Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
KETIKA MENITI PELANGI  (Ingin Menggapai Asa)

KETIKA MENITI PELANGI (Ingin Menggapai Asa)

Kabut tipis bagai salju menyelimuti lereng Gunung Kunci sebelah timur. Desir angin semilir dan kicau burung bersahutan terdengar begitu merdu di balik rerimbunan daun-daun yang tertiup angin bergerak perlahan. Pagi itu terasa sejuk dan menambah suasana damai di Desa Karang Bale Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah yang terletak di dekat kaki Gunung Kunci Jawa Tengah. Sementara mentari mulai tersenyum di ufuk timur mengintip jagat, mengiringi langkah para petani yang menggiring kerbaunya untuk membajak di sawah. Sesekali mereka memecut kerbaunya mengarahkan jalan menuju ke persawahan. Seorang ibu paro baya yang menggendong bakul berisikan santapan makan siang. Tangan kanan sang ibu menjinjing termos kecil berisikan air minum dan tangan kirinya menenteng sebilah sabit. Dengan langkah pasti mereka menelusuri jalan di pinggir aliran Sungai Lamaran yang mengalir begitu deras.

Sungai Lamaran merupakan sungai yang terbentuk oleh alam yang panjang berkelok tembus ke sebuah sungai besar yang sengaja dibuat sebagai irigasi dan biasa digunakan oleh penduduk setempat untuk keperluan mencuci dan keperluan lainnya. Air sungai begitu deras dan jernih, menimbulkan suara gemercik dan indah. Sepanjang aliran sungai ditumbuhi oleh lebatnya pohon bambu yang membentang di sepanjang aliran sungai. Bahkan bambu yang tumbuh di pinggiran sebelah kiri dan sebelah kanan saling berangkulan menjadi satu bertemu di tengah-tengah sungai membentuk sebuah lorong mirip gerbong kereta api. Suara gesekan pohon bambu yang tertiup angin menimbulkan suara yang membuat bulu kuduk setiap orang yang melintas menjadi merinding. Sungai yang sangat dikeramatkan oleh penduduk setempat ini menyimpan berbagai macam jenis ikan yang tetap terjaga kelestariannya. Karena penduduk setempat meyakini bahwa ikan-ikan tersebut adalah jelmaan dari mahluk halus penunggu sungai, sehingga penduduk tak berani menangkap ikan-ikan tersebut.

Tak jauh dari aliran Sungai Lamaran terdapat sebuah rumah tua yang telah usang beratapkan genteng yang sudah ditumbuhi lelumutan, berdinding anyaman bambu dan lantainya yang masih tanah. Dari dalam rumah terdengar samar-samar suara seseorang yang merintih kesakitan. Sesekali terdengar suara yang memberi isyarat mengarahkan dan memberi komando kepada orang yang sedang kesakitan.

“Tarik napas pelan-pelan, tekan! Tarik napas pelan-pelan, tekan! Tarik napas pelan-pelan, tekan!’’

Ternyata seorang ibu yang sedang berjuang antara hidup dan mati dengan segenap tenaganya untuk melahirkan seorang bayi. Ia adalah Bu Karyo yang akan melahirkan anak keempatnya. Bu Karyo yang hampir kehabisan tenaga terus berjuang demi sibuah hati.

Tak lama kemudian terdengar jeritan suara seorang bayi yang baru keluar dari rahim ibunya, ’’Oeek…oeek…oeek…oeek…’’ Rupanya itu adalah suara bayi laki-laki Bu Karyo yang baru saja dilahirkan.

Saat melahirkan anak yang ke empatnya ternyata Pak Karyo tidak ada di rumah. Pak Karyo sedang pentas di luar desa sebagai seniman dalang wayang kulit. Maka tak heran jika Bu Karyo saat melahirkan anak-anaknya tidak selalu ditemani oleh Pak Karyo. Begitu pun pada saat melahirkan anaknya yang keempat, Bu Karyo harus berjuang sendiri antara hidup dan mati. Untung para tetangganya selalu sigap membantu Bu Karyo termasuk memanggil dukun bayi pada saat Bu Karyo akan melahirkan anaknya. Karena ketiga anaknya yang masih kecil-kecil belum bisa berbuat apa-apa. Meskipun demikian Bu Karyo selalu tabah dan ikhlas dalam menjalani kehidupnya. Bu Karyo sadar apa yang dilakukan suami adalah perjuangannya dalam menafkahi keluarganya.

Begitu Pak Karyo sampai di rumah langsung memberi nama kepada anak keempatnya yaitu Bangkit. Pak Karyo sengaja memberi nama Bangkit kepada anaknya merupakan sebuah harapan agar keluarganya bangkit dari keterpurukan terutama bangkit dari ekonominya yang selama ini mengalami serba kekurangan. Nafkah dari profesinya sebagai dalang belum mampu memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarganya. Sebagai seniman Pak Karyo tidak selamanya mendapat job untuk pentas. Mendapat job hanya sewaktu-waktu tertentu saja yaitu saat ada musim hajatan seperti pernikahan, sunatan, dan ruatan desa. Terkadang Pak Karyo rela harus mencari nafkah tambahan sebagai pekerja serabutan.

Setahun kemudian Pak Karyo dikaruni seorang anak perempuan yang diberi nama Rukiti. Pak Karyo dan Bu Karyo sangat senang dikaruniai seorang anak perempuan yang menjadi impiannya selama ini mengingat keempat anaknya yang lahir sebalumnya adalah laki-laki semua. Di sisi lain Keluarga Pak Karyo tambah sulit ekonominya. Terpaksa Bu Karyo harus banting tulang membantu suami menjadi tanaga upahan sebagai tenaga kerja harian menanam tebu di perusahaan sekitar desanya. Perhatian Bu Karyo terhadap anak-anaknya mulai berkurang. Sampai-sampai Bu Karyo setiap hari harus menitipkan Bangkit dan Rukiti ke para tetangganya, termasuk harus rela anaknya disusui oleh orang lain. Dua tahun kemudian setelah kelahiran anak perempuannya, berlalu, Pak Karyo dan keluarga memutuskan untuk pindah ke Lampung atas ajakan dari tetangganya yaitu Pak Darmo yang sudah menetap di sana.

Sekitar setengah bulan Pak Karyo dan Bu Karyo serta anak-anaknya walau masih kecil berembuk untuk pindah ke Lampung. Mereka sangat tergiur dengan cerita keberhasilan Pak Darmo yang telah sukses di Lampung. Dari omongan mereka tersimpul bahwa hidup di Lampung lebih menjanjikan karena lahan masih terbentang luas, daripada hidup di Jawa yang lahannya telah habis karena padatnya penduduk.

“Pak Karyo, di Lampung itu tinggal kita mau menggarap lahan berapa luasnya masih ada. Tergantung kekuatan kita. Di sana tidak perlu modal, yang penting tenaga untuk menggarap lahan.” Rayu Pak Darmo.

“Iya, tapi anak-anak kami masih kecil-kecil belum bisa bekerja semuanya.” Ujar Pak Karyo.

“Justru anak masih kecil-kecil itu kita harus menyiapkan masa depan mereka. Tanggung jawap kita sebagai orang tua harus menyiapkan masa depan mereka.” Ucap Pak Darmo.

“Iya, nanti kami obrolkan lagi dengan ibunya. Pertimbangan yang mendasar adalah anak-anak masih kecil-kecil. Di tempat baru belum tahu bagaimana kondisinya.” Kata Pak Darmo.

“Ibunya pasti akan merasa lebih senang karena di sana mau tanam apa saja bisa. Pendek kata di sana tidak akan kekurangan makan dan hidup bisa lebih layak.” Sebut Pak Darmo.

“Saya kan tidak punya lahan, mau garap lahan siapa?” Ucap Pak Karyo ragu.

“Itu bedanya di sini dengan di lampung, Pak Karyo. Di Lampung Pak Karyo mau garap lahan berapa pun ada. Ada sistem bagi hasil, ada sewa, ada gade. Tinggak Pak Karyo mau pilih yang mana?” Terang Pak Darmo.

“Kalau sewa, atau gade saya tidak punya uang.” Kata Pak Karyo.

“Ya bagi hasil. Pak Karyo garap ladang atau sawah setengah hektar saja cudah cukup untuk hidup. Apalagi Pak Karyo mau nyambi memelihara ternak, pasti tambah penghasilannya.” Ucap Pak Darmo.

“Terus di sana tinggal di mana?” Tanya Pak Karyo.

“Untuk sementara bisa numpang di rumah saya. Di sana kayu bahan untuk buat rumah tidak beli. Jadi Pak Karyo bisa langsung buat rumah.” Ucap Pak Darmo.

Dari omongan itu Pak Karyo benar-benar tertarik. Pak Karyo memutuskan untuk pindah ke Lampung. Alangkah mudahnya hidup di Lampung, tidak seperti di Jawa. Tak peduli anak-anak Pak Karyo masih kecil-kecil, baginya hidup lebih layak itu menjadi tujuan. Apalagi ini juga demi anak-anaknya.

Bermodalkan tekad dan ongkos seadanya Pak Karyo dan keluarga memutuskan pindah ke Lampung mengikuti ajakan Pak Darmo yang mengaku telah berhasil merantau di Lampung. Dengan rasa berat Pak Karyo berpamitan dengan para tetangganya yang selama ini sudah dianggap sebagai kerabat dekatnya. Tangisan perpisahan mengiringi keberangkatan keluarga Pak Karyo dengan penuh haru. Suasana pun berubah menjadi hujan tangisan para tetangganya ketika mobil yang mengangkut rombongan Pak Karyo meninggalkan desa. Isakan dan tangisan Bu Karyo tidak terbendung lagi sambil melambaikan tangan pada tetangganya, Pak Karyo berusaha menenangkan istrinya yang dari tadi selalu menanngis terisak-isak.

“Selamat tinggal saudara-saudara dan teman-teman! Doakan ya, semoga kami bisa hidup yang lebih baik.” Ujar Pak Karyo.

“Iya Mas Karyo, doa kami semoga Mas Karyo makmur di tempat yang baru.” Ucap Pak Siswo tetangganya.

“Selamat jalan, Bangkit! Kalau sudah di sana jangan lupa kasih kabar ke aku ya!” Ucap Darto teman Bangkit yang baru berusia 4 tahun.

“Iya, Darto. Kamu kalau sudah besar nyusul aku ya!” Ujar bangkit polos.

“Iya, bangkit. Kalau sudah lulus SMA nanti aku nyusul kamu.” Sahut Darto.

“Hati-hati Mas Karyo!” Ucap Pak Siswo.

“Iya, Siswo. Baik-baik saja kalian di sini ya!” Kata Pak Karyo.

Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi bergerak menuju tol Pejagan, Jakarta, Banten hingga tiba di Pelabuhan Merak. Pengalaman pertama buat Pak Karyo dan Keluarganya naik kapal laut menyeberangi Pelabuhan Merak pada malam hari menuju Pelabuhan Srengsem, Panjang. Deburan ombak beradu memecah suasana dikeheningan malam yang begitu mencekam menyelimuti perjalanan Pak Karyo dan rombongan demi mengapai asa.

Di kejauhan terlihat kerlap-kerlip lampu di tengah lautan menambah rasa takut bagi keluarga Pak Karyo, maklum ini adalah pengalaman pertamanya naik kapal laut. Perasan was-was yang dibarengi rasa khawatir ketika Pak Karyo melihat anak-anaknya yang masih kecil-kecil tertidur pulas di bawah kolong kursi kapal laut. Dalam hati Pak Karyo berbisik, apa yang akan terjadi jika kapal laut yang ditumpainginya karam, apakah ini akhir dari perjalanan hidupnya.

Pak Karyo menarik napas dalam-dalam berusaha menghilangkan rasa kekhawatirannya dengan mengeluarkan dan menyalakan sebatang lintingan rokoknya yang terbungkus dari kulit jagung lalu menghisapnya. Aroma khas klembak menyan menyebar terbawa angin malam menghampiri orang di sekelilingnya. Tanpa terasa sudah habis satu batang Pak Karyo merebahkan badannya di kursi kapal. Tak lama Pak Karyo terlelap karena kelelahan. Hingga dipagi buta Pak Karyo terjaga setelah mendengar gaungan gemuruh sirine kapal berbunyi, “Tot…, tot…, tot…,” yang disusul suara pemandu kapal, “Perhatian-perhatian dimohon kepada seluruh penumpang kapal agar segera bersiap-siap. Kapal akan segera mendarat, amankan seluruh barang bawaan Anda, terima kasih telah berkenan berlayar dengan kami!” Seru pemandu kapal pertanda bahwa kapal akan segera merapat ke Dermaga Srengsem. Pak Karyo segera bergegas membangunkan anak dan istrinya yang saat itu masih tertidur pulas.

Pak Karyo dan rombongan segera mangantri di pintu keluar mengikuti Pak Darmo yang bertindak sebagai ketua rombongan berjalan paling depan menuju ke arah mobil cold jurusan ke sebuah Kabupaten di Lampung. Sementara Pak Karyo mengiringi anak dan istrinya dari belakang. Tak lama berselang kemudian rombongan pun telah tiba di parkiran terminal dan segera naik mobil. Mobil segera melaju meninggalkan Srengsem menuju ke sebuah kabupaten di Lampung.

Memang dasar nasib lagi sial, ketika mobil sampai di sebuah tanjakan yang medannya begitu sangat sulit untuk dilalui mobil, tiba-tiba dua sosok laki-laki bertampang sangar menghentikan laju mobil.

’’Berhenti…!’’ teriaknya.

Seketika itu juga sopir segera menghentikan laju mobil yang membawa rombongan Pak Karyo. Kedua laki-laki tersebut lari menghampiri penumpang yang berada dalam mobil, dan salah satu dari mereka menodongkan sebilah badik ke arah Pak Karyo. Sementara pelaku yang lain segera melucuti barang-barang berharga bawaan penumpang.

’’Serahkan semua harta kalian!’’ Bentak laki-laki yang bertampang sangar sambil menodongkan badik ke arah Pak Karyo.

“Ada apa ini?” Tanya Bangkit sangat pelan.

“Huuus, jangan keras-keras, nanti terdengar oleh mereka!” Pinta Bu Karyo.

“Orang berapa perampoknya, Mak?” Tanya Bangkit lagi.

“Dua orang.” Bisik Bu Karyo.

“Kalau hanya dua orang, kita lawan saja! Kita kan orang banyak.” Sahut Bangkit.

“Lawan gimana? Mereka ganas, mereka sadis, jangan macam-macam!” Tambah Bu Karyo.

“Aku berani, Mak. Akan kupukul perampok itu dengan besi ini!” Kata Bangkit sambil menunjukkan besi di tangannya.

“Kamu jangan gila, Le! Kamu masih kecil, nggak akan bisa lawan mereka.” Kata Bu Karyo.

“Alah, kalau kita lawan bareng-bareng mereka kalah lo, Mak.” Ujar Bangkit.

“Sudahlah, kamu jangan aneh-aneh, ini Lampung Nak, bukan Jawa.” Cegah Bu Karyo.

Mendengar perbincangan si kecil Bangkit dengan istrinya, Pak Karyo tergugah hatinya untuk berbuat sesuatu, namun berusaha tenang sambil matanya melirik ke arah buntelan karung yang berisi alat pertukangan yang sengaja dibawanya dari Jawa yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya. Pada saat pelaku yang menodongkan badik sedang lengah, Pak Karyo tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pak Karyo mendorong pelaku sampai terjungkal keluar dari mobil sampai terdengar bunyi, “Brak!” Sementara tangan Pak Karyo secepat kilat menyambar buntelan karung dan menghantamkan ke arah pelaku yang sedang melucuti barang bawaan penumpang. Keduanya terjungkal keluar dari mobil dan tersungkur sampai mencium tanah.

Rupanya kejadian itu merupakan pukulan telak bagi para pelaku hingga mereka berpikir dua kali untuk melanjutkan aksinya. Keduanya bangun dan lari terbirit-birit kabur meninggalkan mobil yang mereka jarah. Selamatlah semua penumpang termasuk barang yang sempat mereka lucuti. Setelah dianggap aman mobil pun segera melanjutkan perjalanan hingga tiba di suatu tempat penurunan penumpang.

Dari tempat tersebut Pak Karyo dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah desa di salah satu kecamataan menumpang sebuah mobil sentewang (mobil pengangkut glondongan kayu hasil hutan) yang saat itu melintas menuju ke sebuah desa yang searah dengan rombongan Pak Karyo. Kurang lebih menempuh perjalanan selama tiga jam mobil berhenti dan Pak Karyo, Pak Darmo serta rombongan menempuh jalan kaki menelusuri jalan setapak kurang lebih selama satu jam, akhirnya sampai di rumah Pak Darmo. Sementara Pak Karyo diantar oleh anak Pak Darmo menuju rumah keponakan Pak Karyo di dusun sebelah.

“Aduh, aduh. Kapan Lik Karyo sampai di Lampung? Kok gak beri kabar terlebih dahulu?” Tanya keponakannya yang bernama Sodik.

“Baru satu jam yang lalu, Dik. Gimana kamu sehat-sehat saja?” Tanya Pak Karyo.

“Sehat, Lik. Gimana kabar di Jawa? Semua baik-baik saja, kan?” Tanya Sodik.

“Semua baik-baik saja. Ada salam dari teman-teman di Jawa.” O iya, Dik. Untuk sementara kami mau numpang di rumahmu, sebelum kami bisa buat rumah sendiri. Kamu tidak keberatan, kan?” Ujar Pak Karyo.

“Aku malah senang kalau Lik Karyo mau tinggal di sini.” Sahut Sodik.

Pak Karyo tergolong orang yang rajin dan tekun. Selama dua bulan ia bekerja sebagai buruh dengaan istrinya. Kehidupan seperti itu mereka jalani dengan senang hati. Maka belum dua bulan sudah terkumpul uang yang bisa untuk membeli secuil tanah untuk tempat tinggal.

Kurang dari tigaa bulan setelah Pak Karyo menumpang di rumah keponakannya, Pak Karyo memutuskan untuk memulai hidup mandiri membuat sebuah pondok panggung sederhana yang didirikan di atas tanah yang dibeli dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Atap pondok tersebut terbuat dari anyaman daun nipah begitu juga dengan dinding rumahnya. Sementara tiang rumahnya terbuat dari kayu bayas yaitu sebuah kayu hutan yang batangnya mirip dengan pohon pinang. Meskipun pondok tersebut belum sempurna namun sudah ditempati oleh keluarga Pak Karyo.

Malam itu keluarga Pak Karyo menempati sebuah pondok yang dibangun atas jerih payahnya sendiri. Sambil menarik selimut sayup-sayup mata Pak Karyo mulai terpejam. Sementara Bu Karyo dan anak-anak sudah berada di alam mimpi melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Tidak jauh dari mereka lampu sentir tergantung menerangi sekeliling rumah yang samar-samar mulai diselimuti kabut dan diiringi gemrisik suara jangkrik menjadi penghantar tidur di kesunyian malam. Sesekali langit terbelah menjadi dua oleh kilatan cahaya diiringi suara menggelegar halilintar pertanda bahwa malam itu mau turun hujan. Rintik-rintik gerimis pun mulai terdengar yang disusul hujan deras dibarengi tiupan angin kencang. Tetesan air mulai merembes dari celah-celah atap telah mengusik tidur nyenyak keluarga Pak Karyo. Mereka terbangun dengan rasa sedikit ketakutan.

Tidak jarang mereka sering terbangun di tengah malam basah kuyup kebocoran akibat hujan deras. Maklum pondok yang mereka huni belum sepenuhnya selesai tertutup oleh atap, begitu juga dengan dindingnya. Sengaja pondok tersebut dibuat panggung untuk melindungi diri dari serangan binatang buas. Karena pondok tersebut letaknya tidak jauh dari hutan belantara. Sehingga di tengah malam terkadang keluarga Pak Karyo melihat seekor harimau yang sedang berteduh di bawah pondok dekat perapian yang sengaja dibuat untuk menghangatkan badannya.

Di pondok inilah sejarah kehidupan baru keluarga Pak Karyo dimulai. Pak Karyo berkenalan dengan seorang tuan tanah yang mengajak kerjasama membuka hutan untuk dijadikan ladang dengan perjanjian Pak Karyo akan diberi separonya dari hasil membuka hutan tersebut. Setelah hutan dibuka dijadikan ladang oleh Pak Karyo ternyata Pak Karyo tidak diberi sebidang tanah yang pernah dijanjikan oleh tuan tanah bahkan tanah yang telah dikelola oleh Pak Karyo secara diam-diam dijual semua oleh tuan tanah ke orang lain.

Saat itulah Pak Karyo dan Bu Karyo harus rela banting tulang siang dan malam demi menghidupi anak-anaknya. Mereka menjadi buruh harian mumbuka ladang, mencangkul dan menanam padi di sawah. Hasil keringatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan selalu berusaha untuk menyisihkan uang hasil kerja kerasnya. Sedikit demi sedikit setelah beberapa tahun akhirnya Pak Karyo mampu membeli sebidang sawah dan sawah tersebut satu-satunya yang dapat menopang kehidupan keluarga Pak Karyo. Sawah tersebut hanya bisa ditanam padi ketika musim kemarau saja karena sawah yang Pak Karyo miliki adalah daerah rawa-rawa. Bahkan ketika dimusim penghujan sawah tersebut seperti lautan.

Karena begitu sulitnya ekonomi Pak Karyo, tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya termasuk Kadi anak sulungnya yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan dan bahkan tidak mampu baca tulis. Sementara Sono anak kedua Pak Karyo hanya mampu duduk di kelas tiga SD saja, begitu juga dengan Wasro anak Pak Karyo yang ketiga. Pendidikan mereka harus terputus lantaran tidak ada biaya untuk sekolah mereka dan harus ikut bekerja keras membantu kedua orang tuanya di sawah.

Sedangkan Bangkit anak keempat Pak Karyo pada saat itu sudah waktunya masuk SD. Pedahal Bangkit sudah menginjak usia delapan tahun. Sementara adik Bangkit yang selisih kelahirannya hanya berjarak satu tahun sudah waktunya masuk SD. Namun mereka belum juga didaftarkan sekolah. Saat tahun ajaran baru tiba, Bangkit merengek-rengek minta sekolah. Namun jawaban dari kedua orang tuanya selalu nanti-nanti dan nanti. Hingga keesokan harinya Bangkit secara diam-diam berangkat sekolah dengan mengenakan pakaian bekas kakaknya yang warnanya telah pudar dan banyak titik hitamnya. Dengan bertelanjang kaki Bangkit menelusuri jalan setapak persawahan menuju ke sekolah. Tanpa disadari oleh Bangkit secara diam-diam Rukiti membuntuti Bangkit dari belakang mengikutinya.

Di sekolah nampak para orang tua sedang sibuk mendaftarkan anak-anaknya. Sementara Bangkit dan Rukiti datang tanpa didampingi oleh orang tuanya. Mereka clingak-clinguk bingung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kedua bocah itu membaur dengan anak-anak lainnya. Anak-anak yang telah didaftarkan orang tuanya diarahkan masuk ke kelas. Bangkit mengikuti arahan dari ibu guru ikut teman lainnya masuk ke kelas satu A sementara Rukiti masuk ke kelas satu B.

Tak lama kemudian Pak Lani masuk ke kelas satu A dan mengabsen satu-persatu siswa di kelas itu. Setelah selesai mengabsen, Pak Lani pun bertanya kepada murid-muridnya.

‘’Apakah ada yang belum di panggil?’’ Tanya Pak Lani.

’’Saya, Pak.’’ Jawab Bangkit.

’’Sini, Nak!’’ Kata Pak Lani.

Bangkit segera maju mendekat pada Pak Lani dan memberi tahu namanya.

Selanjutnya Pak Lani mengawali pelajaran dengan sangat sabar dan telaten.

“Anak-anak, sekarang siapkan pensil dan buku tulisnya!” Pak Lani mengawali pelajaran menulis di papan tulis. Sementara anak-anak mengikuti apa yang ditulis oleh Pak Lani di papan tulis. Tiba-tiba terdengar suara, “brak” ternyata meja Mansyur sudah terbalik. Pak Lani menghentikan kegiatannya dan membalikkan badan mengarahkan pandangannya ke meja Mansyur.

“Ada apa, Nak?” tanya Pak Lani.

“Ini Pak pensil saya direbut sama Hasri,” jawab Mansyur.

Pak Lani melanjutkan lagi menulis di papan tulis. Namun lagi-lagi terjadi suara Mansysur dan Hasri sedang berebut pensil. Hal ini membuat Pak Lani sedikit marah, spontan tangan Pak Lani memukul meja sambil berkata.

“Diam!” Suara Pak Lani keras.

Bangkit mengikuti apa yang dilakukan oleh Pak Lani.

“Diam!” sambil ikut memukul meja presis menirukan apa yang dilakukan oleh Pak Lani.

Sontak saja Pak Lani menghentikan kegiatannya dan langsung menghampiri Bangkit dan langsung menjewer telinga Bangkit.

“Kenapa kamu ikut memukul meja haa?” Hardik Pak Lani.

“Anu Pak, kata ibu saya, saya harus mengikuti apa yang dilakukan oleh pak guru di dalam kelas, tadi kan Bapak memukul meja, jadi saya ikuti Bapak” jawab Bangkit dengan polosnya.

Mendengar jawaban Bangkit Pak Lani terdiam dan bergegas meninggalkan Bangkit menuju ke meja guru dan duduk di kursi guru sambil terdiam melirik ke arah di mana Bangkit duduk. Rupanya Pak Lani sadar betul apa yang dilakukan Bangkit adalah salah menerima pesan dari ibunya. Setelah menilai hasil kerjaan anak-anak, suara lonceng berbunyi tiga kali, teng…, teng…, teng…. Pak Lani membimbing anak-anak untuk bersiap-siap berdoa pulang sambil menyanyikan lagu berbaris yang diikuti oleh semua siswa. Dilanjutkan ketua kelas menyiapkan barisan lalu berdoa dan Pak Lani Mempersilakan barisan yang paling rapih untuk keluar duluan sambil berjabat tangan dengan Pak Lani. Anak-anak pun lari berhamburan meninggalkan kelas menuju ke rumahnya masing-masing. Tidak ketinggalan Bangkit dan adiknya yang berada di kelas sebelah Rukiti keluar dari kelas dan meninggalkan sekolah berjalan kaki pulang menuju rumah. Keduanya berangkat dan selalu pulang bersama penuh canda dan tawa sambil berlarian kecil tanpa beban. Tanpa disadarinya keringatnyap sampai menganak sungai membasahi bajunya.

Seminggu setelah kedua anaknya sekolah, Bu Karyo membelikan seragam Pramuka untuk Bangkit dan adiknya. Seragam itulah satu-satunya seragam yang mampu Bu Karyo berikan untuk kedua anaknya selama sekolah dari hari Senin sampai hari Sabtu. Walau terkadang Bu Karyo merasa sedih belum mampu membelikan seragam yang lain buat anaknya. Namun yang membuat Bu Karyo gembira adalah ketika melihat kedua anaknya tetap semangat pergi ke sekolah menjalaninya dengan penuh riang gembira. Walaupun terkadang terlintas malu lantaran hanya itu-itu saja baju yang mereka miliki dan sering disindir oleh guru bahwa mereka salah memaki seragam. Berbeda dengan teman yang lainnya, setiap hari Senin-Selasa mengenakan pakaian putih merah hati, Rabu-Kamis pakaian putih-putih dan Jumat-Sabtu mengenakan pramuka.

Setiap pulang dari sekolah mereka tidak lantas bermain seperti anak seusia mereka. Keduanya harus segera menyusul ke sawah membantu orang tuanya membabat rumput, menanam padi sampai ikut mengetam padi. Pak Karyo sudah terbiasa mendidik anak-anaknya untuk belajar hidup mandiri. Mengajari tentang bagaimana cara bertani itulah satu-satunya ilmu yang bisa diwariskan kepada anak-anaknya. Apalagi Bangkit yang memiliki gemar memancing, disela-sela istirahat membantu kedua orang tuanya selalu memanfaatkan waktu kosong untuk mancing ikan gabus di sawah. Dua puluh pancing yang diikat di atas pelepah pisang yang telah diberi umpan ditabur di sekitar tempat ia bekerja. Dan alhasil tidak menunggu lama semua pancing telah berhasil menjerat ikan gabus dari yang ukurannya sebesar lengan bayi sampai dengan yang ukurannya sebesar badan bayi.

Setelah mengambil ikan dari pancing kemudian semua pancing diberi umpan dan dipasang kembali di tempat semula. Sementara Bangkit membersihkan semua ikan hasil pancingannya dan membelahnya kemudian dijemur di atas batang-batang kayu besar yang telah dirobohkan oleh para penebang kayu hutan. Setiap hari Bangkit selalu membawa pulang sekarung kecil ikan hasil tangkapannya. Ikan-ikan tersebut untuk dikonsumsi sendiri dan selebihnya dijual untuk membantu membeli segala sesuatu kebutuhan tuanya.

Keesokan harinya di pagi buta di saat ayam jantan telah berkokok yang diiringi suara katak yang saling bersahutan bagaikan sebuah alunan musik simfoni. Pagi itu hari Minggu kebetulan semalaman hujan deras sehingga air meluap sampai banjir. Pagi-pagi Bangkit sudah menyiapkan pancingnya yang telah dikasih umpan cacing. Bangkit bergegas menuju gorong-gorong yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Di sana Bangkit bertemu dengan Pak Taryo salah satu penduduk yang sedang buang hajat nongkrong di atas gorong-gorong sambil menghisap lintingan rokoknya. Bau kemenyan mengepul bersamaan dengan asap sebatang lintingan rokok Pak Taryo yang menambah suasana desa di pagi itu terasa semakin damai.

Setelah Pak Taryo meninggalkan gorong-gorong tersebut Bangkit segera melemparkan pancingnya di bawah derasnya arus air gorong-gorong. Selang hitungan detik pancing Bangkit langsung disambar seekor ikan. Dari tarikan pancingnya Bangkit dapat merasakan sambaran dari ikan pada pancingnya, bahwa yang memakan pancingnya adalah bukan ikan gabus. Maklum Bangkit terbiasa mancing sehingga Ia bisa mengenalinya berbagai sifat ikan ketika memakan pancingnya. Betul saja setelah batang pancingnya dihentakan ternyata seekor ikan betok sebesar telapak tangan yang menyerupai warna air keruh kekuning-kuningan tersangkut di pancingnya. Bangkit semakin semangat dan segera melemparkan pancingnya kembali ke arah tempat yang sama. Lagi-lagi ikan betok sebesar telapak tangan menyangkut di pancingnya.

Di pagi itu Bangkit telah berhasil memancing dua puluh ekor ikan betok yang besar-besar. Bangkit segera merajut ikan tersebut dengan menggunakan rumput welulang yang biasa digunakan oleh penduduk untuk merajut ikan. Sambil bernyanyi kegirangan dan berlarian kecil bangkit segera pulang menuju rumahnya. Dengan wajah berseri-seri Bangkit menunjukan hasil tangkapan ke ibunya. Ibunya pun begitu gembira dan menyuruh Bangkit agar ikan hasil pancingannya segera di bakar.

“Ikannya di bakar ya Nak, mau di buat pecak!” Suruh Bu Karyo.

“Ya, Mak.’’ jawab Bangkit.

Bangkit segera membuat perapian dan membakar ikan-ikan hasil pancingannya. Satu-persatu ikan-ikan tersebut dibolak-balik hingga matang semua. Semerbak aroma gurihnya ikan menyebar menambah perut semakin keroncongan. Setelah matang Bangkit segera membuka perut salah satu ikan yang paling besar. Dikoyaknya perut ikan tersebut pake jari mungilnya hingga terlihat warna kuning telur ikan. Tanpa pikir panjang Bangkit menggambil telur ikan tersebut dan segera melahapnya. Dalam hati Bangkit bertanya, “Kenapa ya rasa telor ikan ini kok pahit, tidak seperti biasanya, aneh? Kok kaya bau kotoran manusia sih?” Akhirnya bangkit mencari sumber bau yang kurang sedap itu. Sekali lagi Bangkit mengambil telur ikan dan memakannya kembali. Namun tetap terasa pahit. Untuk memastikan, Bangkit mencium telur ikan tersebut. Diluar dugaan ternyata yang berwarna kuning tersebut adalah bukan telur ikan tapi kotoran Pak Taryo. “Wek…, wek…, wek…,” Bangkit berusaha memutahkannya, tapi tetap tidak bisa mengeluarkan apa yang telah dimakannya. Semenjak itulah Bangkit selalu berhati-hati untuk membedakan mana telur ikan dan mana kotoran manusia.

Hari Senin pun tiba, seperti biasanya pagi-pagi Bangkit sudah siap berangkat ke sekolah bersama adiknya. Meski sama-sama kelas satu namun keduanya beda kelas. Bangkit kelas satu A dan Rukiti kelas satu B. Di akhir catur wulan ke empat keduanya naik ke kelas dua dan tetap pada kelas yang berbeda. Pada saat kelas dualah Bangkit mulai menunjukan prestasinya. Walhasil Bangkit naik ke kelas tiga dengan prestasi yang gemilang meraih ranking satu. Sementara Rukiti naik ke kelas tiga dengan satu nilai merah di lapornya. Keduanyapun mendapat hadiah dari ibunya masing-masing satu setel baju putih merah hati untuk memotivasi keduanya.

Namun sayang sekali, pada saat itulah dengan alasan karena tidak punya sepatu Rukiti tidak lagi mau sekolah dan berhenti serta lebih memilih membantu kedua orang tuanya. Sedangkan Bangkit semakin menunjukan prestasinya selalu ranking satu di kelasnya. Pada saat naik ke kelas empat Bangkit mendapat hadiah dari ibunya yaitu sepasang sepatu merk Jois, sebagai hadiah Bangkit yang selalu menjadi ranking di kelasnya. Bangkit pun merasa gembira dan semakin terpacu belajarnya untuk semakin giat lagi. Pada saat di kelas empat Bangkit sudah mulai aktif mengikuti kegiatan pramuka dan berbagai kegiatan lainnya. Bahkan Bangkit sering ditunjuk mewakili sekolahnya mengikuti berbagai macam kegiatan lomba di luar sekolahnya.

Lewat kegiatan pramuka dan PBB inilah jiwa kepemimpinan Bangkit mulai terbentuk, maka tak heran jika Bangkit selalu memimpin regu pramukanya dan selalu menjadi ketua regu di setiap lomba PBB mewakili sekolahnya. Meskipun Bangkit sibuk di kegiatan ekstrakurikuler namun tetap bisa mengatur waktu untuk membantu kedua orang tuanya sepulang sekolah. Ini terbukti di akhir catur wulan keempat pada saat kenaikan kelas lima, Bangkit menoreh prestasi lagi sebagai ranking satu di kelasnya. Kedua orang tuanya ikut bangga dan memberikan hadiah berupa satu setel seragam putih-putih. Di kelas lima inilah Bangkit mulai rajin meminjam buku di sekolahnya untuk dibaca di rumah. Dan dari hasil membaca itu Bangkit mulai terbuka wawasannya dari hasil membaca buku yang berjudul, ”30 Tahun Indonesia Merdeka” Buku yang berisikan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dan sejarah tentang penghianatan G-30 S PKI telah mampu menanamkan jiwa Patriotisme Bangkit, serta menjadi inspirasi dalam hidupnya. Diam-diam Bangkit mulai mengidolakan tokoh-tokoh besar yang telah berjasa pada negeri ini.

Bangkit juga terinspirasi cerita dari sebuah buku cerpen yang dibacanya, cerpen itu mengisahkan tentang seorang pemuda, anak dari seorang janda miskin yang cintanya bertepuk sebelah tangan pada seorang gadis anak orang kaya raya, sebut saja Bunga. Dalam buku tersebut diceritakan Bunga baru akan mau menerima cinta pemuda miskin tersebut yaitu Andri apabila ia telah menjadi seorang dokter.

“Bunga, aku sadar, aku ini dari keluarga miskin yang tak pantas dekat dengan kamu, apalagi memilikimu, tapi aku sangat mencinataimu, Bunga.” Kata Andri suatu hari.

“Seharusnya kamu ngaca, Andri. Bener kamu ganteng, kamu gagah, tapi kamu gak layak deket dengan aku, apalagi ingin memiliki aku. Uatu hal yang gak mungkin, Andri. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana orang tuaku yang sangat keras?” Sahut Bunga.

“Aku tahu, Bunga. Aku tahu itu. Tapi hati ini tidak bisa dibohongi. Aku sangat mencintaimu, Bunga.” Tambah Andri.

“Persetan dengan cinta! Hidup gak hanya cukup dengan cinta! Sebaiknya mulai sekarang kamu menjauhi aku!” Teriak Bunga.

“Aku minta sama kamu, Bunga. Terimalah cinta yang tulus ini! Aku minta!” Pinta Andri memelas.

“Aku gak bisa, Andri. Tapi baiklah, kalau kamu bisa memenuhi permintaanku ini, aku mau jadi istrimu.” Kata Bunga hanya untuk menyenangkan hati Andri. Karena bagi Bunga hal yang dipikirkan, tidak akan bisa dilakukan oleh Andri.

“Apa itu, Bunga? Katakan saja!” Sebut Andri.

“Kamu mau dan sanggup kan memenuhi permintaanku?” Tanya Bunga.

“Mau, mau, mau, apa pun permintaanmu akan aku penuhi.” Jawab Andri mantap.

“Andri, aku mau jadi istri kamu kalau kamu sudah menjadi seorang dokter.” Suara Bunga lirih.

Bagai disambar geledek di sing bolong, Andri mendengar permintaan Bunga. Betapa tidak, Andri yang hanya anak seorang janda miskin harus menjadi dokter. Hal yang sangat mustahil. Sekolah samapai SMA saja sesuatu yang sangat luar biasa. Itu sudah anugrah dari Tuhan baginya. Sekarang ia harus menggapai gelar dokter.

“Sanggup, gak?” Tanya Bunga.

“Akan aku usahakan, Bunga. Aku akan mencoba untuk meraih yang kamu syaratkan.” Ujar Andri lirih hampir tak terdengar oleh Bunga yang mepet dengan Andri.

“Raihlah, Andri. Aku akan menunggu sampai kamu jadi dokter.” Senyum Bunga mengembang.

Dalam buku tersebut diceritakan Andri merantau ke kota hingga dalam perjalanan bertemu dengan Pak Harun yang berprofesi sebagai seorang dokter yang kaya raya namun welas asih hingga Andri diajak oleh Dokter Harun untuk membantu menjaga Laboratorium yang ia miliki.

Atas kejujuran Andri, diam-diam Pak Harun memperhatikan Andri yang suka membaca buku-buku kedokteran. Ahirnya Andri dikuliahkan ke fakultas kedokteran namun dengan satu syarat setelah menjadi dokter nanti agar mau mengabdikan dirinya di daerah yang terpencil dan mau menolong orang miskin. Dokter Harun menceritakan pengalamannya bahwa dirinya dulu adalah anak seorang janda miskin yang ibunya meninggal dunia karena sakit lantaran tidak ada biaya untuk mengobati penyakit ibunya. Dengan bercucuran air mata Dokter Harun menceritakan pengalaman pahitnya kepada Andri. Saat itu tidak ada dokter yang mau menolong ibunya hingga ibunya tidak bisa tertolong lagi lantaran tidak punya biaya untuk berobat. Karena faktor kemiskinannya. Saat itulah dirinya bertekad ingin menjadi dokter agar bisa menolong orang-orang miskin.

Mendengar cerita tersebut Andri bersedia menerima persyaratan yang diajukan Dokter Harun. Andri mulai kuliah kedokteran dan semua biayanya ditanggung oleh Dokter Harun hingga lulus. Setelah lulus Andri yang telah bergelar dokter tersebut berpamitan dengan Dokter Harun yang telah dianggapnya sebagai ayahnya sendiri. Andri menuju kampung halamannya, di mana ia akan mengabdikan dirinya dan akan melayani masyarakat sesuai janjinya pada ayah angkatnya yaitu Dokter Harun. Tangisan perpisahan antara Dokter Harun dengan anak angkatnya yaitu Dokter Andri pun tak dapat terbendung lagi. Keduanya yang selama ini sudah saling menganggap ayah dan anak itu berpelukan mengucapkan perpisahan.

Kepulangan Andri yang kini telah menjadi seorang dokter disambut bahagia oleh ibunya yang selama ini selalu berdoa agar dapat dipertemukan kembali dengan Andri. Desas-desus kepulangan Dokter Andri telah sampai ke telingga Bunga. Dengan perasaan bahagia Bunga segera menyambangi rumah Andri.

“Apa kabar Andri, aku senang kamu sudah kembali di kampung ini.” Kata Bunga.

“Alhamdulillah baik, Bunga kamu semakin cantik saja.” goda Andri. Bunga sedikit tersipu malu.

“Bagaimana kuliahmu? Lancar-lancar saja kan?” Tanya Bunga berbasa-basi.

“Lancar-lancar saja, Bunga. Seperti yang kamu lihat, sekarang aku sudah bisa memenuhi permintaan yang sekaligus sebagai syarat untuk aku bisa meminang kamu.” Ujar Andri.

“Iya, aku sangat senang kamu bisa memenuhi permintaanku.” Sahut Bunga.

“Aku denger-denger dari kawan-kawan, kamu sudah mau nikah ya?” Suara Andri memancing.

“Siapa bilang? Aku menunggu kamu, Andri. Buktinya sampai sekarang aku masih sendiri.” Ucap Bunga meyakinkan Andri.

“Bunga, kamu sangat cantik. Kamu pasti banyak yang naksir, tapi mengapa kamu belum menikah?” Tanya Andri.

“Banyak sih, bahkan banyak banget yang mau dengan aku. Tapi aku sangat mencintaimu, aku selalu menunggumu.” Ujar Bunga.

“Selama ini kamu tidak pernah memberi kabar kepadaku, banyak orang dari desa ini yang datang ke kota dan ketemu aku, tapi tidak ada satu pun yang kamu titipi salam buat aku?” Singgung Andri sedikit jengkel.

“Aku takut mengganggu kamu, Andri. Sudahlah, yang penting aku masih sendiridan selalu menunggumu.” Ucap Bunga.

“Beberapa hari ini aku lihat ada cowok yang sering ke sini, apa bukan calonmu, Bunga?” Tanya Andri.

“Calon? Calon apa? Dia bukan siapa-siapaku. Dia hanya temanku.” Sergah Bunga sedikit kaget.

“Kamu ingat, temanku di kampung ini banyak sekali. Aku dender dari mereka bahwa kamu akan menikah dengan cowok anak juragan kakao yang baru datang ke kampung ini setahun yang lalu.” Kata Andri memancing.

“Kamu jangan denger omongan mereka, Andri. Aku hanya mencintai kamu. Lagian Dani anak itu sangat urakan gak seperti kamu." Ujar Bunga.

Tak lama dari itu, ada seorang cowok masuk ruang tamu tanpa permisi. Bunga sangat kaget. Ternyata yang masuk adalah Dani anak juragan kakao pacar Bunga. Sejurus dengan itu, Dani menarik tangan Bunga ke belakang. Tinggal Andri yang cengar-cengir sendirian. Sesaat Dani dapur dan menemui Andri.

“O... ini yang namanya dokter Andri. Pantas, pantas, pantas.” Suara Dani sambil petantang petinting hilir mudik dekan Andri.

“Sebenarnya ada apa ini?” Tanya Andri tidak tahu.

“Jangan belagak gak tahu ya? Kamu yang merusak hubunganku dengan Bunga.” Kata Dani dengan suara tinggi.

“Sebentar! Saya tidak tahu dengan semua yang kamu katakan. Saya baru pulang kampung tiga hari ini, dan saya baru datang ke rumah Bunga sekali ini, jadi di mana letak saya merusak hubungan kalian?” Tanya Andri.

“Sudah jangan banyak omong! Kamu mau pergi dari rumah ini apa gak?” Tanya Dani kasar.

“Nanti dulu! Kita bicarakan dengan tenang! Apa sesungguhnya yang terjadi dengan kalian?” Ujar Andri pelan.

“Ahhh sudah jangan banyak omong!” Teriak Dani sambil melayangkan tinju ke arah muka Andri.

Yang diserang secara mendadak tidak ada waktu untuk mengelak, beruntung tangan Andri refleks menangkis tangan Dani sehingga tinju Dani tidak sampai mendarat ke muka Andri.

“Kurang aja kamu ya! Dikira aku gak bisa membuat bonyok mukamu. Tunggu nanti malam, akan aku remukkan tubuhmu yang sok iti!” Teriak Dani sambil meninggalkan rumah Bunga.

“Sesuai janji yang pernah saya utarakan kepadamu, sekarang saya menerima cinta kamu, Andri.’’ Kata Bunga.

Andri tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih Bunga, atas kepercayaan kamu kepada saya, tapi maaf kamu hanya mencintai seorang dokter, bukan mencintai Andri, anggap saja Andri yang dulu telah tiada.” Ujar Andri.

Mendengar jawaban Andri, mata Bunga berkaca-kaca, dan tak lama kemudian Andri pamit meninggalkan Bunga.

Malam harinya Dani dan kawan-kawan yang jumlahnya 22 orang mendatangi rumah orang tua Andri. Merka berteriak-teriak meminta Andri untuk keluar. Lima menit sudah tak seorang pun yang keluar dari rumah. Dani menjadi marah. Dani menyuruh teman-temannya untuk mendobrak pintu rumah yang sudah reot. Sekali dobrakan pintu itu telah hancur berkeping-keping. Teman-teman Dani mencari-cari Andri, tapi tak ditemukannya.

Sekelompok pemuda yang berjumlah 25 orang lebih yang semula mau berkunjung ke rumah Andri jadi kaget. Setelah mereka mengamati dan menyimak apa yang terjadi, mereka menjadi tidak terima dengan apa yang dilakukan Dani dengan teman-temannya. Terjadilah perkelahian yang cukup sengit. Tak sedikit dari mereka yang luka-luka. Dani sendiri bisa di ringkus oleh teman-teman Andri yang membuat yang lain menyerah. Bersamaan dengan itu Andri dengan ibunya muncul. Mereka baru pulang dari rumah Kepala Desa.

“Ada apa ini?” Tanya Andri pada mereka yang habis berkelahi.

“Maaf, Dokter. Ini Dani dan kawan-kawan merusak rumah Dokter.” Ucap Saman teman Andri.

“O....” Ucap Andri sangat tenang.

“Kok Dokter tidak marah?” Tanya Saman.

“Buat apa marah? Biarkan Dani melampiaskan emosinya. Dia marah karena menyangka saya menginginkan Bunga. Padahal saya tidak ingin Bunga jadi istri saya. Karena saya sudah punya calon yang sama-sama dokter, besok dia ke sini dan bertugas di desa ini bersama-sama dengan saya.” Ujar Andri pada teman-temannya.

“Tapi rumah Dokter rusak berantakan oleh mereka?” Kata Saman lagi.

“Tidak apa-apa. Saya dan Ibu sudah sepakat pindah rumah, karena rumah orang tua Dani dijual dan sudah saya beli bersama calon istri saya. Besok kami pindah rumah.” Papar Andri.

Mendengar itu, Dani menjadi lemas dan meminta untuk dilepaskan sambil meronta-ronta. Pandangannya memudar ke arah Andri.

“Apa benar semua itu, Dokter?” Tanya Dani lemah.

“Benar, Dani. Orang tuamu mau kembali ke kota tempet kelahiranmu. Di sini orang tuamu merasa kurang berkembang.” Jawab Andri jujur.

“Saya minta maaf, Dokter. Saya sangat mencintai Bunga, izinkan saya meninang dia.” Ujar Dani.

“Silakan, Dani. Yang penting Bunga tidak merasa terpaksa. Semoga kalian berjodoh.” Ucap Andri.

“Terima kasih, Dokter. Sekali lagi aku minta maaf.” Iba Dani.

“Saya tidak merasa kamu punya salah sama saya.’’ Ujar Andri.

Cerita di atas merupakan salah satu cerita yang menjadi insfirasi Bangkit untuk menggapai cita-citanya dan berbagai cerita insfirasi lainnya yang akhirnya telah mampu mendoktrin jiwa Bangkit bahwa dalam menjalani hidup ini perlu perjuangan dan pengorbanan. Tidak selamanya anak orang miskin harus terlahir sebagai orang miskin pula. Semuanya terbuka lebar untuk meraih sebuah kesuksesan karena ada falsafah di mana ada kemauan pasti disitu ada jalan, banyak jalan menuju roma dan masih banyak lagi jenis falsafah yang patut dijadikan pegangan hidup. Sehingga saat itu Bangkit sangat menyukai pelajaran sejarah. Sampai-sampai ketika naik ke kelas enam, nilai matematika Bangkit di lapor hanya enam saja. Sedangkan nilai-nilai yang lain di atas tujuh semua namun Bangkit tetap menjadi ranking satu di kelasnya. Bangkit memang sedikit kurang suka dengan pelajaran matematika. Karena Pak Haryoko guru yang mengajar matematika dianggap kurang sabar dalam mengajar. Jika muridnya tidak mudeng-mudeng Pak Haryoko marah sambil mengeluarkan berbagai umpatan seperti, otak udang, sentul kenyut, bakero, tempoyak dan lain sebagainya.

Suatu ketika Bangkit disuruh maju ke depan membuat bilangan rasional oleh Pak Haryoko. Sambil gemetar Bangkit maju dan menulis di papan tulis. Ternyata hasil pekerjan Bangkit salah, lalu Pak Haryoko mengumpat dengan kata-kata yang sama dan sedikit meledek Bangkit.

“Bangkit-Bangkit, kamu ini matematikanya gak bisa kok jadi rangking kelas.” Kata Pak Haryoko.

Dengan polos Bangkit menjawab ketus, “Siapa suruh saya menjadi ranking kelas, Pak.”

Mendengar jawaban dari Bangkit Pak Haryoko pun marah sambil memegang kepala Bangkit, lalu ditekannya kepala Bangkit ke Papan tulis sampai mukanya mencium papan tulis sampai belepotan kapur. Sambil sedikit meneteskan air mata Bangkit disuruh kembali ke tempat duduk. Kejadian itu dijadikan oleh Bangkit sebagai cambuk untuk giat belajar lagi, dan dalam hati Bangkit berjanji, “akan saya tunjukan kepada Pak Haryoko bahwa suatu saat saya akan mampu mengoprasikan bilangan matematika.”

Menjelang ujian akhir atau Ebtanas, di sela-sela jam belajar istirahat Bu Ranti memanggil Bangkit ke ruang guru.

“Setelah lulus nanti kamu mau lanjut ke mana, Nak?’’ Tanya Bu Ranti.

“’Tidak lanjut, Bu,” jawab Bangkit.

“’Lo… kenapa, sayang kan?” Bu Ranti melanjutkan pertanyaannya.

“Tidak punya biaya, Bu?” jawab Bangkit.

Mendengar jawaban Bangkit Pak Haryoko menceritakan pengalaman pahitnya bahwa ketika itu Pak Haryoko pergi ke Lampung hanya bermodalkan ijazah saja hingga kini sukses menjadi seorang guru. Pak Haryoko yang terbiasa garang ketika sedang mengajar di kelas ternyata hari itu bercerita sambil sedikit matanya berkaca-kaca mengenang pahit dan getir pengalaman hidupnya. Bangkit kembali mendengarkan semua cerita pengalaman dari guru yang rata-rata mengisfirasi buat dirinya.

Rupanya semua pengalaman hidup guru-gurunya selalu terngiang di telinga Bangkit. Hingga sampai tiba di rumah Bangkit pun menyampaikan keinginannya kepada Pak Karyo untuk melanjutkan sekolah ke SMP jika lulus nanti. Pak Karyo pun mengiyakan asalkan lulus nanti nilai Ebtanas Bangkit paling tinggi. Bukan main girangnya hati Bangkit mendengar jawaban dari bapaknya. Bangkit segera ganti baju dan bergegas ke sawah menyusul ibunya. Sambil jalan menuju ke sawah, Bangkit berkhayal kelak akan mengenakan pakaian biru putih.

Ahirnya waktu yang ditunggu-tunggu Bangkitp telah tiba. Bangkit pulang ke rumah lalu menunjukan pengumuman hasil kelulusannya pada Pak Karyo. Saat itu pula Bangkit menagih janji Pak Karyo yang mau menyekolahkan Bangkit ke SMP. Di luar dugaan Pak Karyo malah marah-marah.

“Kamu ini tidak tahu orang tua lagi pusing apa, padi yang kita tanam gagal panen habis dimakan oleh tikus semua.” Suara Pak Karyo ketus.

Mendengar itu Bangkit terdiam dan langsung meninggalkan Pak Karyo. Bangkit pergi ke kamarnya dengan perasaan kecewa lalu merebahkan badannya di kamar. Pandangan matanya pun kosong menatap ke atas tertuju pada sebuah genteng rapuh yang mulai diselimuti oleh sawang. Sambil merefresh kembali jawaban dari Pak Karyo namun tak menggoyahkan niat Bangkit untuk melanjutkan sekolah ke SMP.

Hingga setiap waktu Bangkit selalu merengek-rengek kepada ibunya.

“Boleh ya Bu saya sekolah lagi?” Kata Bangkit.

Namun sepatah kata pun jawaban yang diharapkan oleh Bangkit tidak keluar dari mulut ibunya.

“Boleh ya Bu, ya?” Rengek Bangkit lagi.

Siang malam Bangkit selalu merengek kepada ibunya hingga lama-kelamaan ibunya jengah mendengar rengekan-rengekan dari Bangkit.

“Sana…, kalau mau sekolah cari biaya sendiri, ibu tidak punya uang!” Teriak Bu Karyo.

Bangkit terdiam dan duduk termenung di samping ibunya. Mendengar jawaban dari ibunya, Bangkit bertekad akan mencari biaya sendiri untuk melanjutkan sekolah.

Bangkit menemukan jalan, terlintas olehnya sebentar lagi akan tiba musim panen padi di kampungnya. Di mana kebiasaan di kampungnya setiap panen padi siapa saja yang panen padi bisa ikut mengetam atau ikut memanen padi. Hasil ketamnya akan dibagi menjadi lima bagian. Empat bagian untuk yang punya tanah dan satu bagian untuk yang mengetam. Setiap kali ada informasi tetangga yang panen padi di situ keluarga Pak Karyo ikut membantu. Tidak ketinggalan juga Bangkit. Bangkit membawa ketam dan selembar karung persiapan hasil padinya. Hasil dari bagian memanen padi keluarga Pak Karyo dikumpulkan dan ditumpuk menjadi satu. Sementara hasil Bangkit, dipisah di sebelah tumpukan padi ibu dan saudara-saudaranya. Hingga tumpukan padi yang diperoleh Bangkit semakin hari semakin banyak.

Sore itu padi hasil jerih payah Bangkit ternyata sudah disatukan menjadi satu tumpuk dengan hasil bagian ibu dan saudara-saudara Bangkit. Bangkit segera mengambilnya kembali padi yang telah disatukan oleh ibunya. Melihat tingkah laku Bangkit, ibu marah besar dan mengusir Bangkit dari rumahnya.

“Pergi sana! Tidak usah tinggal di sini! Masih kecil aja sudah tega sama orang tua apalagi nanti kalau sudah besar pasti lebih tega!” Usir Bu Karyo pada Bangkit.

Bangkit hanya terdiam sambil berusaha untuk tegar. Namun tanpa disadarinya nafasnya tersengal-sengal karena menahan tangis sedih. Hujan air mata Bangkit tak terbendung.

Sambil menangis Bangkit segera memasukan padi ke karung hasil kerja kerasnya dan sore itu juga menjualnya ke pembeli padi. Bangkit menerima uang hasil menjual padi sebesar tuju belas ribu rupiah. Setelah padi diangkut oleh pembeli dan pembeli pergi meninggalkan rumah Pak Karyo, ucapan yang sama kembali dilontarkan oleh Bu Karyo mengusir Bangkit. Bangkit segera meninggalkan ibunya yang sedang marah besar pada dirinya. Diambilnya selembar handuk pergi menuju kamar mandi yang letaknya di sebelah rumah. Dengan perasaan tidak menentu sambil terisak-isak lalu Bangkit menimba air di sumur dan langsung menyiramkannya keseluruh badan.

Siraman air pun ternyata belum mampu menghapus kesedihan yang dialami Bangkit. Dengan napas yang masih tersengal-sengal dan sesenggukan Bangkit terus berusaha meredakan kesedihannya dengan menyiramkan berulang-ulang ke tubuhnya menggunakan air yang ia timba dari sumur. Setelah dirasa sedikit reda kesedihannya, Bangkit kembali masuk rumah dan naik ke atas rumah panggung kemudian berganti pakaian dan segera melaksanakan salat ashar. Usai salat Bangkit rebahan dan berusaha melupakan kesedihannya. Semakain berusaha melupakan kesedihannya, justru semakin pula teringat kejadian yang menimpanya. Isakan dan tangisan Bangkit kembali menderanya. Karena kelelahan ahirnya Bangkitpun tertidur bersama kegundahan hatinya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post