yang menampilkan sebuah drama yang berjudul, “Lintah Darat” Drama tersebut mengisahkan tentang seorang petani tua yang terlilit hutang dengan lintah darat yang tidak bisa membayar sehingga terpaksa anak gadisnya diambil secara paksa oleh Sang Juragan untuk membayar hutangnya. Pada saat pengambilan paksa itulah muncul sang penolong yang diperankan oleh Bangkit harus melawan para tukang pukul Sang Juragan. Sang penolong akhirnya berhasil melumpuhkan enam orang badygad dan selamatlah kehormatan sang gadis.
Atraksi dari berbagai regu pun telah usai. Tinggal berharap-harap cemas dari para peserta menunggu hasil pengumuman pemenangnya oleh panitia. Namun siapa pun yang melihat bisa memastikan pemenangnya adalah regu Cobra. Ini suatu keajaiban dan di luar nalar. Juri menjatuhkan sebagai pemenang pertama justru jatuh pada regu banteng ketaton yang dikomandoi oleh Bangkit. Sedangkan regu Cabra hanya diurutan kedua. Pertarungan semakin sengit kemenangan regu banteng ketaton telah berhasil mengobarkan semangat dan berhasil membangkitkan percaya diri regu banteng ketaton. Pembina Putra dan Putri yaitu Kak Nanto dan Kak Yulis sampai haru tak percaya. Mengingat SMP tersebut yang saat itu baru seumur jagung telah berhail menyingkirkan rival beratnya yaitu regu Cobra.
Dilanjutkan pagi harinya yaitu mencari jejak atau lintas alam yang di dalamnya ada berbagai sandi-sandi yang harus dipecahkan yang berisikan tentang perintah-perintah lomba. Berdasarkan pengalaman Bangkit waktu di Sekolah Dasar, Bangkit telah mempersiapkan keahlian disetiap personil. Di mana dalam regu banteng ketaton masing-masing personil memiliki berbagai keahliannya. Bangkit dan Sulang sangat menguasai Semapore dan ahli memecahkan berbagai macam sandi-sandi. Warsino dan Sudiro ahli di bidang melukis panorama alam. Lengkap sudah personil yang dimiliki regu banteng ketaton. Kegiatan lomba telah berlalu. Giliran menunggu pengumuman hasil lomba. Di sore hari setelah semua lomba telah selesai, hasil lomba diumumkan. Lagi-lagi regu banteng ketaton berhasil menyingkirkan rivalnya beratnya yaitu regu Cobra. Banteng ketaton sebagai juara I dan regu Cobra hanya dapat menduduki sebagai Juara II.
Ini merupakan catatan sejarah pertama kali SMP Bangkit dan regunya telah berhasil menorehkan prestasi sebagai Juara Umum di bidang kepramukaan di tingkat Kabupaten dan selanjutnya berhak mengikuti Lomba Tingkat I atau LT I tingkat Provinsi Lampung yang diselenggarakan di Way Som. Selanjutnya disusul dengan prestasi-prestasi berikutnya seperti juara cerdas cermat tingkat kecamatan, dan prestasi-prestasi lainnya. Sejak itulah sekolah tersebut namanya mulai melambung tinggi.
Dan Bangkit terpilih sebagai salah satu peserta untuk mewakili Kecamatan Penengahan mengikuti Jambore Tingkaat Nasional ke Cibubur. Bangkit merasa kecewa dengan keputusan yang diambil pihak sekolah. Bangkit harus rela mengurungkan niatnya ke Cibubur. Dengan berdalih Bangkit sudah kelas III, dan Pak Nanto sebagai Pembina Pramuka Putra menyampaikan alasaannya kepada Bangkit bahwa Bangkit sebentar lagi akan meninggalkan sekolah dan perlu kader yang nantinya bisa menggantikan Bangkit di sekolah. Dengan sedikit kecewa Bangkit berusaha mengikhlaskan untuk memberikan haknya kepada adik kelas binaannya yaitu Suharjo dengan harapan dapat menggantikan posisinya untuk memajukan Gerakan Pramuka di sekolah yang ia cintai.
Kekompakan dan saling bahu membahu tercermin dalam jiwa guru dan para peserta didiknya. Seluruh siswa diajarkan disiplin dan diajarkan hidup mandiri. Salah satunya adalah ajaran untuk hidup mandiri oleh ibu guru yang cantik yaitu Ibu Sukma. Setiap hari Bu Sukma meminta seluruh siswanya untuk membawa cangkul dan sabit ke sekolah. Maklum sekolah kami masih dalam pembenahan karena rumputnya yang sangat tinggi, setinggi orang dewasa berdiri. Bu Sukma membagi tugas kepada semua muridnya masing-masing sebidang tanah untuk dikelola dijadikan kebun. Masing-masing siswa mendapat bagian delapan meter pesegi. Tanah yang tadinya ditumbuhi semak belukar telah disulap oleh Bu Sukma menjadi kebun berbagai tanaman sayur-mayur dan berbagai tanaman lainnya.
Waktu naik ke kelas II, Bangkit dipercaya oleh rekan-rekannya terpilih menjadi ketua OSIS. Di bawah komando Bangkit dan berkoordinasi dengan sekolah, Bangkit mewajibkan rekan rekannya mengadakan penghijauan di sekolah. Setiap siswa diwajibkan membawa satu pohon buah-buahan. Jika ada yang lupa bawa, besoknya ditambah satu lagi pohon. Dan juga kalau besoknya tidak bawa pohon buah-buahan, Bangkit memberi sanksi tambahan satu pohon lagi. Pohon hasil sumbangan siswa ditanam di halaman sekolah untuk penghijauan sekolah.
Namun di balik prestasi yang telah ditorehkan, ada rasa kegelisahan yang dirasakan oleh Bangkit. Bangkit selalu bingung memikirkan tentang kelanjutannya untuk membiayai sekolahnya. Sedangkan bekal yang dibawanya dari rumah sudah sangat menipis sekali. Sehingga Bangkit harus berjuang mencari pekerjaan untuk membiayai sekolah dan keperluan semua sekolahnya. Bangkit memberanikan diri menceritakan keluh kesahnya ke Ibu Silah. Bu Silah pun mendengarkan dan berusaha memberikan solusinya. Kebetulan Bu Silah dan beberapa ibu guru lainnya sedang membutuhkan jasa untuk membantu menimba air di kontrakannya yang cukup lumayan dalam.
Setiap pulang sekolah Bangkit pergi ke kontrakan ibu gurunya untuk menimba air mengisi bak mandi dan keperluan lainnya. Sebagai balas jasa Bangkit setiap bulannya diberi upah oleh Bu Silah. Uang tersebut untuk biaya sekolah dan sebagian lainnya ditabung. Bangkit sangat berterima kasih kepada Bu Silah, Bu Aini dan Bu Lidiyana yang telah membantu Bangkit memberikan pekerjaan. Sehingga Bangkit dapat bertahan untuk bersekolah. Selain itu juga tidak kalah pentingnya Bangkit dibantu oleh Pak Rinus. Di mana Bangkit diperbolehkan makan dan tinggal di rumah Pak Rinus. Pak Rinus adalah guru Bangkit yang telah sukses meskipun hidupnya masih menyendiri, Pak Rinus sudah memiliki rumah sendiri. Mereka itulah yang menjadi motivator bagi Bangkit.
Tiga tahun berlalu Bangkit dapat menyelesaikan sekolahnya ditingkat SMP dan berhasil membawa ijazah sebagai lulusan terbaik kedua di sekolahnya. Dengan perasaan senang dan bahagia Bangkit pulang kampung membawa selembar ijazah. Kepulangan Bangkit disambut haru oleh kedua orang tuanya yang sekian lama telah ditinggalkannya. Pertemuan yang begitu haru tak henti-hentinya Bu Karyo memeluk dan menciumi Bangkit. Dengan perasaan sedih dan keduanya bersyukur masih dapat bertemu lagi. Ibu Bangkit merasa bangga anaknya bisa mengenyam pendidikan sampai lulus SMP. Karena di kampung itu baru anak Kepala Kampung yang bisa sampai lulus SMP. Sedangkan warga biasa hanya mampu sampai ke tingkat SD saja. Setelah itu para orang tua membekali anaknya dengan gagang cangkul mengajari bagaimana cara bertani secara turun-temurun.
Ibu Bangkit langsung gupek ke dapur meyiapkan makanan spesial buat Bangkit. Tak lama kemudian ibunya menyodorkan sepiring nasi oyek. Makanan yang terbuat dari singkong itu ditemani ikan asin dan sayur lompong kesukaan Bangkit. Bangkit menyantapnya dengan lahap karena lapar. Apalagi Bangkit sudah lama kangen dengan masakan dari ibunya. Ibu Bangkit duduk di sebelah Bangkit sambil memperhatikan Bangkit makan dengan lahapnya. Untuk beberapa saat percakapan mereka terhenti. Bangkit menyantap makanan yang disuguhkan ibunya sementara sang ibu terdiam menemani memperhatikan Bangkit menyantap masakan buatannya.
Usai menyantap makanan yang disuguhkan ibunya, Bangkit memandang wajah ibunya yang dari tadi diam-diam memperhatikan.
“Ada apa Nak, kok pandangannya aneh begitu?’’ sapa Ibu Bangkit. Setelah menarik nafas dalam-dalam Bangkit berusaha tenang lalu menyampaikan keinginannya kepada ibunya.
“Ibu…, saya ingin melanjutkan sekolah ke SMA, Bu.’’ Kata Bangkit.
“Dari mana biayanya Nak, ibu tidak punya uang.” jawab ibu sambil memandang raut wajah Bangkit yang mengiba.
“Ya Bu saya tahu, saya hanya minta izin dari ibu relakan saya pergi, Bu.’’ sahut Bangkit.
Sambil matanya berkaca-kaca Ibu Bangkit bertanya, ‘’Kamu mau pergi ke mana Nak? Kamu kan baru nyampe?’’
“Tidak tahu Bu saya cuma minta restu dari Ibu.’’ Sahut Bangkit.
“Terus nanti dari mana biaya sekolah kamu?” Tanyanya kepada Bangkit.
Bangkit menarik tas yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya lalu mengeluarkan sebuah kantong kecil yang sengaja Ia jahit sendiri dan menyodorkannya kepada ibunya.
“Apa itu Nak?’’ Tanya Ibunya sambil menerima kantong yang disodorkan oleh Bangkit.
Perlahan-lahan Ibu Bangkit segera membuka kantung yang terbuat dari kain dan segera mengeluarkan isi kantong tersebut.
“Dari mana uang sebanyak ini Nak, walaupun kita ini miskin ibu tidak pernah mengajari kamu untuk jadi pencuri?” Tanya ibunya kaget. Kemudian Bangkit menjelaskan dari mana uang itu berasal.
“Ibu uang ini hasil kerja keras saya Bu, selama diperantauan sepulang sekolah saya membantui bu guru saya menimba air di sumur Bu dan ini adalah upah dari kerja keras yang saya kumpulkan.” Jelas Bangkit.
Mendengar jawaban dari Bangkit ibunya segera memeluk Bangkit erat-erat sambil meneteskan air mata bangga.
“Ya udah Nak kalau tekadmu sudah bulat ibu mengikhlaskan kamu pergi, Nak. Tunggu sebentar ya!” Kata Bu Karyo.
Ibu Bangkit pergi meninggalkan dirinya entah ke mana. Kurang lebih setengah jam lamanya ibu muncul lalu menghampiri Bangkit sambil menyerahkan sejumlah uang kepada Bangkit.
“Ibu hanya bisa memberi ini Nak, uang ini sengaja ibu pinjam dari tetangga sebelah untuk membantu biaya sekolah kamu.” Kata Bu Karyo.
Ternyata Ibu Bangkit meminjam sejumlah uang yang harus dibayar seharga dua kwintal padi jika nanti panen padi. Dengan perasaan haru Bangkit menerima uang pemberian dari ibunya.
“Terima kasih ya, Bu.” ucap Bangkit.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
