ASAL-USUL NAMA PANTAI BATU RAME KALIANDA
Oleh : RISWO
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pribasa tersebut mengandung makna, bahwa di setiap daerah memiliki adat istiadat serta budaya yang berbeda-beda pula. Maka rasanya tepat sekali, dimana bumi kita pijak, di situ langit harus kita junjung. ”Where the earth we step on there the we uphold.” Artinya seseorang sudah sepatutnya mengikuti atau menghormati adat istiadat yang berlaku di tempat tinggalnya.
Seperti di Kalianda Lampung Selatan, kita mengenal budaya kearifan lokal yang bernama”Tradisi Budaya Ngiban”. Dalam tradisi budaya ngiban itu sendiri, memiliki estetika dan keunikan tersendiri sebagai salah satu kekayaan budaya milik masyarakat Kalianda Lampung Selatan. Mengapa demikian? Karena di dalam tradisi budaya ngiban, mengandung nilai-nilai budaya tinggi yang mencerminkan keunikan dan keindahan bagi masyarakat Kalianda Lampung Selatan.
Karena di dalam tradisi Budaya Ngiban, terselip sebuah sastra lama yang ikut menopang tradisi “Budaya Ngiban” itu sendiri. Berupa sastra lama yang bernama sagata atau pantun lampung.
Lalu apa sih yang dimaksud dengan tradisi budaya ”Ngiban?” Kata Ngiban sendiri mengandung arti berkunjung ke rumah gadis lampung yang dilakukan pada malam hari oleh seorang pemuda. Mungkin lebih tepat lagi kata ngiban jika diartikan dengan bahasa anak muda zaman sekarang adalah ”nganjang” ke rumah gadis atau ngapel ke rumah gadis.
Ngiban dengan nganjang sebenarnya memiliki perbedaan. Perbedaannya terletak pada waktu dan tata caranya. Bagi orang jawa ketika seorang pemuda akan nganjang ke rumah gadis, sudah barang tentu datangnya dilakukan secara terang-terangan, dan diketahui oleh keluarga si gadis. Bahkan disambut oleh orang tua gadis atau keluarga si gadis di ruang tamu.
Pemuda tersebut bahkan bisa langsung berkenalan dengan kedua orang tua gadis. Waktunya pun bisa dilakukan kapan saja. Bisa pagi hari, siang hari, sore hari, bahkan pada malam hari. Namun pada malam hari batas waktunya hanya
sampai jam sembilan malam. Lewat dari jam itu dianggap sudah melanggar adat jawa.
Akan tetapi tradisi ngiban disini tata caranya pun berbeda dengan tata cara adat jawa. Dalam ngiban sang pemuda (makhanai) datang ke rumah sang gadis (muli) secara diam-diam, dan dilakukan pada malam hari tanpa diketahui oleh keluarga gadis. Kehadiran Makhanai ini juga, tidak melalui pintu rumah depan. Melainkan melalui pintu dapur. Sementara sang Muli sendiri berada di kamar, tanpa bertemu langsung dengan Makhanai. Atau bisa juga, sang Muli berada di kamar. Sementara sang Makhanai sendiri berada di luar rumah.
Pertanyaannya, apakah sang Makhanai ini dapat melihat langsung wajah sang Muli? Jawabannya tidak. Pertemuan mereka dibatasi oleh dinding rumah sebagai pembatasnya. Mereka pun ngobrol di tempat gelap-gelapan. Karena saat itu belum ada lampu listrik. Ada pun alat penerangan kala itu, hanya menggunakan lampu templok atau lampu patromaks yang ada di dalam rumah sang Muli.
Dalam prosesi ngiban, makhanai biasanya mengungkapkan isi hatinya lewat sebuah pantun sagata berbahasa lampung. Lalu sang Muli menjawab sagata yang disampaikan oleh Makhanai. Hingga terjadilah saling sahut - menyahut, dalam sebuah pantun berbahasa Lampung.
Setelah Makhanai mengungkapkan isi hatinya kepada Muli, lalu sang Muli menerima ungkapan isi hati Makhanai melalui sagata. Maka Makhanai akan mengungkapkan isi hatinya ketika pulang dari rumah Muli. Lalu Makhanai mengungkapkan perasaan hatinya sampai di perbatasan kampung, dalam bentuk, Kias yang berisi ungkapan kebahagiaan.
Namun sebaliknya, jika ternyata Muli menolak ungkapan hati Makhanai, atau menolak cintanya Makhanai, maka setelah pulang dari rumah Muli, Makhanai akan ber Kias tentang kesedihannya, yang berisikan penolakan. Kias adalah bentuk pelantunan syair dalam bentuk lirik dan naratif, menggunakan Bahasa Lampung. Berisikan curahan hati si pelantun yang meliputi suka, duka, dan cerita-cerita ringan mengenai keseharian, dan lain sebagainya.
Perlu diketahui, Kias hanya dimiliki oleh masyarakat Lampung Selatan yang ada di Kecamatan Kalianda, dan Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan saja dan tidak dimiliki di daerah lainnya. Salah satu pelantun Kias yang masih eksis sampai saat ini adalah Haji Mataraja (almarhum), yang berdomisili di Desa Kadaton Kecamatan Kalianda Lampung Selatan.
Lalu apa hubungannya antara tradisi ”Budaya Ngiban” ini dengan nama pantai “Batu Rame” yang terletak di Kecamatan Kalianda Lampung Selatan, yang merupakan salah satu tempat wisata primadona bagi penduduk lokal dan luar daerah di Provinsi Lmpung?
Simak kisahnya berikut ini.
Kala itu ada sepasang muda mudi yang saling jatuh cinta.yang bernama Betk Hati dan Putri. Sayangnya hubungan mereka harus berahir tragis lantaran fitnah yang dilakukan oleh Putra, setelah cintanya ditolak oleh Putri. Penolakan cinta Putra oleh Putri saat pertama kali Putra mengutarakan perasaannya. Dimana sebelumnya Putra melihat Putri saat ada kegiatan muda-mudi di rumah salah satu sahabatnya.
Berawal dari pertemuan Putra dengan Putri, membuat Putra tak dapat melupakan Putri. Bayangan Putri selalu menghantuinya. Hari ini Putra sudah tak sabar ingin bertemu Putri, dan ingin mengutarakan cintanya. Hingga akhirnya, Raja siang, telah kembali ke peraduannya. Mendekap erat, menarik cahaya yang menyinari alam semesta. Suara angin mendesis perlahan, merambah, memadamkan cakrawala terang menjadi gelap gulita.
Kini giliran sang dewi malam, tersenyum ramah, menampakan wajahnya yang penuh mempesona. Samar-samar dari kejauhan di balik pohon cengkeh, terlihat seorang pemuda berjalan menelusuri jalan setapak. Dengan penuh kehati-hatian, ia melangkah setengah jinjit menuju rumah panggung yang jaraknya kurang dari dua ratus meter.
Dengan ditemani kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang, pemuda dengan style khas pedesaan itu berjalan merunduk, membungkus tubuhnya dengan sarung, bercorak putih, kotak-kotak hitam. Sepintas lalu, ia terlihat seperti pocong bermotif papan catur, berjalan berjingkat-jingkat, penuh kehati-hatian.
Tidak butuh waktu lama, pemuda bertubuh kerempeng itu pun telah sampai di rumah panggung, yang memiliki ketinggian dari tanah, kurang lebih satu meter. Pemuda itu lalu berhenti, dan membuka sarungnya yang berbahan dasar katun. Sembari menarik napas panjang, pandangannya tertuju pada segala sudut, memastikan bahwa kedatangannya tidak diketahui oleh siapa pun.
Setelah dirasa cukup aman, pemuda yang belum genap berumur tujuh belas tahun itu, menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah papan. Sementara tangan kanannya mengusap-usap dadanya yang kian berdebar kencang.
Ia kembali menarik napas panjang, memusatkan tekadnya dan menguatkan keberaniannya. Setelah itu ia mengetuk dinding rumah tiga kali, tok, tok, tok, dibarengi dengan untaian sebuah pantun.
Robbikum ya robbikum
Robbikum sollu ala
Assalamualaikum
Jama niku sai dija (dengan kamu yang di sini).
Untuk sesaat, suasana di tempat itu terasa hening. Pemuda yang biasa disapa Putra, kembali mengetuk, sembari mengucapkan salam, lewat pantunnya. Tok, tok, tok.
Robbikum ya robbikum
Robbikum sollu ala
Assalamualaikum
Jama niku sai dija.
Tak lama kemudian, dari balik kamar terdengar samar-samar, suara lembut seorang gadis yang menjawab untaian pantunnya.
Robbikum ya robbikum
Robbikum sollu alah
Waalaikum
Jama niku sai di luah (Dengan kamu yang di luar).
“Sapa niku sai di luah, bang?”
(Siapa kamu yang di luar, bang?)
“Nyak, dek.” (Saya, dek?)
“Nyak, sapa?” (Saya siapa?)
“Abang dek, sai ge ha hatong mit acakha muli-mekhanai mit lamban ni Yanti.”
(Abang dek, yang waktu itu datang diacara muda-mudi rumhnya Yanti)
“Aih, nduh mak ingok, nyak bang. Soal ni sai hatong mit dudi, lamon do bang.”
(Ah, nggak tahu, saya nggak inggat. Soalnya yang datang waktu itu banyak bang)
“Aih, niku lah dek. Masa mak ingok jama nyak.”
(Ah, kamu lah dek. Masa nggak inget sama saya)
“Temon, nyak mak ingok sekali bang,” (Bener, saya nggak inget sekali, bang),”
ujar Putri menjawab pantunnya lagi.
Wat kupi (Ada kopi)
Nginum di mija bang (Minum di meja)
Wat api (Ada apa)
Niku mit dija bang (Kamu ke sini bang)
Dengan sigap, Putra pun membalas untaian pantun yang dilantunkan oleh sang Muli.
Nganik lontong (Makan lontong)
Jama secawan (Sama secawan)
Nyak khatong (Saya datang)
Haga kenalan (Mau kenalan)
Pantun pun terus berlanjut. Kini giliran Putri membalas pantun dari Putra.
Ki secawan (Kalau secawan)
Butuh kupi bang (Perlu kopi)
Ki haga kenalan (Kalau mau kenalan)
Mak api-api, bang (Nggak apa-apa bang)
“Terima kasih dek. Niku haga kenalan jama abang.”
(Terima kasih dek. Kamu mau kenalan dengan abang)
“Jama-jama bang,” (Sama-sama bang),” ujar Muli.
“Gelakh abang Putra, dek.” (Nama abang Putra, dek)
“Yu bang.” (Ya bang)
“Ki gelakh adek, sapa?” (Kalau nama adek siapa?)
“Gelakh adek, Putri, bang.” (Nama adek, Putri bang?)
“Dapokkah abang, lebih khedik luwot jama adek?” (Dapat kah abang, kenal lebih dekat lagi sama adek?)
“Maksudni api, bang?” (Maksudnya apa, bang?)
“Maksud abang, dapokkah adek ngejadi kekasih abang?” (Maksud abang, bisakah adek menjadi kekasih abang?)
“Ki baka ngejadi kekasih, kilu mahap bang,” (Kalau menjadi kekasih abang, minta maaf bang),” jawab Putri.
“Adek nulak abang ?. Apikah adek khadu ngidok calon?” (Adek nolak abang? Apakah adek sudah punya calon?)
“Layin khesan bang. Adek Mak Haga mikekhon masalah sai khesan. Sekali lagi ngilu mahap yo bang,” (Bukan begitu bang. Adek nggak mau mikirin masalah yang itu. Sekali lagi minta maaf ya bang),” ujar Putri, lalu mengakhiri percakapannya.
Mendengar jawaban Putri, Putra bak disambar petir di malam itu. Ia lalu mengambil langkah seribu, meninggalkan rumah gadis yang telah mengecewakan hatinya. Di sepanjang jalan, pulang ke rumahnya, pemuda yang baru saja patah hati, meluapkan kekesalannya lewat Kias.
Sambil ber Kias, pandangannya hampa, penuh keputus asaan. Kedua sudut matanya menganak sungai. Sementara kedua rahang giginya terdengar gemertak, saling beradu. Menandakan bahwa pemuda yang baru saja patah hati, sedang mengharu biru.
Malang nasib ni badan. Bingi inji, hati ku pekhih bagai diikhis-ikhis sembilu. Cinta pertama ku jama Putri, patoh di tengah sungi. Goh jilah nasib dikhiku. Putri, oh Putri. Tega nihan niku jama Abang. Kukhang sikop api nyak di mata mu, Putri. (Malang nasib nya badan. Malam ini, hati ku perih bagai diiris-iris sembilu. Cinta pertama ku dengan Putri, patah di tengah jalan. Beginilah nasib diri ku. Putri oh, Putri. Tega sekali kamu sama abang. Kurang ganteng apa aku di mata mu, Putri).
Sejak dirinya ditolak oleh Putri, Putra pun selalu mengawasi rumah Putri. Malam harinya secara diam-diam, Putra bersembunyi di semak-semak, memastikan siapa kekasih Putri yang sebenarnya. Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda tampan ke rumah Putri.
Kedatangan pemuda itu pun disambut hangat oleh Putri. Hal ini membuat Putra darahnya semakin mendidih. Cemburu butanya, membuat otaknya kotor, mencari akal untuk menjebak keduanya. Secara diam-diam, Putra pun meninggalkan tempat persembunyiannya, lalu menyambangi warga dan menceritakan bahwa Betik Hati telah melanggar adat, dan telah berbuat tidak senonoh dengan Putri.
Mendengar cerita Putra, warga pun sangat marah, lalu mendatangi rumah Putri yang hanya tinggal berdua dengan ibunya.
“Hai Betik Hati! Jangan kau kotori kampung ini!” ujar Putra.
“Bakar saja rumahnya!” teriak warga.
“Ya kita bakar saja rumahnya,” timpal warga lainnya. Warga yang sudah tersulut emosinya langsung melempar obor yang dibawanya. Dalam sekejap, rumah panggung beratapkan dedaunan itu ludes dilalap si jago merah. Putri meraung-raung tak dapat menyelamatkan ibunya yang sedang terlelap. Betik Hati segera menarik Putri, meninggalkan rumahnya, menerobos dikegelapan malam.
Melihat buruannya kabur, warga mengejarnya sampai ke tengah hutan. Sejengkal tanah pun tak lepas dari pandangannya. Mereka mengoprak-oprak hutan hingga tumbuhan dan dedaunannya rata dengan tanah. Sehingga keberadaan Betik Hati dan Putri akan mudah dilihatnya.
Akhirnya warga melihat persembunyian Betik Hati dan Putri. Mereka mengejar dan mengepungnya. Sehingga sepasang muda-mudi itu tak dapat lolos dari kejarannya. Melihat posisinya terjepit Betik Hati dan Putri terlihat kebingungan. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa dan hampir putus asa. Mau lari ke depan, puluhan warga sudah menghadangnya. Mau lari ke kanan puluhan pemuda sudah menunggunya, dan mau lari ke kiri beberapa orang sudah menunggunya. Sementara di belakang mereka terbentang lautan lepas, tak mungkin dapat menyeberanginya.
“Kita terkepung, dek. Kita tidak bisa lari lagi. Kita maju pun pasti akan mati sia-sia. Kita mundur pun akan ditelan ombak,” kata Betik Hati.
‘Tenangkan hati mu, abang. Jangan risau dan bimbang. Tataplah mata adik mu ini, bang. Kemana pun abang pergi, adek akan turut. Tidak ada seorang pun yang akan dapat memisahkan cinta kita. Adek rela mati bersama mu demi menjaga cinta kita, bang.”
Betik Hati menatap kekasihnya. Ia merasa heran mengapa kekasihnya tiba-tiba terlihat sangat berani. Dimatanya tak terlihat sedikit pun rasa takut. Sorot matanya menyiratkan sebuah keyakinan untuknya. Betk Hati tersenyum lalu memeluk kekasihnya.
“Kata-kata mu membuat abang merasa tenang, dek. Terima kasih, adek sudah menguatkan hati abang. Maafkan abang jika cinta kita harus berakhir seperti ini.”
“Sssstttt, jangan berkata seperti itu, bang. Adek rela mengorbankan apa saja demi abang.”
“Apakah adek tidak akan menyesal?”
“Adek tidak akan pernah menyesal, bang. Semua ini sudah kehendak Tuhan. Mari jalani takdir ini dengan ikhlas. Mudah-mudahan kita akan menemukan kebahagiaan di sana,” ujar Putri menunjuk ke tengah laut.
Sambil bergandengan tangan, keduanya tersenyum menatap warga. Warga yang sedang berjalan mendekati Betik Hati dan Putri, menghentikan langkahnya. Ada sebuah keberanian terpancar pada tatapan keduanya. Seolah ada sesuatu yang ingin dikatakannya.
Untuk sementara suasana di tempat itu terlihat hening dan sepi. Hanya deburan ombak yang menjadi saksi, bahwa sepasang kekasih yang ada di hadapannya tak pernah melanggar norma dan adat yang dituduhkan kepadanya. Disaat itulah keduanya membalikan badan, lalu melompat ke laut. Secepat kilat tubuh keduanya tergulung ombak, dan ditarik ke tengah laut.
Seiring kejadian itu, tiba-tiba air laut surut dan mengering. Kejadian ini membuat warga sangat heran, dan dibenaknya ada seribu satu pertanyaan.
“Aneh bin ajaib. Kenapa tiba-tiba air laut ini mendadak kering?” ujar Putra.
“Jangan-jangan ini sebuah pertanda kalau Betik Hati dan Putri tidak bersalah?” kata salah satu warga.
“Jangan-jangan tuduhan kamu itu tidak benar! Katakan, Putra!” Apa sebenarnya yang telah terjadi. Katakan!” mengguncang-guncang tubuh Putra. Putra pun tertunduk lemas, mengakui kesalahannya.
“Saya minta maaf. Sebenarnya mereka tidak berbuat seperti yang saya tuduhkan. Saya hanya cemburu melihat hubungan mereka.”
“Apa!? Jadi kamu memfitnah orang yang tidak bersalah, ha!? Celaka,” mendorong tubuh Putra lalu turun ke laut mencari Betik Hati dan Putri.
Mendengar pengakuan Putra, semua warga merasa menyesal karena tidak menanyakan terlebih dahulu soal kejadian sebenarnya kepada Betik Hati dan Putri. Satu persatu penduduk pun berhamburan ke laut yang telah mengering. Mereka berpencar mencari Betik Hati dan Putri, sambil memanggil-manggil namanya.
Disaat mereka sedang sibuk mencari sepasang kekasih yang tak berdosa, tiba-tiba gelombang besar datang menyapu warga, dan menyeretnya ke tengah laut. Sontak saja mereka tak dapat menyelamatkan diri dan hilang ditelan ombak.
Semenjak itu, pada malam-malam tertentu, warga sering mendengar suara ramai, memanggil-manggil Betik Hati dan Putri. Namun ketika dicarinya, tidak ada seorang pun yang ada di sana. Hanya tumpukan batu berserakan yang tiba-tiba ada dan berjajar di sepanjang pantai. Sejak kejadian itu, pantai yang terletak di Kecamatan Kalianda, dinamakan Pantai Batu Rame.
Pantai ini sekarang menjadi salah satu tempat wisata yang menjadi primadona bagi masyarakat lampung. Selain airnya jernih, ombaknya pun tidak begitu besar. Pemandangannya sangat indah, dan sangat aman dijadikan tempat rekreasi bagi keluarga.
Dari cerita ini, kita dapat mengambil hikmahnya bahwa setiap berita yang kita dengar harus kita saring terlebih dahulu dan jangan ditelan mentah-mentah. Setiap berita yang kita dengar, kita harus mengkonfirmasi atau menanyakannya terlebih dahulu kepada sumbernya. Sehingga tidak akan pernah ada lagi korban seperti Betik Hati dan Putri, berikutnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
