Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
ASAL-USUL TOPENG LAMPUNG

ASAL-USUL TOPENG LAMPUNG

Oleh: RISWO

Di keratuan Pugung tampak dua orang pemuda sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an. Suaranya terdengar merdu mendayu-dayu, bak embun pagi menetes di kalbu. Rasa gundah gulana, serta letih yang menggerogoti tubuh ini sirna seketika.

Adalah Minak Gejalo Ratu dan Minak gejalo Bidin, yang merupakan Putra dari pasangan Sultan Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dengan Putri Sinar Alam, dan Putri Sinar Kaca, yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan, nan rupawan. Mereka sedang mendalami ajaran agama islam, yang dibimbing langsung oleh Putri Sinar Alam, dan juga Putri Sinar Kaca Ibunda mereka. Sedangkan untuk pelajaran ilmu kanuragan, dibimbing oleh panglima perang Keratuan Pugung.

Seiring berjalannya waktu, kedua pemuda keturunan darah biru dari Sultan Cirebon dan Keratuan Pugung ini telah menguasai ilmu agama dan berbagai ilmu lainnya termasuk ilmu beladiri. Maka tidak heran jika kedua titisan dari Sunan Gunung Jati tersebut, telah matang dalam segala hal, walaupun usianya masih tergolong sangat muda. Keduanya telah mantap dalam segala hal. Kini mereka kembali menanyakan tentang keberadaan sang ayah. Pertanyaan demi pertanyaan yang belum terjawab selama ini, kembali mereka lontarkan kepada ibundanya.

Saat Minak Gejalo Bidin dan Minak Gejalo Ratu sedang berkumpul dengan kedua Ibunya, yaitu Putri Sinar Alam dan Putri Sinar Kaca, kesempatan itu tak mereka sia-siakan lagi.

“Ibunda, sebelumnya hamba mohon maaf, jika kali ini hamba kembali lagi menanyakan tentang ayah kami. Mohon maaf, Ibunda. Sebenarnya, siapa ayah kami Bunda? Kenapa selama ini ibunda merahasiakannya dari kami? Apakah kami tidak boleh tahu?”

“Benar apa yang dikatakan oleh Kanda Minak Gejalo Bidin, Bunda. Apakah kami tidak boleh tahu siapa ayah kami?” timpal Minak Gejalo Ratu.

“Bukan begitu, Anak ku. Selama ini kami tidak memberi tahu kepada kalian, karena saat itu kalian masih kecil dan belum waktunya tahu soal ayahmu,” kata Putri Sinar Alam.

“Sekarang kami sudah besar, Bunda. Sekarang waktunya kami tahu siapa ayah kami?” timpal Minak Gejalo Ratu.

“Sabar Anak-anak ku, sabar. Hari ini kami akan memberi tahu tentang ayah kalian,” kata Putri Sinar Kaca sambil tersenyum.

Mendengar jawaban dari kedua ibunya, kakak beradik itu mendadak wajahnya berseri-seri. Hari itu mereka tak sabar ingin mengetahui siapa ayahnya, dan di mana dia sekarang?

“Sebenarnya ayah kalian adalah seorang Sultan di Cirebon,” kata Putri Sinar Alam dan Putri Sinar Kaca.

“Ha? Ayah kami seorang Sultan di Cirebon?”

“Benarkah itu Ibu?” sela Minak Gejalo Ratu.

“Benar, Anak-Anak ku. Ayah kalian adalah seorang Sultan di Cirebon,” kata Putri Sinar Alam.

“Boleh kah kami berdua pergi ke sana, menemui Ayah?” kata Minak Gejalo Ratu.

“Boleh, Nak. Asalkan kalian berangkatnya bersama-sama,” kata Putri Sinar Kaca.

“Baik, Bunda,” jawab keduanya kompak.

Keesokan harinya mereka berpamitan untuk menemui ayahnya yang ada di Kesultanan Cirebon.

“Hati-hati di jalan, Anak ku. Sampaikan salam kami kepada ayah kalian,” kata Putri Sinar Alam.

“Baik Ibunda. Kami akan menyampaikan pesan Ibunda,” keduanya kompak.

“Hati-hati, ya Nak. Ini perbekalannya,” kata Putri Sinar Kaca sambil menyerahkan perbekalan kepada putranya.

“Ya Bunda, pesan Bunda akan kami ingat.”

Lalu keduanya berangkat naik sampan atau perahu kayu berukuran kecil, menuju ke Selat Sunda. Di tengah perjalanan, sang kakak yaitu Minak Gejala Bidin merasa cincinnya tertinggal. Ia pun menyuruh adiknya untuk kembali dan mengambil cincinnya yang tertinggal di rumah.

“Waduh, celaka!”

“Ada apa Kanda, Minak Gejalo Bidin?”

“Cincin Kakak ketinggalan, Dek. Tanpa cincin itu kita tidak akan bisa menemui ayah.”

“Terus bagaimana, Kanda?”

“Tolong ambil cincin itu ya, Dek.”

“Baik, Kanda.”

Tanpa membuang-buang waktu, akhirnya Minak Gejalo Ratu memenuhi permintaan kakaknya. Sambil berlarian dengan napas ngos-ngosan, Minak Gejalo Ratu menelusuri jalan setapak. Berkali-kali ia pun terjatuh, lantaran sangat terburu-buru. Beberapa saat kemudian, ia telah sampai ke rumahnya. Kedatangan Minak Gejalo Ratu pun membuat kedua Ibunya terkejut.

“Kenapa kamu kembali lagi, Nak? Dimana Kakak mu, Nak?” ujar Putri Sinar Kaca.

“Kakak masih menunggu di sana, Bu. Saya disuruh Kakak untuk mengambil cincin yang ketinggalan.”

“Cincinnya sudah ibu selipkan di perbekalan kalian, Nak,” sela Putri Sinar Alam.

“Ya Bu. Kalau begitu hamba mohon pamit, kembali menyusul Kanda, ya Bu.”

“Ya, Nak. Hati-hati di jalan,” ujar keduanya kompak.

Minak Gejalo Ratu kembali berlari, pergi menyusul kakaknya. Dengan wajah yang menganak sungai, ia terus berlari dan berlari. Sementara Minak Gejalo Bidin yang sejak dari tadi menunggu kedatangannya, tak sabar karena menunggu adiknya terlalu lama.

“Kenapa kamu belum sampai juga, Dek? Kalau harus menunggu seperti ini, bisa berabe dong. Ya sudah lah. Lebih baik saya berangkat saja,” mendayung sampannya.

Saat diperjalanan, perutnya terasa keroncongan. Ia berhenti sejenak di bawah pohon yang rindang. Kemudian membuka perbekalan yang dibawanya. Saat itu lah ia melihat sebuah cincin yang terselip di perbekalannya.

“Ya Allah, rupanya cincin ini terselip di sini. Kasihan Minak Gejalo Ratu yang sudah aku suruh pulang untuk mengambilnya,” gumamnya, lalu menyantap perbekalannya. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanannya.

Setelah berjalan beberapa hari, tibalah Minak Gejalo Bidin di Kesultanan Cirobon. Ia tercengang melihat bangunan megah yang ada di hadapannya. Sambil celingak-clinguk, Ia segera mengenakan cincin. Dengan langkah pasti, ia berjalan menuju pintu utama. Saat itulah ia ditahan oleh prajurit jaga.

“Hai pemuda, berhenti! Kamu mau ke mana?” tanya salah satu prajurit jaga.

“Saya ingin bertemu Sultan.”

“Hahaha. Memangnya kamu ini siapa?” kata prajurit itu.

Minak Gejalo Bidin tak mau meladeni prajurit itu. Ia melepas cincinnya, dan memberikannya kepada prajurit.

“Berikan cincin ini kepada junjungan kalian,” kata Minak Gejalo Ratu. Prajurit itu pun berlari menuju pendodp kesultanan, lalu menghadapnya.

“Mohon ampun, Tuan ku, Sultan. Ada seorang pemuda di luar sana yang ingin bertemu dengan Tuan ku. Pemuda itu membawa cincin ini, dan hamba disuruh menyerahkannya kepada Sultan.,” kata prajurit itu, menyerahkan cincin yang dibawanya ke Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati mengambil cincin itu, dan menimang-nimangnya beberapa kali. Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya, mengingat sesuatu.

“Bukankah ini cincin yang saya berikan kepada Nimas Putri Sinar Kaca? Berarti pemuda yang membawa cincin ini adalah Minak Gejalo Bidin, Anak ku? Prajurit, suruh dia masuk dan antar ke sini.”

“Sendiko dawuh, Tuan ku." Kata prajurit itu, lalu pergi meninggalkan Sultan. Tak lama kemudian ia sudah kembali lagi bersama Minak Gejalo Bidin, menghadap Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati berdiri dan turun dari singgah sananya, menyambut kedatangan putranya, yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.

“Engkau kah itu Minak Gejalo Bidin?”

“Benar, Tuan ku Sultan. Hamba Minak Gejalo Bidin.”

“Subhanallah. Kamu sudah besar dan sangat tampan, Nak. Ayah kangen sekali. Maafkan ayah ya, Nak. Ayah tidak sempat lagi menjenguk kalian di Pugung.”

“Tidak apa-apa, Kanjeng. Hamba tahu, tugas-tugas Kanjeng lah yang membuat Kanjeng tak sempat datang menemui kami.”

“Jangan panggil kanjeng. Panggil saja ayah ya, Nak.”

“Tidak Kanjeng. Di sini Kanjeng adalah seorang Sultan. Jadi hamba harus menyebut Kanjeng sama dengan yang lain.”

“Terima kasih ya, Allah. Ternyata kamu tidak jauh beda dengan ibu mu, Nak. Kalian berdua memiliki kemiripan. Sopan dan lemah lembut.”

Setelah melepas kerinduannya, Minak Gejalo Bidin diantar ke kamar oleh dayang-dayang. Di kamar barunya, Minak Gejalo Bidin tak menyangka bakal bertemu dengan ayahnya yang sangat ia rindukan selama ini. Keesokan harinya Sultan Cirebon mengajak putranya, berkeliling di Kesultanan Cirebon.

“Bagaimana kabar Ibu kamu, Nak?”

“Alhamdulilah kabar Ibu, tak kurang suatu apa pun juga, Kanjeng.”

“Bagaimana dengan Kakek mu, Ratu Pugung?”

“Alhamdulillah baik juga, Kanjeng.”

“Alhamdulillah, ya Allah. Tolong sampaikan salam ayah kepada mereka ya, Nak.”

“Baik, Kanjeng.”

Setelah berkeliling bersama ayahnya di Kesultanan Cirebon, Minak Gejalo Bidin pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah beberapa lama tinggal di Cirebon, Minak Gajalo Bidin akhirnya berpamitan kepada Wali Allah itu. Namun sebelum ia pulang, Sunan Gunung Jati memberikan harta yang banyak untuk dibawa pulang ke Pugung.

Sementara Minak Gejalo Ratu yang disuruh mengambil cincin oleh Minak Gejalo Bidin, telah tiba dimana Minak Gejalo Bidin menunggu dengan perahunya. Setelah tiba di sana, ternyata kakaknya sudah tidak ada lagi di tempat.

“Kanda Minak Gejalo Bidin, Kanda di mana? Kanda Minak Gejalo Bidin, Saya sudah sampai, Kanda. Kanda di mana?” teriak Minak Gejalo Ratu memanggil-manggil kakaknya.

Minak Gejalo Ratu berusaha mencarinya ke sana ke mari. Namu sudah lama di cari kakaknya tidak ditemukan. Ia menduga Minak Gejalo Bidin telah meninggalkannya. Saat baru saja membalikan tubuhnya, tangan Minak Gejalo Ratu ada yang menariknya. Sehingga hampir saja terjatuh.

“Hai, kenapa kamu buru-buru? Apa yang kamu cari, ha?” ujar dua orang pemuda yang menghalangi langkahnya.

“Lepaskan tangan saya!”

“Tidak semudah itu, kawan. Serahkan dulu barang bawaan mu.”

“Lepaskan!” bentak Minak Gejalo Ratu, mendorong dua pemuda itu, sampai terjungkal ke belakang. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Minak Gejalo Ratu. Ia melompat ke perahu, dan langsung mendayung perahu yang tak bertuan.

Sampailah ia di daratan yang merupakan daerah kekuasaan Sultan Banten. Dari Banten ia berjalan kaki menuju ke Cirebon. Berhari-hari Minak Gejalo Ratu berjalan kaki menuju ke Cirebon. Dengan wajah lusuh, dan tubuh kumal, pemuda keturunan Wali ini langkahnya mulai gontai. Sambil menyeret kaki kirinya yang mulai berceceran darah ia tetap berjalan untuk menemui sang ayah. Rasa lapar dan dahaga kian menggerogoti kerongkongannya.

Tubuhnya terasa remuk, sementara kaki kanannya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia pun jatuh, tersungkur tak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Disaat itulah pemuda tampan dan penuh karismatik tersebut ingat akan pesan Ibunya, yaitu Putri Sinar Alam.

“Berdo’a lah kepada Allah SWT, niscaya apa pun yang kamu inginkan, akan Allah kabulkan.”

Pemuda titisan Sultan Syarief Hidayatullah dengan salah satu cucu Ratu Pugung, yaitu Putri Sinar Alam, segera menengadahkan kedua tangannya, dan mohon memohon kepada Allah SWT.

“Ya Allah, Ya Tuhan ku. Hamba benar-benar lemah. Hamba sudah tak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju Cirebon. Hanya dengan keajaiban-MU lah, hamba akan sampai ke sana. Tolonglah hamba-Mu ini, ya Allah.”

Sungguh ajaib sekali, seketika itu hujan deras mengguyur jalan, mengiringi perjalanan Minak Gejalo Ratu. Dengan bantuan air hujan itu, rasa dahaganya telah sirna, dan kini tubuhnya telah kuat kembali. Rasa remuk yang menyatroni tubuhnya kini telah sirna. Ia kembali berdiri dan berjalan kaki melanjutkan perjalanan. Zikir dan tahlil turut menyertai bibirnya.

Tiba-tiba Minak Gejalo Ratu matanya tertuju pada sebuah bangunan yang ada di hadapannya. Bangunan itu terlihat megah dikelilingi oleh para prajurit jaga. Dengan wajah berbinar-binar, ia mendekati prajurit jaga dan mengaku sebagai Putra Sultan Cirebon.

“Hai prajurit, saya adalah putra dari junjungan kalian, yaitu Sultan Cirebon. Tolong ijinkan saya untuk menemui Kanjeng Sultan.”

“Apa saya tidak salah dengar? Kamu mengaku sebagai putra dari Sultan Syarief Hidayatullah, junjungan kami? Mana mungkin? Hahahaha.” Kata salah satu prajurit jaga itu.

“Benar. Saya adakah Putra dari junjungan kalian. Tolong antar saya menghadap sultan.”

“Kalau kamu benar putra sultan, pasti kamu punya tanda pengenal. Hayo tunjukan kepada kami,” kata prajurit.

“Saya memang tidak punya tanda pengenal. Karena tanda pengenal itu telah dibawa oleh kakak saya.”

“Sudah jangan banyak cingcong. Pergi sana!” bentak prajurit jaga.

“Kalian akan menyesal telah berani membentak saya.”

“Menyesal, kata mu? Hahaha... Ada-ada aja kamu ini,” ujar salah satu prajurit.

Karena tidak diijinkan masuk, Minak Gejalo Ratu berusaha menerobos brigade prajurit jaga, dengan sisa-sisa tenaganya. Maka terjadilah sebuah perkelahian antara Minak Gejalo Ratu dengan prajurit jaga. Mendengar ada keributan dari luar, seorang prajurit kepercayaan Sunan Gunung Jati menghampiri mereka.

“Ada apa ribut-ribut di sini?”

“Pemuda ini mengaku sebagai putra Sultan, Tuan?”

“Benar Tuan adalah Putra dari junjungan kami?” tanya prajurit itu.

“Benar prajurit. Nama hamba Minak Gejalo Ratu, dari Keratuan Pugung. Datang ke sini untuk menemui ayahanda Sultan.”

“Baiklah akan hamba sampaikan ke Kanjeng Sunan. Silahkan tunggu di sini,” ujar prajurit itu lalu menyampaikan kedatangannya kepada Sunan.

Mendengar laporan dari prajurit, Sunan Gunung Jati menyuruh pemuda itu untuk menemuinya. Tak lama kemudian datanglah Minak Gejalo Ratu menghadap Kanjeng Sunan.

“Siapa kamu, hai pemuda tampan?” tanya Sunan Gunung Jati.

“Nama Hamba Minak Gejalo Ratu. Hamba adalah putra Kanjeng Sunan, dari Keratuan Pugung.”

“Tidak mungkin. Kamu bukanlah putra ku. Karena putra ku baru saja pulang dari sini.”

“Hamba memang Putra Kanjeng Sunan. Hamba adalah adik dari kanda Minak Gejalo Bidin.”

“Mana buktinya kalau kamu adalah putra ku?”

“Hamba tidak punya bukti, kanjeng. Karena cincin satu-satunya yang menjadi bukti telah dibawa oleh kanda Minak Gejalo Bidin.”

“Karena kamu tidak bisa menunjukan bukti kepada ku, itu berarti kamu adalah orang yang hanya mengaku-ngaku saja sebagai putraku ku. Prajurit, seret dia keluar dari sini!”

“Tunggu penjelasan hamba, Tuan ku. Benar hamba adalah putra, Tuan ku”

“Tidak mungkin!”

Walaupun Minak Gejalo Ratu telah mengatakan sebagi putranya, dari ibu yang berasal dari keturunan Keratuan Pugung, namun Kanjeng Sunan tetap saja tidak mempercayainya. Karena tidak disertai dengan bukti. Apa lagi baru saja Minak Gejalo Bidin putranya baru saja pulang dari Kesultanan Cirebon.

Sehingga Minak Gejalo Ratu diseret keluar oleh prajurit. Namun demikian putra dari Putri Sinar Alam ini tidak menyerah. Ia kembali memaksa untuk masuk. Prajurit yang berusaha menghalang-halanginya ia libas. Kembali terjadi pertarungan antara Minak Gejalo Ratu dengan prajurit Kesultanan Cirebon. Pertarungan itu membuat prajurit jaga keteteran menghadapi Minak Gejalo Rato. Sehingga prajurit kembali melapor kepada Sultan.

“Ampun beribu-ribu ampun, Tuan ku Sultan. Pemuda yang mengaku putra, Paduka tetap memaksa ingin masuk. Bahkan ia telah membuat keonaran di luar.”

Mendengar laporan dari prajurit, Sultan Syarief Hidayatullah sangat murka sekali. Sehingga wali Allah itu menemui pemuda keras kepala itu.

“Hai pemuda yang mengaku sebagai putra ku? Kenapa kamu terus mamaksa ingin masuk? Mau kamu apa, ha?”

“Hamba hanya ingin Paduka mengakui hamba sebagai putra Paduka?”

“:Bagaimana mungkin saya mengakui kamu sebagai putraku? Sementara putraku sendiri Minak Gejalo Bidin baru saja dari sini? Apa lagi kamu datang ke sini tidak membawa bukti apa-apa!”

“Hamba memang tidak memiliki bukti cincin seperti yang dibawa oleh Kanda Minak Gejalo Bidin, Tuan ku. Tapi hamba punya saksi yang dapat meyakinkan, Paduka?”

“Siapa saksi mu?”

“Allah Subhanahuwata’allah. Dia adalah saksinya.”

Mendengar jawaban dari pemuda yang ada di hadapannya, Syarief Hidayatullah sontak terdiam. Ia memandang tajam pada sosok pemuda itu. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas, lalu meminta kepada Minak Gejalo Ratu untuk membuktikan sebagai putranya.

“Jika kamu adalah anak ku, maka darahmu berwarna putih.”

“Baik, Kanjeng.”

Akhirnya Minak Gejala Ratu mengambil sebutir padi dan menggoreskannya di keningnya. Dari keningnya keluar cairan darah putih menetes membasahi wajahnya. Melihat bukti itu, akhirnya Sunan Gunung Jati yakin kalau Minak Gejalo Ratu adalah putranya.

“Benar, kamu adalah Putra ku. Maafkan, Ayah mu ini Nak,” kata Sultan Sambil memeluk putranya.

Minak Gejalo Ratu menangis haru. Karena perjuangannya untuk meyakinkan ayahnya, telah berhasil. Sejak hari itu juga, Sunan Gunung Jati memberi gelar baru kepada putranya.

“Wahai Putra ku, Minak Gejalo Ratu. Mulai hari ini nama mu adalah Muhammad Aji Saka.”

“Terima kasih Ayahanda Sultan.”

“Dengan sangat menyesal sekali ayah juga minta maaf kepada mu. Ayah tidak bisa mewariskan apa-apa kepada mu. Ayah tidak bisa memberikan barang lain selain peti kecil ini. Karena barang yang berharga lainnya sudah ayah berikan kepada kakak mu, Minak Gejalo Bidin. Terimalah peti ini. Jangan di buka peti ini, saat hati mu merasa tempat yang kamu pijak tidak pas untuk kamu tinggali. Kamu boleh membukanya saat dimana hatimu merasa pas akan tempat itu.”

“Terima kasih, Ayahanda Sultan. Titah Paduka akan hamba laksanakan.”

Muhammad Aji Saka pun pulang ke Lampung, menyebrangi Selat Sunda dengan sebuah perahu kecil milik seorang nelayan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, ia tiba di aliran sungai Way Sekampung (sekarang Kecamatan Sragi Lampung Selatan).

“Dimanakah aku ini? Apakah tempat ini sangat cocok untuk membuka peti pemberian dari ayahanda sultan? Lebih baik aku tanya dulu dengan penduduk yang tinggal di sekitar sini.”

Muhammad Aji Saka pun berusaha mencari tahu tempat yang dimaksud. Ia berjalan mendekati sebuah gubuk kecil yang terletak dekat dengan aliran sungai besar. Dari dalam gubuk ia melihat seorang kakek yang sedang mancing ikan.

“Kakek, kalau boleh tahu apa nama tempat ini?”

“Nama tempat ini adalah Way Sekampung, Anak Muda.”

“Terima kasih, Kek.”

Di Way Sekampung, Muhammad Aji Saka menimbang-nimbang apakah tempat ini, tempat yang cocok untuk membuka peti pemberian ayahnya? Ia berpikir panjang untuk tinggal di tempat itu.

“Apakah tempat ini cocok untuk membuka peti ini? Apakah aku tinggal saja di tempat ini? Ah, aku tidak yakin. Mungkin tempat ini tidak cocok,” kata Muhammad Aji Saka.

Akan tetapi tempat ini dirasa kurang cocok untuk ia tinggal, dan tidak cocok untuk membuka peti pemberian Sunan Gunung Jati. Namun karena rasa penasaran tentang isi peti itu, walaupun tempat itu dirasa tidak cocok, Minak Gejalo Ratu membuka isi peti itu secara perlahan.

“Ya aku buka saja peti ini.” Perlahan ia membuka peti yang dibungkus oleh selembar kain.

Weerr...

“Apa yang keluar dari dalam peti ini? Lebih baik aku tutup saja.”

Minak Gejalo Ratu pun kaget. Dari dalam peti keluar sesuatu yang berterbangan, mirip seperti burung. Muhammad Aji Saka kembali melanjutkan perjalanannya.

“Lebih baik aku cari tempat lain saja. Aku masih ragu tempat ini. Mungkin tempat ini kurang cocok untuk membuka peti ini.”

Muhammad Aji Saka pun kembali melanjutkan perjalanannya. Tibalah ia di suatu tempat. Ia kembali mencari tahu kepada orang yang dijumpainya.

“Mohon maaf, Kisanak. Kalau boleh tahu, apa nama tempat ini?”

“Tempat ini bernama Way Batu Aji, Tuan.”

“Jadi tempat ini bernama Way Batu Aji?”

“Benar, Tuan.”

“Terima kasih, Kisanak,” Muhammad Aji Saka berdiri tersenyum memandang hamparan luas yang ada di hadapannya.

Ia menimbang-nimbang kembali, apakah tempat ini cocok untuk membuka peti yang dibawanya dari Kesultanan Cirebon. Di Way Batu Aji, putra dari Sunan Gunung Jati merasa cocok dan ingin menetap di tempat ini.

Yaitu sebuah desa yang sekarang diberi nama desa kahuripan atau desa kehidupan yang sekarang terletak di Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Di kahuripan itu lah, ia merasa cocok untuk tinggal dan menetap di tempat itu. Lalu ia membuka peti kecil pemberian ayahnya.

“Lebih baik peti ini saya buka di sini saja.”

Ketika peti kecil itu dibuka, isi petinya berterbangan. Dari dalam peti keluar berhamburan dan berterbangan lalu membentuk sebuah pasukan berupa para hulubalang yang tugasnya mengawal Minak Gejalo Ratu atau Muhammad Aji Saka. Mereka langsung sujud dan masing-masing dari pimpinan mereka memperkenalkan diri kepada Minak Gejalo Ratu.

Pasukan pertama dipimpin oleh seorang hulubalang yang berhidung melintang yang dalam bahasa Lampungnya adalah Ikhung Tebak. Mereka segera bersujud dan mohon ampun kepada Minak Gejalo Ratu.

“Ampun Tuan ku. Hamba adalah hulubalang Ikhung Tebak. Hamba bersama pasukan hamba, akan menjaga dan mengabdikan diri untuk Tuan. Hamba siap menunggu perintah.”

Pasukan kedua dipimpin oleh seorang hulubalang yang memiliki hidung mendongak atau Ikhung Cungak. Hulu balang itu pun bersama pasukannya sujud dan menunggu perintah dari tuannya.

“Ampun Tuan, hamba hulubalang Ikhung Cungak bersama pasukan siap menjaga dan mengabdikan diri kepada Tuan. Apa perintah selanjutnya, Tuan?”

Pasukan ketiga dipimpin oleh seorang hulubalang yang memiliki gigi bertaring yang biasa disapa Luah Takhing. Hulubalang itu pun bersama pasukannya langsung sujud dan menanti perintah dari Minak Gejalo Ratu.

“Ampun Tuan ku Aji Saka. Hamba adalah hulubalang Luah Takhing dan pasukan siap mengabdi kepada paduka.”

Pasukan keempat dipimpin oleh seorang hulubalang yang memiliki janggut panjang tidak beraturan, yang biasa disapa Jangguk Khawing. Hulubalang Jangguk Khawing bersama pasukannya segera sujud kepada Putra Sunan Gunung Jati.

“Ampun Tuan ku. Hamba hulubalang Jangguk Khawing siap mengabdikan diri kepada paduka. Kami siap menanti perintah.”

Pasukan kelima dipimpin oleh seorang Hulubalang yang memiliki mulut sompel atau yang biasa disapa Hulubalang Banguk Khabit. Ia pun bersama pasukannya langsung sujud kepada Minak Gejalo Ratu dan siap menunggu perintah.

“Ampun Tuan ku Aji Saka. Hamba Hulubalang Banguk Khabit, siap mengabdi dan siap menunggu perintah dari Tuan ku.”

Pasukan keenaam dipimpin oleh seorang Hulubalang yang memiliki mulut lebar atau Bekhak Banguk. Hulubalang Bekhak banguk pun bersama pasukannya bersimpuh di hadapan Minak Gejalo Ratu atau Muhammad Aji Saka, dan siap mengabdikan diri.

“Ampun Tuan ku. Kami siap mengabdi kepada Tuan.”

Pasukan ketujuh dipimpin oleh seorang Hulubalang yang memiliki mata sipit. Hulubalang Mata sipit pun bersimpuh dihadapan Muhammad Aji Saka dan siap mengawal dan mengabdikan diri.

“Ampun Tuan ku Muhammad Aji Saka, hamba bersujud kepada Tuan dan siap menjadi abdi Tuan.”

Pasukan kedelapan dipimpin oleh seorang Hulubalang yang memiliki mulut mengot atau banguk kicut. Hulubalang Banguk Kicuk Pun bersama pasukannya langsung bersimpuh dan siap menjaga Putra dari Sunan Cirebon dan siap mengabdikan diri.

“Ampun Tuan ku. Hamba memberi hormat kepada Tuan. Terimalah hormat ku ini. Hamba siap menjadi abdi Tuan.”

Begitu juga dengan pasukan kesembilan yang dipimpin oleh Hulubalang yang memiliki paras seperti perempuan yang biasa disapa Pudak Bebai. Hulubalang Pudak Bebai pun langsung bersimpuh dan siap mengabdikan diri kepada Minak Gejalo Ratu.

“Ampun Tuan ku. Hamba siap mengabdi kepada Tuan.”

Pasukan kesepuluh dipimpin oleh seorang Hulubalang yang memiliki mata ngantuk atau mata sipit atau kedugok. Hulubalang Kedugok itu pun langsung bersujud dan menyatakan siap mengabdikan diri untuk menjaga Muhammad Aji Saka.

“Ampun Tuan ku. Hamba memberi hormat. Hamba bersama pasukan siap mengabdi kepada Tuan.”

Sedangkan pasukan kesebelas dipimpin oleh seorang Hulubalang yang memiliki mata sebelah atau mata kicong. Hulubalang Mata Kicong pun melakukan hal yang sama seperti para Hulubalang lainnya. Ia bersama pasukannya, bersujud dan menyatakan siap mengabdi dan menjaga putra dari Syarief Hidayatullah.

“Hulubalang Mata Kicong memberi hormat. Hamba bersama pasukan siap mengabdi kepada Tuan ku Aji Saka.

Ada pun pasukan yang terahir yaitu pasukan kedua belas dipimpin oleh seorang Hulubalang yang memiliki hidung pesek atau ikhung pesek. Tak berbeda dengan Hulubalang lainnya. Hulubalang Ikhung Pesek pun segera bersujud di hadapan Tuannya. Ia bersama pasukannya menyatakan diri untuk menjaga dan mengabdi kepada Minak Gejalo Ratu.

“Hulubalang Ikhung pesek memberi hormat kepada Tuan ku. Terimalah hormat kami. Kami siap mengabdi dan menjaga Tuan ku.”

“Hormat kalian aku terima. Sekarang dengarkan. Aku akan membagi tugas untuk kalian semua.”

Hulubalang Ikhung Melintang bersama pasukannya bertugas menjaga Gunung Rajabasa. Hulubalang Ikhung Cungak bertugas di Tanjung Tua desa Kahuripan atau Kuripan. Sementara Hulubalang Kuah takhing bertugas di keratuan sejak matahari terbit sampai matahari terbenam.

Sementara Hulubalang jangguk Khawing bertugas di Sragi sampai Way sekampung. Hulubalang Banguk Khabit bertugas di gunung Cengkeh selat sunda. Hulubalang Bekhak Banguk bertugas keliling Gunung. Sedangkan Hulubalang Mata Sipit diberi tugas oleh Minak Gejalo Ratu menjaga Batu Payung di desa Ruang Tengah.

Sedangkan Hulubalang Banguk Kicut tugas di Gunung Karang Ruang Tengah. Demikian juga dengan Hulubalang Pudak Bebai. Ia diberi tugas oleh Muhammad Aji Saka untuk menjaga Tanjung Selaki desa Ruang Tengah. Sementara Hulubalang Mata Kedugok bertugas di desa Keratuan sejak matahari terbit sampai matahari terbenam.

Hulubalang Mata Kicong mendapat tugas dari Muhammad Aji saka menjaga desa Tetaan. Sedangkan Hulubalang yang terahir adalah Hulubalang Ikhung Pesek diberi tugas Menjaga desa Sumur Kucing. Masing-masing Hulubalang membawahi dua belas orang prajurit.

Dari kedua belas hulubalang inilah yang akan menjadi pasukan di Keratuan Darah Putih, dalam perjuangannya melawan penjajah Belanda. Pasukan ini juga yang mengawal Ratu Darah Putih dalam mensyiarkan agama islam di Lampung, khususnya di desa Kahuripan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.

Dari sinilah sejarah seni tuping atau topeng lampung, dua belas wajah, yang merupakan simbol kekuatan dan perjuangan Keratuan Darah Putih dimulai. Saat ini keberadaan topeng Lampung, khususnya di Lampung Selatan masih terjaga kelestariannya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post