Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
JURNAL REFLEKSI

JURNAL REFLEKSI

Oleh : Riswo

Facts (Peristiwa)

Saat pertama kali mengikuti kegiatan Calon Guru Penggerak, saya merasa bingung dan sangat cemas. Bingung dan cemas berkecamuk menjadi satu, apa yang harus saya lakukan? Saya harus bagaimana? Pertanyaan demi pertanyaan terbersit dalam benak saya. Dengan perasaan yang serba belum tahu ini saya mulai mengikuti kegiatan Calon Guru Penggerak dengan rasa pasrah. Yang diawali dengan pembukaan, mengupload Pakta Integritas, mengerjakan Pretest, dilanjutkan dengan mempelajari modul demi modul, dan diakhiri dengan menulis refleksi pada LMS. Setelahnya kecemasan ini berangsur-angsur mulai mereda pada sebuah titik dimana hati saya mulai terasa tenang.

Hambatan demi hambatan pun ikut menyatroni kegiatan CGP. Bagaimana tidak? Disaat saya dikejar-kejar oleh waktu untuk terus berusaha mempelajari modul demi modul dan harus menyelesaikan tugas-tugas yang ada di dalamnya, saya harus dapat membagi waktu untuk menyelesaikan perangkat pembelajaran, mengikuti kegiatan monev di sekolah serta melakukan supervisi kelas.

Saya juga harus dapat membagi waktu mengajar di kelas seperti biasanya. Bukan itu saja, saya pun harus mengikuti diklat-diklat lainnya, yang waktunya bertabrakan dengan kegiatan zoom CGP. Kegiatan ini sudah barang tentu sangat menyita waktu saya, dan waktu 24 jam rasanya kurang untuk membuat semua ini terselesaikan secara bersamaan. Hal ini membuat tenaga dan pikiran saya terporsir. Akibat tenaga dan pikiran saya terporsir, tubuh saya mulai gemetar dibarengi dengan panas dingin, serasa nano-nano.

Feelings (Perasaan)

Wal hasil setelah membaca dan mempelajari modul demi modul, saya justru merasa tertantang dan tak sabar ingin membaca modul-modul berikutnya yang masih terkunci dan belum bisa dibuka. Setelah mempelajari modul-modul yang di dalamnya berisi tentang pemikiran-pemikiran dari Ki Hajar Dewantara, saya mendapatkan pengalaman baru. Pengalaman baru ini tidak saya sia-siakan dan saya mulai mencoba mempraktekannya di kelas berupa aksi nyata.

Alhamdulillah pembelajaran di kelas terlihat sangat aktif, dan peserta didik terlihat sangat antusias sekali. Salah satunya saya menerapkan model pembelajaran diferensiasi yang sudah barang tentu sangat melelahkan. Karena selama sehari penuh saya terus mempraktekan aksi nyata ini di setiap kelas. Saya harus membimbing satu persatu peserta didik saya dari mulai pukul **(censored)**Selama itu pula saya harus mondar-mandir menghampiri peserta didik saya untuk melakukan bimbingan.

Jika kegiatan mondar-mandir selama seharian ini, dan langkah kaki saya ini saya gabungkan menjadi satu seperti orang yang sedang menempuh perjalanan, sudah barang tentu selama sehari penuh saya menempuh perjalanan berkilo-kilo meter. Cukup meletihkan bukan? Tapi ini adalah sebuah perjuangan yang harus dijadikan sebuah komitmen dalam menjalani profesi sebagai seorang pendidik.

Findings (Pembelajaran)

Setelah mengikuti kegiatan Calon Guru Penggerak, saya mendapat banyak pengalaman baru. Yaitu sebuah pengalaman yang selama ini belum pernah saya dapatkan. Salah satunya berupa pembelajaran yang berhamba kepada peserta didik. Di sisi lain, setelah mempelajari modul-modul yang berisi tentang pemikiran-pemikiran dari Ki hajar Dewantara, membuat saya sadar akan kekurangan dan kelemahan saya selama ini ketika saya mengajar di kelas.

Pengalaman baru yang telah saya dapat, mengenai pemikiran dari Ki Hajar Dewantara antara lain peserta didik ini diibaratkan seperti sebuah benih. Sedangkan guru diibaratkan seperti seorang petani. Benih akan tumbuh dengan baik jika petani menyemai atau menanam benih-benih tersebut pada lahan yang subur, cukup air serta cukup sinar matahari. Petani juga harus memberinya pupuk dan membasmi semua jenis hama dan penyakit yang akan mengganggu tumbuh kembangnya benih yang kita tanam.

Demikian juga perlakuan seorang guru dalam memberikan pengajaran kepada peserta didik. Guru harus berhamba kepada peserta didik, dan fokus kepada peserta didik. Menuntun dan membimbing mereka sesuai dengan kodratnya. Seperti kodrat benih padi dan kodrat benih jagung yang sudah barang tentu memiliki kodrat yang berbeda. Benih padi harus disemai atau di tanam pada lahan yang lebih banyak airnya. Sementara benih jagung harus ditanam pada lahan di darat yang membutuhkan sedikit air.

Jangan menuntut peserta didik yang kurang cerdas di bidang tertentu (diumpamakan benih jagung) untuk menjadi peserta didik yang cerdas seperti benih padi. Kembalikan peserta didik kita ke kodratnya masing-masing. Kita harus tahu akan kebutuhan peserta didik sejumlah peserta didik yang ada di kelas.

Future (Penerapan)

Setelah saya mempelajari modul-modul tentang CGP, pada akhirnya saya menjadi tahu tentang pemikiran-pemikiran dari Ki Hajar Dewantara sebagai pelopor pendidikan di indonesia. Saya akan berusaha menerapkannya dalam bentuk aksi nyata di kelas secara berkesinambungan. Setelah melakukan pembelajaran di kelas, peserta didik akan saya ajak untuk melakukan refleksi tentang pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Demikian juga dengan cara mengajar saya, guna perbaikan-perbaikan dimasa yang akan datang, yang pada akhirnya disetiap pembelajaran akan terlaksana sebuah pembelajaran yang lebih baik dari sebelumnya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post